lebaran ketupat tradisi hangat penuh makna di jawa tengah - News | Good News From Indonesia 2026

Lebaran Ketupat: Tradisi Hangat Penuh Makna di Jawa Tengah

Lebaran Ketupat: Tradisi Hangat Penuh Makna di Jawa Tengah
images info

Lebaran Ketupat: Tradisi Hangat Penuh Makna di Jawa Tengah


Bagi masyarakat di Jawa Tengah, perayaan Hari Raya Idulfitri tidak berhenti begitu saja setelah salat Id dan sesi maaf-maafan di hari pertama. Ada satu momen yang sangat dinantikan, yang biasanya jatuh tepat seminggu setelah 1 Syawal, yaitu Lebaran Ketupat atau sering disebut dengan istilah Bakda Kupat.

Tradisi ini bukan sekadar acara makan-makan biasa, melainkan sebuah warisan budaya yang sarat akan filosofi, sejarah, dan nilai kebersamaan. Mari kita ulas lebih dalam mengapa Lebaran Ketupat begitu istimewa bagi masyarakat Jawa Tengah!

Tradisi Lebaran Ketupat konon pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Beliau menggunakan pendekatan budaya agar ajaran agama lebih mudah diterima oleh masyarakat saat itu.

Secara filosofis, kata "Ketupat" atau "Kupat" dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari "Ngaku Lepat" (mengakui kesalahan) dan "Laku Papat" (empat tindakan).

  • Ngaku Lepat: Tradisi sungkeman atau saling memaafkan adalah inti dari perayaan ini. Dengan makan ketupat bersama, seseorang secara simbolis mengakui kesalahan kepada tetangga dan saudara.

  • Laku Papat: Terdiri dari Lebaran (selesai masa puasa), Luberan (melimpah rezekinya untuk sedekah), Leburan (habis dosa-dosanya), dan Labaan (menjaga kesucian diri).

baca juga

Bahkan, anyaman kulit ketupat yang rumit pun memiliki makna. Kerumitan itu melambangkan banyaknya kesalahan manusia, sedangkan isi ketupat yang berwarna putih bersih melambangkan kesucian hati setelah sebulan penuh berpuasa dan saling memaafkan.

Di berbagai daerah di Jawa Tengah, seperti Kudus, Pati, Solo, hingga pesisir Pekalongan, Lebaran Ketupat dirayakan dengan meriah, tetapi tetap khidmat. Berikut adalah beberapa pemandangan umum saat Lebaran Ketupat tiba:

  1. Memasak Ketupat Masal: Hampir setiap rumah akan sibuk menganyam janur (daun kelapa muda) dan memasak ketupat dalam kuali besar. Biasanya, ketupat ini disajikan dengan opor ayam, sambal goreng ati, atau sayur lodeh labu siam.

  2. Tradisi Kenduri di Masjid atau Mushola: Warga biasanya membawa wadah berisi ketupat dan sayur ke masjid terdekat untuk didoakan bersama oleh sesepuh atau tokoh agama. Setelah doa bersama (tahlilan), warga akan saling tukar-menukar ketupat. Inilah momen yang paling mempererat kerukunan antar tetangga.

  3. Festival Budaya dan Kirab: Di beberapa kota, Lebaran Ketupat dirayakan dengan festival besar. Contohnya di Magelang atau Boyolali, sering diadakan Kirab Gunungan Ketupat, di mana ribuan ketupat disusun membentuk kerucut raksasa dan diarak keliling desa sebelum akhirnya diperebutkan oleh warga sebagai simbol berkah.

Mengapa Lebaran Ketupat tetap lestari hingga sekarang? Jawabannya adalah karena nilai gotong royong dan sedekah.

Di desa-desa, jarang sekali ada orang yang makan ketupat sendirian di dalam rumah. Mereka akan mengantarkan sepiring ketupat ke rumah kerabat yang lebih tua atau tetangga yang kurang mampu.

Tradisi ini memastikan bahwa di hari ke-8 setelah Lebaran, tidak ada satu pun perut yang lapar dan semua orang merasakan kegembiraan yang sama.

Bagi perantau yang belum sempat pulang saat hari H Lebaran, Lebaran Ketupat seringkali menjadi "Lebaran kedua" yang lebih santai, tetapi tetap terasa kental kekeluargaannya.

baca juga

Lebaran Ketupat adalah bukti betapa indahnya perpaduan antara ajaran agama dan kearifan lokal. Ia mengingatkan kita bahwa memaafkan adalah sebuah proses yang butuh ketulusan, seputih isi ketupat di balik anyaman janur yang rumit.

Jika Kawan GNFI berkesempatan mengunjungi Jawa Tengah seminggu setelah Idulfitri, jangan lewatkan keramahan warga yang menawarkan ketupat hangat di setiap sudut desa. Karena di sana, Kawan GNFI tidak hanya menikmati hidangan lezat, tetapi juga merasakan hangatnya persaudaraan yang tulus.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.