28 Februari 2026 menandai babak baru dalam gejolak geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada dunia. Tepat di tanggal tersebut, terjadi serangan militer unilateral Israel dengan sekutu terdekatnya, Amerika Serikat, terhadap Iran.
Akibatnya, korban jiwa berjatuhan. Berbagai infrastruktur sipil dan militer pun hancur. Bahkan, situs budaya bersejarah di Iran ikut terdampak nyata.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut, tindakan brutal AS-Israel ini melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Pasal 2 (4) tentang larangan penggunaan kekuatan terhadap kedaulatan negara.
Sebagai informasi, konfik yang melibatkan tiga negara itu sejatinya bukanlah konflik yang terjadi belakangan, melainkan sudah selama beberapa dekade. BRIN merangkum, ada beberapa sebab musabab meletusnya konflik di akhir Februari 2026 itu, seperti tudingan program nuklir Iran, persaingan geopolitik dan energi, isu Palestina, intervensi Barat di Timur Tengah, dan rivalitas Sunni-Syiah.
Potensi Konflik yang Meluas
Pasca-serangan AS-Israel, Iran tak tinggal diam. Iran menyerang beberapa pangkalan militer yang diklaim merupakan AS di Timur Tengah.
Tanpa adanya de-eskalasi, konflik ini berpotensi akan meluas dan menjadi konflik berkepanjangan. Konflik Iran vs AS-Israel pun berdampak besar bagi dunia, termasuk Indonesia.
BRIN mencatatkan, setidaknya ada lebih dari 153 ribu Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di 12 negara Timur Tengah yang terdampak. Selain itu, mobilitas jemaah umrah di Arab Saudi juga sempat terganggu akibat serangan itu.
Di sisi lain, sebagai salah satu importir minak mentah, Indonesia ikut merasakan dampak dari ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran. Bahkan, hingga tulisan ini dibuat, kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di Teluk Arab dan belum bisa melintasi Selat Hormuz.
Ekonomi domestik ikut terdampak, di mana terdapat potensi kenaikan harga minyak. Selain itu, rupiah pun tertekan dan terjadinya volatilitas pasar saham.
Melihat hal ini, BRIN pun menyerukan agar Indonesia tetap perlu berpijak pada amanat UUD 1945 untuk menjaga ketertiban dunia dan perdamaian. Indonesia juga didorong untuk tetap bermanuver dalam koridor bebas aktif, serta menolak intervensi militer asing.
Indonesia bisa mengambil cara-cara yang lebih elegan dalam merespons dinamika konflik saat ini. BRIN juga menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai jembatan diplomasi.
Rekomendasi Kebijakan BRIN
Dalam sebuah policy brief yang disusun oleh Klaster Politik Luar Negeri dan Isu-isu Internasional Pusat Riset Politik BRIN yang bertajuk Posisi dan Strategi Indonesia di Tengah Konflik Timur Tengah Pasca Serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran, terdapat beberapa rekomendasi kebijakan yang diberikan oleh BRIN, di antaranya:
- Mengecam serangan Israel-AS ke Iran dan meminta Iran mematuhi prinsip proporsionalitas dan hukum humaniter internasional.
- Menjunjung tinggi politik luar negeri bebas aktif dengan tidak berpihak secara politik dan militer. Namun, harus tetap aktif dalam mendorong perdamaian.
- Menyiapkan skenario penyelamatan dan pemulangan massal WNI dari negara terdampak konflik.
- Memitigasi hambatan suplai minyak dan kenaikan harga melalui tata kelola yang lebih efektif serta sumber energi alternatif.
- Mengimbau semua pihak agar menahan diri dari penggunaan kekuatan militer dan mengedepankan diplomasi.
- Menggandeng ASEAN, negara P5 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), negara sahabat, serta organisasi regional dan internasional untuk solusi jangka panjang.
- Mendorongn penyusunan Code of Conduct keamanan kawasan Timur Tengah dengan mengadaptasi TAC ASEAN.
- Memastikan kesiapan tata kelola pengungsi luar negeri di Indonesia.
- Mendesak PBB mengusut kematian prajurit TNI dalam misi UNIFIL sekaligus mengevaluasi prosedur keamanan pasukan perdamaian.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


