yasa peksi burak jejak nilai islam dalam tradisi keraton yogyakarta - News | Good News From Indonesia 2026

Yasa Peksi Burak, Jejak Nilai Islam dalam Tradisi Keraton Yogyakarta

Yasa Peksi Burak, Jejak Nilai Islam dalam Tradisi Keraton Yogyakarta
images info

Yasa Peksi Burak, Jejak Nilai Islam dalam Tradisi Keraton Yogyakarta


Di tengah derasnya arus modernisasi Kota Yogyakarta, sebuah tradisi yang kaya akan nilai-nilai tetap terpancar di dalam Keraton. Setiap tanggal 27 bulan Rejeb, bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj, Keraton Yogyakarta menggelar Hajad Dalem Yasa Peksi Burak.

Perayaan ini bukan sebatas upacara adat belaka, melainkan sebuah prosesi yang penuh dengan penghayatan nilai-nilai spiritual, religi, dan ajaran Islam yang bersatu padu dengan budaya Jawa.

Simbolisme dan Nilai-Nilai Yasa Peksi Burak

Yasa berarti mengadakan atau membuat, Peksi berarti burung, sementara Buraq atau Burak adalah wujud yang dipercayai sebagai kendaraan Nabi Muhammad SAW ketika peristiwa Isra Mikraj.

Isra Mikraj merupakan peristiwa perjalanan Nabi Muhamad SAW dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa, naik melintasi langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha.

Prosesi Hajad Dalem Yasa Peksi Burak dimulai dengan membuat Peksi Burak, pohon buah, dan empat pohon bunga. Peksi Burak sendiri terbuat dari buah dan kulit jeruk bali. Kulit buah tersebut diukir dan dibuat menyerupai sepasang burung, yaitu burung jantan dan betina.

baca juga

Untuk membedakan antara keduanya, burung jantan akan ditambahkan jengger. Setiap burung akan ditempatkan di atas sarang sebagai tempat hinggap, yang terbuat dari rangkaian daun kemuning.

Pohon buah terbuat dari tujuh jenis buah lokal yang dirangkai pada anyaman bambu, sehingga membentuk serupa dengan pohon. Secara berurutan dari atas ke bawah, tujuh jenis buah tersebut meliputi salak, sawo, apel malang, jeruk bali, rambutan, manggis, dan pisang raja.

Menurut R. Ilham Bima Sena (RB Widya Cakradisastra), salah seorang abdi dalem Keraton, pisang raja yang terletak paling bawah menyimbolkan Ngarsa Dalem sebagai Raja Keraton Yogyakarta. Penempatan pisang raja yang bukan di bagian atas memperlihatkan bahwa sosok raja memiliki tanggung jawab besar dalam segala urusan keraton sekaligus sekaligus pengayom rakyat.

Penggunaan buah dalam rangkaian Peksi Burak juga dipandang sebagai momentum rasa syukur atas hasil bumi, sehingga rasa syukur tersebut dapat dinikmati oleh siapapun.

Empat pohon bunga terbuat dari dedaunan dan berbagai jenis bunga yang dirangkai pada rangka bambu. Pohon bunga ini menyimbolkan taman surga. Seluruh rangkaian Peksi Burak menyimbolkan sepasang burung betina dan jantan yang tengah hinggap pada pohon buah di taman surga.

Simbol Burak juga menjadi pengingat akan kebesaran Sang Khalik serta perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, sekaligus perintah salat lima waktu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam.

Yasa Peksi Burak diselenggarakan sejak pagi hari di Bangsal Sekar Kedhaton, yang berlokasi di Kompleks Keputren. Proses ini dilakukan oleh para Sentana Dalem (kerabat dekat Sultan) dan Abdi Dalem Keparak (abdi dalem wanita).

