Malam penghargaan sepak bola nasional yang digelar pada Sabtu, 28 Maret 2026 menghadirkan satu momen yang sulit dilupakan. Saat nama Tan Liong Houw disebut sebagai penerima PSSI Legend of the Year 2026, Jay Idzes, bersama pemain timnas Indonesia lainnya kompak memberikan standing ovation untuk sosok yang telah lebih dulu menapaki jalan panjang sepak bola Indonesia tersebut.
Nama Tan Liong Houw mungkin tidak lagi sering terdengar di pertandingan hari ini. Namun dalam sejarah sepak bola Indonesia, ia adalah bagian dari generasi yang membawa nama Indonesia dikenal di panggung dunia. Ia juga dikenal dengan nama Latief Harris Tanoto, serta julukan yang melekat kuat hingga kini, yaitu Macan Betawi.
Julukan ini tentu terdengar menarik. Ia lahir di Surabaya dan berasal dari keluarga keturunan Tionghoa, tetapi justru menjadi simbol kebanggaan bagi Jakarta. Namun, di situlah letak kisahnya menjadi berbeda dan menarik untuk ditelusuri.
Dari Surabaya ke Jakarta, Awal Perjalanan Tan Liong Houw
Perjalanan Tan Liong Houw tidak dimulai dengan dukungan penuh. Ia lahir di Surabaya pada 26 Juli 1930, dalam keluarga yang tidak melihat sepak bola sebagai masa depan. Sang ibu, Ong Giok Tjiam, bahkan melarang keras anak-anaknya bermain bola.
Larangan itu bukan tanpa alasan. Di masa itu, sepak bola belum dianggap sebagai profesi yang menjanjikan. Bahkan adiknya, Tan Liong Pha, yang sempat bermain di level junior, harus berhenti dan mengubur keinginannya.
Namun Tan Liong Houw memilih jalan berbeda. Ia tetap bermain secara diam-diam agar tidak diketahui keluarga. Hingga suatu ketika, hal itu terbongkar dan membuatnya dikirim ke Semarang dengan harapan bisa menjauh dari sepak bola dan fokus dalam belajar.
Namun, seolah takdir selalu mencari jalannya. Di kota “perasingan” inilah ia justru bertemu dengan komunitas pemain sepak bola keturunan Tionghoa yang pada akhirnya membuka jalan lebih luas untuk mengembangkan diri.
Dari sanalah kemampuannya semakin terasah. Ia tidak hanya bermain, tetapi mulai menunjukkan kualitas yang berbeda. Perjalanan itu berlanjut ketika ia pindah ke Jakarta dan bergabung dengan UMS (Union Makes Strength), yang menjadi pintu masuknya ke level yang lebih tinggi.
Kegigihan tersebut perlahan mengubah pandangan keluarga. Jika sebelumnya sepak bola dianggap tidak menjanjikan, perlahan sang ayah mulai melihat keseriusan dan bakat yang dimiliki. Pada titik itu, restu akhirnya diberikan. Sebuah keputusan yang mengubah arah hidup Tan Liong Houw selamanya.
Era Persija dan Lahirnya Julukan Macan Betawi
Perjalanan karier Tan Liong Houw kemudian melekat erat dengan sejarah Persija. Di klub inilah namanya dikenal luas.
Ia bergabung dengan Persija pada awal 1950-an dan bertahan lebih dari satu dekade. Berposisi sebagai gelandang kiri, ia dikenal sebagai pengatur permainan dengan gaya yang lugas dan berani. Dalam beberapa catatan, ia juga memiliki ciri khas yang unik saat bertanding, yaitu mengikatkan handuk di tangan kirinya.
Salah satu momen penting terjadi pada tahun 1954 saat Persija menjuarai Kejurnas PSSI. Gelar ini menjadi tonggak penting setelah perubahan identitas klub pascakemerdekaan.
