Sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak hanya diisi oleh nama-nama laki-laki. Di balik gelora perlawanan terhadap kolonialisme, ada sosok perempuan tangguh yang namanya hampir tenggelam bernama Nyi Ageng Serang.
Nyi Ageng Serang adalah Pahlawan Nasional wanita, panglima perang di usia senja, dan nenek Ki Hajar Dewantara. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa perempuan Indonesia mampu memimpin di medan laga, bahkan saat dunia belum mengenal kata emansipasi.
Dari Istana ke Medan Perang, Asal-Usul Nyi Ageng Serang
Nyi Ageng Serang lahir dengan nama Raden Ajeng Kustiah Wulaningsih Retno Edi pada tahun 1752 di Desa Serang, wilayah perbatasan Grobogan-Sragen, Jawa Tengah.
Ia adalah putri bangsawan. Ayahnya, Pangeran Natapraja, merupakan penguasa daerah Serang sekaligus panglima perang Sultan Hamengku Buwono I.
Sejak kecil, Kustiah tidak hanya dididik tata krama istana, tetapi juga ilmu bela diri, strategi perang, dan keprajuritan bersama para prajurit pria.
Pada usia 16 tahun, ia bergabung dengan Korps Nyai di Keraton Yogyakarta, sebuah pasukan khusus pengawal pribadi raja yang seluruhnya perempuan. Di sinilah bakat militernya terasah, dan ia mendapatkan gelar kehormatan Nyi Ageng.
Panglima Perang di Usia 73 Tahun, Peran dalam Perang Diponegoro
Ketika perang Jawa (1825–1830) terjadi, Nyi Ageng Serang sudah berusia 73 tahun. Namun, semangatnya tidak pudar. Menggunakan tandu sebagai moda transportasi, ia memimpin pasukan yang dikenal sebagai semut ireng sekitar 500 prajurit perkasa.
Pangeran Diponegoro sendiri mengutus seorang perwakilan khusus untuk meminta dukungan Nyi Ageng Serang, karena ia sangat menyadari kemahirannya dalam taktik perang. Ia tidak hanya memimpin di barisan depan, tetapi juga ditunjuk sebagai penasihat umum Perang Jawa.
Pasukannya melancarkan gerilya di daerah Purwodadi, Demak, Semarang, Juwana, Kudus, sampai Rembang. Ia bahkan diminta untuk mendekati Yogyakarta dan bermarkas di Prambanan guna memberikan saran langsung kepada Sultan Hamengku Buwono II.
Strategi Brilian yang Mengelabui Belanda, Taktik “Godhong Lumbu”
Salah satu strategi paling terkenal yang digunakan oleh Nyi Ageng Serang adalah taktik “godhong lumbu” (daun talas hijau). Dalam strategi ini, setiap prajurit menggunakan daun talas berukuran besar sebagai payung kamuflase ketika berlindung di tengah sawah atau ladang.
Dari jauh, pasukan Belanda hanya memandang luasnya daun hijau, tanpa mengetahui bahwa di baliknya terdapat ratusan prajurit yang siap melancarkan serangan.
Ia juga dikenal dengan taktik “Serangan Hanoman” sebuah serangan mendadak di malam hari oleh unit kecil yang lenyap secepat kemunculannya, membuat Belanda frustrasi karena tidak pernah mengetahui dari arah mana serangan berikutnya akan datang.
Nenek dari Ki Hajar Dewantara, Darah Pahlawan Mengalir dalam Keluarga
Fakta yang jarang diketahui bahwa Nyi Ageng Serang adalah nenek buyut dari Ki Hajar Dewantara, pahlawan pendidikan nasional. Ki Hajar Dewantara, yang bernama asli R.M. Soewardi Surjaningrat, lebih dulu dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1959 berkat jasanya di dunia pendidikan.
Sementara sang nenek baru mendapatkan gelar yang sama pada 13 Desember 1974 melalui Keppres No. 084/TK/1974. Keturunan mereka juga masih menyambung hingga ke Sunan Kalijaga, karena Nyi Ageng Serang merupakan salah satu keturunan Wali Songo.
Mengapa Layak Menyandang Gelar Pahlawan Nasional?
Nyi Ageng Serang merupakan satu-satunya wanita yang menjalankan tugas sebagai jenderal perang dalam Perang Jawa. Ia dikenal sebagai "Lonjong Mimis" dan "Diraja Meta", seperti ledakan peluru yang mengoyak pertahanan lawan.
Berbeda dengan sebagian besar wanita aristokrat pada masanya yang tetap di istana, ia mengambil keputusan untuk hidup di antara rakyat, mengerti kesedihan mereka, dan mengangkat senjata untuk mempertahankan negara.
Nyi Ageng Serang meninggal dunia pada tahun 1828 saat berusia 76 tahun dan dikebumikan di Padukuhan Beku, Kalibawang, Kulon Progo. Saat ini, Tim Ahli Cagar Budaya Kulon Progo mengusulkan makamnya menjadi Cagar Budaya Peringkat Kabupaten.
Mengenangnya di Hari Kartini, Refleksi atas Minimnya Pahlawan Perempuan
Data Kementerian Sosial terakhir menunjukkan bahwa dari total 206 Pahlawan Nasional, hanya 16 orang atau sekitar 8 persen yang merupakan perempuan.
Nyi Ageng Serang adalah bukti bahwa perempuan Indonesia mampu menjadi pemimpin perang, ahli siasat, dan inspirasi bagi generasi penerus.
Di Hari Kartini, kita tidak hanya merayakan emansipasi, tetapi juga meneladani sosok-sosok seperti Nyi Ageng Serang yang telah berjuang dengan nyata, bukan sekadar gagasan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


