Ada sebuah cerita rakyat dari Sumatera Utara yang mengisahkan tentang legenda asal usul Kampung Guntung yang ada di daerah Batu Bara. Konon Kampung Buntung ini merupakan kampung pertama yang ada di daerah tersebut dulunya.
Pada zaman dahulu, wilayah Kampung Guntung ini merupakan hutan belantara yang tidak dihuni oleh manusia. Kedatangan para pendatang dari Kerajaan Pagaruyung menjadi awal dari kisah terbentuknya Kampung Guntung.
Para pendatang inilah yang pertama kali membuka hutan tersebut untuk pemukiman. Lama kelamaan makin ramai orang yang datang dan menetap di kampung tersebut.
Bagaimana kisah lengkap dari legenda asal usul Kampung Guntung yang ada di daerah Batu Bara?
Legenda Asal Usul Kampung Guntung di Batu Bara, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
Dikutip dari buku Antologi Cerita Rakyat Batu Bara, alkisah pada zaman dahulu daerah Kampung Guntung hanyalah berupa hutan belantara. Kampung ini baru tercipta ketika ada empat orang pendatang yang datang dari Kerajaan Pagaruyung ke daerah tersebut.
Keempat orang pendatang ini datang bersama ke daerah Batu Bara. Begitu tiba di sana, mereka berpencar ke berbagai tempat yang ada di Batu Bara.
Para pendatang ini menyebar ke berbagai daerah. Adapun empat daerah yang dihuni oleh para pendatang ini adalah Tanah Datar, Daerah Ujung, Daerah Pesisir, dan Guntung.
Pada awalnya, Kampung Guntung ini diberi nama Kampung Baru. Di kampung ini ada sebuah pematang yang banyak ditumbuhi oleh pohon embacang.
Lama kelamaan, pohon embacang ini menjadi buntung karena dimakan oleh hewan. Atas dasar inilah, kampung tersebut kemudian diberi nama Ambacang Puntung, yang kemudian dikenal dengan nama Kampung Guntung.
Kampung Guntung juga menjadi kampung pertama yang ada di Batu Bara. Seiring berjalannya waktu, mulai banyak orang yang datang dan berdiam di daerah tersebut.
Di masa lalu, ada juga empat orang tokoh yang membuka madrasah di wilayah Batu Bara. Keempat tokoh tersebut adalah Moyang Katibsyah, Moyang Soko, Imam Jawab, dan Tuk Ali.
Moyang Katibsyah membuka madrasah di Kampung Guntung. Tuk Tuban membuka madrasah di Lima Laras.
Moyang Soko membuka madrasah di Bagan Asahan. Sementara itu, Tuk Ali tidak diketahui membuka madrasah di mana.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat yang mendiami daerah Kampung Guntung makin ramai. Akhirnya dipilihlah salah seorang di antara mereka untuk menjadi penghulu.
Moyot kemudian diangkat menjadi penghulu pertama Kampung Guntung. Moyon merupakan seorang perempuan yang datang dari Pulau Samosir.
Dirinya diketahui bermarga Manik. Setelah masuk Islam, dirinya kemudian diangkat menjadi penghulu Kampung Gunung.
Moyot juga diakui menjadi penghulu di Kampung Sontang dan Kampung Lima Laras. Pada waktu itu, kedua kampung ini masih menjadi bagian dari Kampung Guntung.
Lama kelamaan daerah Kampung Sontang dan Kampung Lima Laras juga makin ramai dihuni oleh penduduk yang datang. Akhirnya kedua kampung ini memisahkan diri dan memilih penghulunya sendiri.
Dari ketiga kampung tersebut, Kampung Guntung memiliki wilayah yang paling luas. Hutan-hutan yang ada di sana terus dibuka untuk menjadi wilayah pemukiman.
Suatu ketika masyarakat membuka lahan dengan membakar pokok nibung. Ternyata api yang melahap pokok nibung ini terus menyala selama enam bulan lamanya.
Alhasil daerah tersebut kemudian diberi nama Kampung Nibung Hangus. Di dekat sana juga ada pemukiman yang dihuni oleh orang Kubu, sehingga kampung tersebut diberi nama Ujung Kubu.
Begitulah kisah di balik legenda asal usul nama Kampung Guntung beserta kampung-kampung lain yang ada di sekitarnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