Dari performanya di lapangan, lahirlah julukan Macan Betawi. Sebuah sebutan yang diberikan oleh publik Jakarta kepada pemain yang dianggap mewakili semangat mereka. Menariknya, julukan ini tidak melihat latar belakang, melainkan kemampuan dan kontribusinya.
Kiprah Tan Liong Houw Bersama Timnas Indonesia
Performa di level klub membawa Tan Liong Houw ke panggung internasional bersama Timnas Indonesia 1956 dan generasi emas pada masanya.
Dari performanya bersama Persija, ia kemudian mendapat kepercayaan untuk memperkuat tim nasional. Selama lebih dari satu dekade, ia menjadi bagian penting dalam skuad Indonesia.
Olimpiade Melbourne 1956 dan Laga Bersejarah
Salah satu pencapaian paling dikenang terjadi di Olimpiade Melbourne 1956. Indonesia menghadapi Uni Soviet, salah satu raksasa sepak bola dunia saat itu.
Di luar dugaan, pertandingan berakhir imbang 0–0. Hasil tersebut menjadi salah satu pencapaian paling penting dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Prestasi di Turnamen Asia dan Regional
Selain Olimpiade, Tan juga tampil di Asian Games 1951 dan 1954, serta menjadi bagian dari generasi yang membawa Indonesia meraih medali perunggu pada Asian Games 1958. Ia juga memimpin tim menjuarai Merdeka Tournament 1961.
Dalam periode tersebut, ia dikenal sebagai salah satu pemain yang konsisten memperkuat tim nasional dan menjadi bagian dari generasi yang disegani di Asia.
Warisan Tan Liong Houw di Sepak Bola Indonesia
Tan Liong Houw pensiun sebagai pemain pada tahun 1962. Ia mengakhiri kariernya setelah tampil di Asian Games 1962 di Jakarta, yang sekaligus menjadi penutup perjalanan panjangnya bersama tim nasional Indonesia. Namun, karier Tan Liong Houw tidak berhenti setelah ia pensiun sebagai pemain.
Ia tetap berkontribusi melalui peran sebagai pengurus PSSI pada periode 1999 hingga 2003. Pengalaman panjangnya menjadi bagian dari perkembangan sepak bola nasional.
Warisan itu juga berlanjut melalui darah dagingnya. Dua anaknya, Wahyu Tanoto dan Budi Tanoto, mengikuti jejaknya dan berhasil menembus tim nasional pada era berikutnya, meneruskan nama Tanoto di dunia sepak bola Indonesia.
Penghargaan Legend of the Year 2026 dan Makna di Baliknya
Penghargaan PSSI Legend of the Year 2026 menjadi penanda bahwa perjalanan panjang Tan Liong Houw tidak dilupakan begitu saja.
Dari masa ketika sepak bola belum dianggap menjanjikan, hingga akhirnya diakui di panggung nasional, kisahnya menunjukkan bagaimana olahraga dapat melampaui batas sosial dan budaya.
Julukan Macan Betawi yang melekat padanya bukan hanya tentang gaya bermain, tetapi juga tentang bagaimana penerimaan yang tumbuh dari waktu ke waktu. Dari seorang anak yang sempat dilarang bermain bola, ia justru menjadi simbol dalam sejarah sepak bola Indonesia yang membanggakan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Tan Liong Houw
Siapa Tan Liong Houw?
Tan Liong Houw adalah pemain legendaris Indonesia era 1950-an yang dikenal sebagai gelandang andalan Persija dan Timnas Indonesia.
Mengapa disebut Macan Betawi?
Julukan ini diberikan karena gaya bermainnya yang berani serta kontribusinya yang besar bagi Persija dan masyarakat Jakarta.
Apa prestasi terbesar Tan Liong Houw?
Salah satu pencapaian terbesar adalah menahan imbang Uni Soviet pada Olimpiade Melbourne 1956.
Kapan Tan Liong Houw mendapatkan penghargaan dari PSSI?
Ia menerima penghargaan Legend of the Year pada PSSI Awards tahun 2026.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