Jalannya Yaksa Peksi Burak akan dipimpin oleh permaisuri atau putri sulung sultan. Pembuatan Peksi Burak, termasuk pohon buah hingga merangkai bunga melati dan kantil, hanya dapat dilakukan oleh kerabat dekat sultan (isteri pangeran, cucu, dan sebagainya).

"Abdi Dalem Keparak tidak membuat langsung rangkaian Peksi Buraq, melainkan membantu atau melayani jika dimintai tolong. Untuk Abdi Dalem Kakung tidak terlibat dalam pembuatan Peksi Buraq, kecuali saat proses arak-arakan menuju Masjid Gedhe." ujar R. Ilham Bima Sena (RB Widya Cakradisastra).

baca juga

Peksi Burak yang sudah selesai dibuat akan diarak menuju Masjid Gedhe setelah salat Asar. Abdi Dalem Punokawan Kaji akan memimpin doa bersama sebelum dimulainya arak-arakan.

Peksi Burak akan diarak oleh Abdi Dalem Suranata melalui halaman tengah keraton, keluar lewat Regol Kamandungan Lor, melalui Jalan Rotowijayan, lalu menuju Masjid Gedhe. Setibanya di lokasi, Peksi Buraq akan diserahkan kepada Abdi Dalem Pengulon.

Penyerahan Peksi Burak lalu diikuti dengan doa permohonan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi Keraton Yogyakarta dan rakyatnya. Selepas diterima dan didoakan, abdi dalem yang membawa arak-arakan tersebut akan pulang kembali ke Keraton.

Peringatan Isra Mikraj di Masjid Gedhe diselenggarakan setelah salat Isya. Prosesi ini akan dihadiri oleh para abdi dalem hingga masyarakat umum. Para hadirin yang tiba akan duduk mengelilingi Peksi Burak.

Kiai Pengulu kemudian membacakan riwayat Isra Mikraj dengan menggunakan bahasa Jawa. Pembacaan doa hingga riwayat Isra Mikraj ini memperlihatkan wujud harmonisasi Islam dan budaya Jawa.

Prosesi diakhiri dengan pembagian buah-buahan yang terdapat pada rangkaian Peksi Burak kepada seluruh masyarakat yang datang. Hal ini menandai pula berakhirnya rentetan Yasa Peksi Burak di Keraton Yogyakarta.

"Buah-buahan yang dibagikan kepada masyarakat menyimbolkan rasa syukur dan keberkahan. Seluruh elemen masyarakat hingga abdi dalem boleh meminta berkatnya dari buah yang dibagikan." kata R. Ilham Bima Sena (RB Widya Cakradisastra)

MenjagaWarisandiEraModern

Di tengah gempuran modernisasi, tradisi seperti Peksi Burak mengalami tantangan berupa menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal. Meskipun begitu, eksistensi tradisi ini tetap relevan sebagai penghubung antara nilai-nilai religi dan jati diri budaya. Usaha pelestarian yang mengikutsertakan seluruh pihak, termasuk generasi muda menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan tradisi ini.

Apalagi Kawan, Yasa Peksi Burak telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020.

"Kita tidak bisa menggiring dan memaksa generasi muda untuk melek dan tahu menahu terhadap budaya lokal, karena kesadaran dan inisiatif ini datang dari diri sendiri. Namun, Keraton Yogyakarta dengan segala ikhtiarnya terus menjaga dan melestarikan budaya lokal, tentu dengan mengikuti perkembangan zaman.." pungkas R. Ilham Bima Sena (RB Widya Cakradisastra).

Yasa Peksi Burak mungkin akan terus berkembang, seiring berkembangnya zaman. Namun, selama nilai-nilai dan makna dibaliknya tetap hidup, tradisi ini akan terus relevan untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Peksi Burak adalah ruang hidup nilai-nilai Islam berkelindan dengan budaya, yang hadir dalam simbol, kebersamaan, dan gerak. Tradisi ini menjadi tanda nyata bahwa budaya lokal berperan besar dalam merawat keserasian kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.