Semangat kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat desa kembali diwujudkan dalam sebuah kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang penuh makna. Berlangsung pada 17–18 April 2026, sejumlah perguruan tinggi dari berbagai daerah bersatu untuk memperkuat tata kelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta mendorong pengembangan wisata geologi di Desa Kasomalang Kulon, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Kolaborasi Lintas Kampus yang Komprehensif
Kegiatan ini bukan sekadar program rutinitas akademik biasa. Ia merupakan wujud nyata dari tanggung jawab sosial perguruan tinggi dalam memberdayakan masyarakat secara langsung dan terukur.
Beberapa institusi pendidikan tinggi terkemuka turut serta dalam program ini, di antaranya STEBank YAPI, STIE Jayakarta, UPI YAI, Universitas Pakuan, Universitas Bina Nusantara, Politeknik Piksi Input Serang, Universitas Nusa Cendana, serta sejumlah kampus lainnya.
Keterlibatan berbagai institusi dengan latar belakang keilmuan yang beragam menjadikan program pendampingan ini jauh lebih kaya perspektif. Mulai dari aspek manajemen bisnis, keuangan, hingga pengembangan pariwisata berbasis alam, semua terangkum dalam satu kegiatan terpadu yang dirancang untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa.
BUMDes Sauyunan

Program sinergi BUMDes dengan beberapa akademisi | Dokumen Pribadi
Fokus utama kegiatan ini adalah penguatan tata kelola BUMDes "Sauyunan", yang selama ini telah menjadi salah satu motor penggerak perekonomian Desa Kasomalang Kulon. Sebagai entitas bisnis milik desa, BUMDes memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan asli desa, serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Narasumber utama dalam kegiatan ini, Saprudin, menekankan bahwa profesionalisme dan akuntabilitas adalah dua pilar utama yang harus dibangun dalam pengelolaan BUMDes. Menurutnya, keberhasilan sebuah BUMDes tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya potensi usaha yang dimiliki, melainkan juga oleh kualitas sistem manajemen, transparansi pengelolaan keuangan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dinamika pasar.
"BUMDes harus dikelola dengan prinsip kehati-hatian dan perencanaan yang matang agar mampu bertahan dan berkembang. Selain itu, pengelola juga perlu memahami risiko, khususnya dalam pengelolaan wisata alam yang memiliki potensi kerawanan," ujar Saprudin dalam sesi pemaparan.
Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa pengelolaan usaha desa tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Dibutuhkan perencanaan yang terstruktur, sumber daya manusia yang terlatih, serta sistem pengawasan internal yang kuat agar BUMDes benar-benar bisa menjadi tulang punggung ekonomi desa.
Potensi Alam yang Siap Dikembangkan Berkelanjutan
Selain penguatan tata kelola BUMDes, program pengabdian ini juga memberikan perhatian serius pada potensi wisata geologi yang dimiliki Desa Kasomalang Kulon. Kawasan ini diketahui memiliki keunikan alam berupa formasi geologi yang menarik, yang berpotensi menjadi destinasi wisata edukatif dan rekreatif unggulan di Kabupaten Subang.
Namun demikian, pengembangan wisata alam tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Saprudin juga menegaskan bahwa mitigasi risiko menjadi aspek krusial yang harus dipersiapkan sejak awal. Risiko seperti bencana alam, keselamatan pengunjung, kerusakan ekosistem, hingga dampak lingkungan jangka panjang harus diantisipasi melalui perencanaan berbasis data yang matang dan terkoordinasi dengan baik.
Pendekatan pengelolaan wisata geologi yang berkelanjutan ini sejalan dengan konsep ekowisata yang semakin diminati wisatawan masa kini, yakni pariwisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga mengedepankan kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Antusiasme Warga dan Komitmen Bersama
Rangkaian kegiatan selama dua hari tersebut tidak hanya diisi dengan penyuluhan satu arah. Program ini juga mencakup diskusi interaktif antara peserta dan narasumber, pendampingan teknis secara langsung, serta pemetaan potensi desa yang dilakukan secara kolaboratif. Hasilnya, masyarakat dan para pengelola BUMDes Sauyunan terlihat sangat antusias dan aktif terlibat dalam setiap sesi kegiatan.
Antusiasme ini mencerminkan kesadaran masyarakat yang semakin tumbuh tentang pentingnya pengelolaan aset desa secara profesional. Mereka tidak hanya menjadi objek pendampingan, melainkan juga subjek aktif yang turut menentukan arah pengembangan desa mereka sendiri.
Model Kolaborasi yang Berkelanjutan
Melalui program pengabdian yang penuh semangat ini, berbagai pihak berharap BUMDes Sauyunan dapat berkembang menjadi contoh nyata pengelolaan usaha desa yang profesional, transparan, dan berkelanjutan. Lebih jauh lagi, Desa Kasomalang Kulon diharapkan mampu menjelma menjadi destinasi wisata geologi unggulan yang dikenal tidak hanya di tingkat kabupaten, tetapi juga di level regional bahkan nasional.
Sinergi antara kampus dan desa seperti ini adalah model kolaborasi yang patut terus dikembangkan dan direplikasi di berbagai daerah lain. Ketika ilmu pengetahuan bertemu langsung dengan kebutuhan masyarakat, dampaknya bukan hanya akademis, tetapi juga sosial dan ekonomi yang terasa langsung oleh warga.
Ke depan, kolaborasi lintas perguruan tinggi ini diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, melainkan menjadi kemitraan jangka panjang yang terus mendampingi Desa Kasomalang Kulon dalam setiap tahap pembangunannya. Karena pada akhirnya, kemajuan desa adalah cerminan dari kemajuan bangsa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


