pesona gunung sangeang api di bima indah tapi berbahaya - News | Good News From Indonesia 2026

Pesona Gunung Sangeang Api di Bima, Berbahaya tetapi Indah

Pesona Gunung Sangeang Api di Bima, Berbahaya tetapi Indah
images info

Pesona Gunung Sangeang Api di Bima, Berbahaya tetapi Indah


Di tengah hamparan biru Laut Flores, berdiri sebuah pulau dengan dua puncak gunung menjulang seperti penjaga yang tak pernah tidur. Terlihat tenang, tetapi menyimpan ironi. Adalah Gunung Sangeang Api. Lanskap eksotis di timur NTB, sekaligus representasi nyata antara keindahan dan ancaman.

Dalam perspektif geografi vulkanik, Sangeang Api adalah stratovolcano kompleks yang terbentuk dari aktivitas tektonik intens di kawasan Cincin Api Pasifik. Gunung ini memiliki dua puncak utama, Doro Mantoi, kerucut tua setinggi sekitar 1.795, serta puncak yang lebih muda Doro Api setinggi 1.949 meter, yang menjadi pusat aktivitas vulkanik.

Keindahan yang Terisolasi

Pulau Sangeang Api membentang dengan luas kurang lebih 153 kilometer persegi, berdiri di tengah Laut Flores. Secara administratif, Sangeang Api berada di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Lokasinya relatif terpencil, terpisah dari daratan utama Sumbawa.

Akses menuju pulau ini tidak mudah. Perjalanan laut menjadi satu-satunya jalur. Walau begitu, akses tersebut justru menghadirkan pengalaman tersendiri. Dari kejauhan, pulau ini terlihat sangat indah. Perpaduan antara lereng hijau, garis pantai, dan dua puncak gunung yang mencolok di cakrawala.

Namun, keindahan tersebut tidak hadir begitu saja. Gunung ini merupakan hasil dari proses vulkanik yang berlangsung selama ribuan tahun. Material letusan yang menyuburkan tanah pernah menjadi alasan masyarakat menetap di pulau ini.

Meski demikian, keberadaan gunung api aktif di tengah pulau membuat kehidupan di sana selalu berdampingan dengan risiko.

baca juga

Sejarah Letusan dan Jejak Ancaman yang Berulang

Catatan sejarah menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Sangeang Api telah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Letusan yang terdokumentasi sejak abad ke-16 menjadi bukti bahwa gunung ini termasuk salah satu yang paling aktif di kawasan Nusa Tenggara.

Salah satu peristiwa penting terjadi pada tahun 1988, ketika letusan besar memaksa evakuasi besar-besaran penduduk Pulau Sangeang. Peristiwa ini bukan hanya meninggalkan jejak fisik berupa abu dan material vulkanik, tetapi juga jejak sosial. Perpindahan, kehilangan, dan adaptasi ulang kehidupan masyarakat.

Aktivitas tersebut tidak berhenti di sana. Dalam beberapa dekade terakhir, Sangeang Api kembali menunjukkan dinamika yang signifikan, termasuk letusan yang berdampak pada aktivitas penerbangan akibat sebaran abu vulkanik.

Fenomena tersebut menegaskan bahwa dampak gunung api tidak lagi bersifat lokal, melainkan dapat meluas hingga lintas wilayah.

Dalam konteks ini, Sangeang Api menjadi contoh konkret bagaimana interaksi antara manusia dan alam tidak selalu berada dalam posisi setara. Alam memiliki otoritasnya sendiri. Manusia, pada titik tertentu, harus menyesuaikan diri.

Antara Larangan dan Pelestarian

Berbeda dengan banyak gunung lain di Indonesia yang menjadi destinasi pendakian populer, Sangeang Api justru berada dalam status yang berbeda. Sejak ditetapkan sebagai kawasan cagar alam pada 1999, aktivitas pendakian dilarang secara resmi.

Larangan ini bukan tanpa alasan. Tingginya aktivitas vulkanik menjadikan kawasan ini berisiko tinggi bagi keselamatan manusia. Di sisi lain, status cagar alam juga menekankan pentingnya menjaga ekosistem yang ada di dalamnya. Baik flora, fauna, maupun keseimbangan lingkungan secara keseluruhan.

Di sinilah muncul perspektif menarik: tidak semua keindahan harus dijelajahi secara langsung. Dalam era ketika eksplorasi sering kali menjadi tujuan utama, Sangeang Api justru mengajarkan tentang batas. Ia menghadirkan konsep “mengagumi dari jauh” sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.

Bagi sebagian orang, larangan ini mungkin terasa seperti kehilangan kesempatan. Namun, dalam kerangka konservasi, justru di situlah nilai utamanya. Sangeang Api tetap menjadi ruang liar yang tidak sepenuhnya dijinakkan oleh manusia. 

baca juga

Pada akhirnya, Sangeang Api bukan hanya tentang gunung, letusan, atau lanskap eksotis. Ia adalah narasi tentang relasi manusia dengan alam. Tentang bagaimana keindahan bisa berjalan beriringan dengan bahaya, dan bagaimana batas justru menjadi bentuk perlindungan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.