Harga plastik di berbagai daerah di Indonesia terpantau mengalami kenaikan sejak sepekan sebelum Hari Raya Lebaran.
Kenaikan terjadi pada seluruh jenis plastik, mulai dari kantong kresek, gelas cup, hingga thinwall. Salah satu penjual plastik menyebutkan harga bahkan dapat berubah hingga dua kali dalam sehari.
Dampaknya, banyak pedagang yang menggunakan plastik untuk berjualan mengeluhkan kondisi ini. Sejumlah pedagang terpaksa menaikkan harga, sementara lainnya mengganti jenis plastik ke yang lebih murah atau mengurangi produksi guna menahan harga jual.
Tidak hanya pedagang, pembeli juga terdampak akibat biaya tambahan plastik. Sejumlah pedagang makanan dan minuman telah menaikkan harga sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000
Harga Plastik Naik Drastis, Dihargai Berapa Sekarang?
Terpantau harga plastik naik drastis mencapai 50 persen hingga 100 persen bervariasi di berbagai daerah. Thinwall yang sebelumnya Rp22.000 naik menjadi Rp35.000. Gelas cup ukuran 22 oz dari Rp15.000 menjadi Rp29.000. Plastik kiloan yang semula Rp25.000 per kilogram kini mencapai Rp55.000 per kilogram. Sementara itu, jenis lainnya dari Rp28.000 per lusin menjadi Rp35.000 per lusin.
Seorang pedagang melalui akun TikTok @rudiduniabumbu mengungkapkan kenaikan harga tersebut. “Kantong plastik yang kelihatannya sepele sebelumnya Rp30.000, sekarang menjadi Rp40.000. Isinya hanya 19 lembar. Jadi, jika dihitung per lembarnya, harganya Rp2.000,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dampak kenaikan ini tidak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga pembeli karena adanya biaya tambahan.
Penyebab Harga Plastik Naik
Kenaikan harga plastik dipicu konflik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu produksi dan distribusi bahan baku plastik, yaitu nafta atau biji plastik. Bahan ini merupakan turunan minyak bumi yang sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik hingga 60 persen.
“Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik, khususnya nafta dari Timur Tengah, hingga 60 persen,” ujarnya, Rabu (1/4).
Pemerintah bersama pelaku industri plastik kini berupaya mencari sumber impor alternatif di luar Timur Tengah, seperti India, Amerika, dan Afrika.
Kondisi ini mendorong masyarakat untuk mulai mempertimbangkan penggunaan kantong belanja ramah lingkungan sebagai alternatif.
Harga Plastik Naik, Saatnya Mengurangi Penggunaan?
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2025, dari 266 kabupaten/kota atau sekitar 52 persen wilayah Indonesia, volume sampah tercatat mencapai 27 ton. Di sisi lain, masih ada 248 kabupaten/kota yang belum masuk dalam sistem pelaporan, sehingga jumlah keseluruhan sampah nasional kemungkinan jauh lebih besar dari data yang tersedia.
Kenaikan harga plastik tidak hanya menjadi persoalan ekonomi, tetapi juga mencerminkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap produk sekali pakai serta bahan baku impor.
Langkah sederhana dalam mengurangi penggunaannnya dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari, seperti membawa totebag saat berbelanja sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai, membawa tumblr sebagai ganti minuman kemasan, atau hindari alat makan berbahan plastik.
Selain itu, masyarakat Indonesia telah lama mengenal alternatif ramah lingkungan, seperti penggunaan daun pisang untuk membungkus makanan. Tak hanya mudah terurai, cara ini juga memiliki nilai budaya dan mampu mempertahankan cita rasa makanan.
Maka dari itu, kenaikan harga plastik sebetunya memang menjadi tantangan, sekaligus peluang untuk mendorong perubahan menuju perilaku yang lebih berkelanjutan. Bagaimana menurutmu?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


