Setiap April, Kawan GNFI kembali menyebut satu nama yang sama Kartini. Kutipan-kutipannya memenuhi linimasa, kebaya dikenakan di sekolah dan kantor, kata "merdeka" terasa begitu akrab di telinga. Namun di tengah perayaan itu, ada satu pertanyaan yang terus menggantung apakah perempuan Indonesi hari ini benar-benar sudah merdeka?
Jika Kawan GNFI melihat dipermukaan, jawabanny tampak optimistis. Data menunjukkan semakin banyak perempuan Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat partisipasi perempuan dalam pendidikan dan dunia kerja terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Kawan GNFI juga menyaksikan semakin banyak perempuan menduduki posisi strategis dari Menteri, pemimpin perusahaan, hingga pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung keluarga.
Di ruang digital, suara perempuan pun semakin lantang. Media sosial menjadi ruang baru untuk berbagi pengalaman, membangun komunitas, hingga mengadvokasi isu-isu seperti kesetaraan berbasis gender. Sekilas, ini tampak potret kemerdekaan yang sudah semakin utuh.
Namun, cerita di balik layar tidak selalu sesedarhana itu. Ambil contoh di dunia kerja. Meski partisipasi meningkat, kesenjangan tetap terasa. Perempuan masih cenderung menerima upah lebih rendah dibanding laki-laki untuk pekerjaan yang setara. Belum lagi soal "double bourden" tuntutan untuk tetap produktif di kantor. Sekaligus menjadi penanggung jawab utama urusan domestik di rumah. Tidak sedikit perempuan yang akhirnya harus memilih mengejar karir atau memenuhi ekspektasi sosial sebagai "perempuan ideal".
Di sisi lain, pilihan personel perempuan juga kerap menjadi bahan penilaian publik. Perempuan yang fokus berkarir dianggap "terlalu ambisius", sementara yang memilih menjadi ibu rumah tangga sering dipandang "kurang berdaya". Seolah-olah apa pun pilihannya selalu standar yang belum terpenuhi.
Belum lagi isu keamanan dan kekerasan. Laporan Komnas Perempuan dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa kasus kekerasan berbasis gender masih menjadi persoalan serius. Bentuknya beragam dari kekerasan dalam rumah tangga hingga pelecahan di ruang publik dan digital. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa rasa aman, yang seharusnya menjadi bagian mendasar kemerdekaan, belum sepenuhnya dirasakan semua perempuan.
Meski begitu, bukan berarti tidak ada harapan. Hari ini, semakin banyak perempuan yang berani bersuara dan mengambil peran. Dari komunitas kecil di daerah hingga gerakan nasional, perempuan Indonesia aktif mendorong perubahan. Mereka tidak hanya menuntut ruang, tetapi juga menciptakan ruang baik untuk diri senditi maupun generasi berikutnya.
Kawan GNFI bisa melihatnya dari banyak hal sederhana perempuan yang berani melaporkan pelecehan, pekerjaan yang mulai menegosiasikan haknya, hingga generasi muda yang lebih terbuka membicarakan kesetaraan. Hal ini mungkin tidak selalu terlihat besar, tetapi dampaknya nyata.
Di titik ini, mungkin perlu memaknai ulang arti "merdeka". Bukan sebagai status yang sudah selesai dicapai, melainkan sebagai proses yang terus berjalan. Kemerdekaan bukan hanya soal akses, tetapi juga soal rasa aman, kebebasan memilih, dan kesempatan yang benar-benar setara.
Mungkin, pertanyaan "apakah perempuan Indonesia sudah merdeka?" tidak membutuhkan jawaban ya atau tidak. Karena kenyataannya, kita sedang berada di tengah proses itu diantara kemajuan yang patut dirayakan dan pekerjaan rumah yang belum selesai.
Kartini pernah membayangkan masa depan di mana perempuan bisa berpikir, belajar dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Hari ini sebagian dari mimpi itu sudah terwujud. Namun, tantangannya kini berubah bentuk lebih halus, lebih kompleks, dan sering kali tidak terlihat.
Di situlah peran kita menjadi penting. Bukan hanya untuk merayakan simbol, tetapi juga untuk terus mendorong perubahan dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan kita. Dari cara kita bersikap di lingkungan keluarga, bagaimana kita membangun budaya kerja yang lebih adil di tempat kerja, hingga bagaimana kita berinteraksi dan merespons isu di ruang digital. Perubahan tidak selalu harus besar dan revolusioner sering kali hadri dalam keputusan-keputusan kecil yang konsisten menghargai pilihan perempuan tanpa menghakimi, membuka ruang dialog yang setara, serta berani menantang pandangan yang selama ini dianggap "biasa" padahal membatasi.
Lebih jauh lagi, perubahan juga berarti kesediaan untuk terus belajar dan mengoreksi diri. Cara kita memandang perempuan baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat membentuk realitas yang mereka hadapi setiap hari. Ketika perspektif itu berubah menjadi lebih adil dan setara, maka ruang-ruang baru pun ikut terbuka.
Karena pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang sesuatu yang diwariskan dari masa lalu atau dirayakan dalam seremoni tahunan. Akan tetapi, proses yang hidup, yang harus terus diperjuangkan dan dijaga setiap hari, dalam berbagai bentuk, oleh siapa saja, termasuk kita.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


