Tugu Tiga Puteri Jepara selalujadi pusat perhatian pengguna jalan saat memasuki Jepara dari arah Kudus atau Semarang. Tugu Tiga Puteri Jepara berdiri di kawasan Bundaran Ngabul, menjadi penanda kuat bahwa kita telah sampai di kota yang dikenal dengan jejak perempuan-perempuan tangguhnya.
Bukan tanpa alasan Jepara kerap disebut sebagai kota dengan sejarah panjang perjuangan perempuan. Tugu ini seolah menjadi pengingat visual bahwa sejak masa lampau, perempuan Jepara sudah memiliki peran penting dalam kepemimpinan, keberanian, hingga pemikiran.
Tiga Tokoh Perempuan yang Menghidupkan Monumen
Tugu ini menghadirkan tiga sosok perempuan yang berasal dari latar waktu berbeda, namun memiliki satu benang merah yang sama, yaitu kekuatan dalam memperjuangkan nilai hidup. Siapa saja mereka?
1. Ratu Shima dan Nilai Keadilan yang Tegas
Ratu Shima dikenal sebagai pemimpin Kerajaan Kalingga yang menjunjung tinggi kejujuran. Kisahnya tentang hukuman bagi pelanggar hukum masih sering diceritakan hingga kini. Ia menjadi simbol bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu.
2. Ratu Kalinyamat dan Jejak Keberanian dari Jepara
Ratu Kalinyamat adalah sosok pemimpin perempuan yang dikenal berani, terutama dalam menghadapi kekuatan asing di laut. Ia merepresentasikan keteguhan dan keberanian yang tidak mudah goyah.
3. R.A. Kartini dan Gagasan Emansipasi Perempuan
Berbeda dari dua tokoh sebelumnya, R.A. Kartini dikenal melalui gagasan dan pemikirannya. Ia memperjuangkan pendidikan bagi perempuan dan membuka jalan bagi perubahan sosial yang lebih luas.
Arsitektur Tugu Tiga Puteri Jepara yang Sarat Detail

Sekilas, tugu ini tampak sederhana. Namun jika diperhatikan lebih dekat, setiap bagian memiliki detail yang dirancang dengan pertimbangan.
Tugu ini memiliki tinggi sekitar 15 meter dan dibangun pada tahun 2016 dengan anggaran sekitar Rp2,5 miliar. Pembangunannya juga menjadi bagian dari penataan ulang kawasan Bundaran Ngabul yang sebelumnya dinilai kurang efektif.
Struktur bagian bawah berbentuk geometris yang dipadukan dengan unsur ukiran. Di bagian tertentu, terdapat relief bunga teratai yang melambangkan kesucian dan ketulusan dalam perjuangan. Perpaduan bentuk ini membuat tampilan tugu terasa seimbang antara kokoh dan artistik.
Makna Simbolis di Balik Atribut Tiga Tokoh
Setiap tokoh dalam Tugu Tiga Puteri Jepara tidak hanya berdiri sebagai figur, tetapi juga membawa simbol yang merepresentasikan nilai yang mereka perjuangkan.
1. Keris di Tangan Ratu Shima
Keris yang diangkat ke atas menjadi simbol ketegasan hukum. Ini menggambarkan komitmen Ratu Shima dalam menegakkan keadilan.
2. Busur Panah Ratu Kalinyamat
Busur panah melambangkan keberanian dan kesiapan menghadapi ancaman. Ini sejalan dengan peran Ratu Kalinyamat sebagai pemimpin yang tangguh.
3. Buku di Tangan R.A. Kartini
Buku menjadi simbol ilmu pengetahuan. Kartini membawa pesan bahwa perubahan bisa dimulai dari pendidikan.
Selain itu, terdapat elemen selendang yang menghubungkan ketiga tokoh sebagai simbol perjalanan panjang perjuangan. Relief di bagian bawah juga menggambarkan ketulusan dalam mengembangkan nilai kehidupan.
Arah Hadap Patung yang Menyimpan Cerita
Salah satu detail yang sering terlewat adalah arah hadap masing-masing patung. Padahal, ini bukan sekadar estetika.
Ratu Shima menghadap ke arah Keling, yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Kalingga.
Ratu Kalinyamat menghadap ke arah Mantingan, yang berkaitan dengan pusat kekuasaan pada masanya.
Sementara R.A. Kartini menghadap ke arah Mayong, yang dikenal sebagai tempat kelahirannya.
Arah ini memperkuat hubungan antara tokoh dan wilayah yang memiliki peran penting dalam perjalanan hidup mereka.
Pesona Tugu Tiga Puteri Jepara di Sore dan Malam Hari
Saat sore menjelang malam, suasana di sekitar Bundaran Ngabul mulai berubah. Lampu-lampu sorot yang menyala membuat tugu terlihat lebih megah nan anggun.
Banyak pengunjung datang untuk sekedar duduk, berbincang, atau mengambil foto. Sudut terbaik biasanya berada di sisi luar bundaran, dengan latar belakang tugu dan cahaya lampu yang cukup.
Keberadaan pedagang di sekitar kawasan juga menambah suasana menjadi lebih hidup. Dimana dalam hal ini, Tugu Tiga Puteri Jepara tidak hanya menjadi landmark kota, tetapi telah menjelma menjadi ruang interaksi bagi masyarakat.
Pada akhirnya, Tugu Tiga Puteri Jepara bukan sekadar bangunan di tengah Bundaran Ngabul. Ia menjadi representasi identitas sekaligus harga diri perempuan Jepara yang tercermin dari sosok-sosok yang dihadirkan di dalamnya. Melalui simbol dan cerita yang melekat, tugu ini mengingatkan bahwa peran perempuan telah menjadi bagian penting dalam perjalanan daerah ini.
FAQ Seputar Tugu Tiga Puteri Jepara
1. Dimana lokasi Tugu Tiga Puteri Jepara?
Tugu ini berada di Bundaran Ngabul, salah satu pintu masuk utama menuju Kota Jepara.
2. Kapan Tugu Tiga Puteri Jepara dibangun?
Tugu ini dibangun pada tahun 2016 dan diresmikan pada 22 Desember 2016.
3. Berapa biaya pembangunan tugu ini?
Pembangunan tugu menelan biaya sekitar Rp2,5 miliar yang dialokasikan dari APBD Jepara.
4. Siapa saja tokoh dalam Tugu Tiga Puteri Jepara?
Tiga tokoh tersebut adalah Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan R.A. Kartini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


