JP Morgan Asset Management merilis laporan terbaru mereka yang bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock 0f 2026 yang membahas dampak perang terhadap infrasruktur energi di Selat Hormuz pada pasar energi global, ekonomi, dan pasar ekuitas.
Ditulis oleh Michael Cembalest, Chairman of Market and Investment Strategy JP Morgan Asset Management, laporan itu menganalisis bagaimana konflik Timur Tengah berdampak besar pada energi dunia, di mana 20 persen pasar minyak global menjadi terganggu.
Kawan GNFI, konflik Timur Tengah membawa dampak riil di berbagai sektor, seperti gangguan pasokan bahan baku untuk petrokimia, naiknya harga pupuk jenis urea dan amonia (negara-negara Teluk merupakan eksportir utama komoditas ini), hingga lonjakan harga minyak.
Terdapat 52 negara yang dianalisis tingkat kerentanannya terhadap kenaikan harga minyak dan gas, termasuk Indonesia. Menariknya, hasil laporan menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara paling tangguh menghadapi gejolak energi dunia imbas perang Timur Tengah.
Indonesia bahkan mendapatkan presentase lebih tinggi dibandingkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Australia, dan sebagainya. Lalu, apa penyebab Indonesia didaulat sebagai salah satu negara paling tahan pada guncangan energi dunia?
Batu Bara Jadi Kunci Ketahanan Energi Indonesia
Merangkum dari laporan resmi JP Morgan Asset Management, terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat resiliensi 52 negara yang mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi dunia, yaitu indikator total insulation factor yang meliputi produksi gas domestik, produksi batu bara domestik, pembangkit nuklir, dan energi terbarukan, sebagai persentase dari useful final energy nasional.
Kekuatan ketahanan energi Indonesia ditopang oleh kontribusi produksi batu bara yang memenuhi sekitar 48 persen konsumsi energi akhir nasional. Sementara itu, gas bumi domestik tercatat di angka 22 persen dan energi terbarukan sebesar tujuh persen.
Indonesia juga dimasukkan dalam kelompok negara-negara yang mendapatkan manfaat substansial dari produksi batu bara domestik di tengah guncangan energi saat ini. Beberapa negara itu yang ada dalam daftar adalah iongkok, India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina.
Lebih lanjut, disadur dari situs Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Indonesia juga memiliki tingkat eksposur langsung yang sangat rendah pada jalur distribusi energi global. Meskipun Indonesia merupakan negara yang aktif mengimpor minyak dan gas, ternyata distribusi dari Selat Hormuz hanyalah menyumbang sekitar satu persen dari total konsumsi energi primer nasional.
Jumlah ini sangat jauh dibandingkan negara-negara Asia Timur yang menjadikan Timur Tengah sebagai ladang impor minyak dan gas mereka. Bahkan, jika dibandingkan dengan Tailand dan Singapura pun, Indonesia kuantitas impor Indonesia dari Timur Tengah sangat jauh berbeda.
Sebagai informasi, pemerintah sudah melakukan diversifikasi impor minyak dan gas dari negara lain untuk mengamankan pasokan akibat konflik. Beberapa negara yang memasok minyak mentah untuk Indonesia adalah Amerika Serikat, Nigeria, Angola, serta Brasil.
Daftar Negara yang Paling Tangguh Menghadapi Gejolak Energi
Berikut adalah daftar 10 negara yang disebut paling tangguh menghadapi gejolak energi tahun 2026 menurut JP Morgan:
- Afrika Selatan – 79 persen
- Indonesia – 77 persen
- Tiongkok – 76 persen
- Uzbekistan – 71 persen
- Amerika Serikat – 70 persen
- Australia – 68 persen
- Swedia – 66 persen
- Pakistan – 65 persen
- Rumania – 64 persen
- Peru – 63 persen
Guncangan energi dunia menjadi pengingat bahwa ketahanan sebuah negara tidak hanya diukur dari seberapa banyak cadangan minyaknya, tapi bagaimana cara negara tersebut mengelola efisiensi serta diversifikasi energinya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


