menurut studi atasan akan beri lebih banyak beban kerja pada pekerja yang rajin - News | Good News From Indonesia 2026

Menurut Studi, Atasan Akan Beri Lebih Banyak Beban Kerja pada Pekerja yang Rajin

Menurut Studi, Atasan Akan Beri Lebih Banyak Beban Kerja pada Pekerja yang Rajin
images info

Menurut Studi, Atasan Akan Beri Lebih Banyak Beban Kerja pada Pekerja yang Rajin


Dalam dunia kerja modern, menjadi pekerja rajin sering dianggap sebagai kunci kesuksesan karier. Banyak orang percaya bahwa kerja keras akan berbanding lurus dengan penghargaan dan promosi.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan sisi lain yang jarang dibahas. Alih-alih mendapat keringanan, pekerja yang rajin justru berpotensi menerima beban kerja tambahan dari atasan mereka.

Temuan Studi

Penelitian yang dilakukan oleh Sangah Bae dan Kaitlin Woolley mengungkap fenomena yang disebut sebagai “intrinsic motivation penalty.”

Dalam beberapa studi yang melibatkan lebih dari seribu partisipan, ditemukan bahwa karyawan dengan motivasi intrinsik tinggi—yakni mereka yang bekerja karena dorongan internal dan rasa tanggung jawab—lebih sering diberikan tugas tambahan, terutama tugas yang kurang diinginkan.

Menariknya, dalam penelitian tersebut, kualitas kerja tidak menjadi faktor pembeda utama. Bahkan ketika kualitas kerja dianggap sama, pekerja yang terlihat lebih bersemangat dan berdedikasi tetap lebih sering dibebani tugas tambahan.

Hal ini menunjukkan bahwa persepsi atasan terhadap sikap pekerja memainkan peran besar dalam distribusi pekerjaan.

Mengapa Atasan Justru Memberi Beban Lebih?

Ada beberapa alasan psikologis yang menjelaskan fenomena ini. Pertama, atasan cenderung menganggap pekerja rajin sebagai individu yang lebih dapat diandalkan.

Ketika ada tugas tambahan, mereka akan memilih orang yang kemungkinan besar tidak menolak dan mampu menyelesaikannya dengan baik.

Kedua, terdapat bias efisiensi dalam pengambilan keputusan manajerial. Memberikan tugas kepada pekerja yang sudah terbukti rajin dianggap lebih aman daripada mengambil risiko dengan karyawan lain.

Dalam konteks ini, efisiensi jangka pendek sering kali lebih diutamakan dibandingkan keadilan distribusi kerja.

Ketiga, norma sosial dalam organisasi juga berperan. Pekerja yang rajin sering kali dianggap “suka bekerja” sehingga tambahan tugas dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak merugikan mereka. Padahal, asumsi ini belum tentu benar dan bisa berdampak negatif dalam jangka panjang.

Dampak bagi Pekerja dan Organisasi

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga organisasi secara keseluruhan. Bagi pekerja, menerima terlalu banyak tugas dapat menyebabkan kelelahan, penurunan motivasi, hingga burnout.

Ironisnya, pekerja yang awalnya memiliki motivasi tinggi justru berisiko kehilangan semangat kerja karena beban yang tidak seimbang.

Dari sisi organisasi, distribusi kerja yang tidak adil dapat menciptakan ketimpangan kinerja tim. Karyawan lain mungkin menjadi kurang termotivasi karena merasa kontribusinya tidak terlalu diperhatikan. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menurunkan produktivitas tim secara keseluruhan.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa persepsi terhadap waktu kerja dan beban kerja dapat memengaruhi motivasi intrinsik seseorang. Ketika pekerjaan terasa berlebihan atau mengganggu keseimbangan hidup, tingkat kepuasan kerja cenderung menurun.

Bagaimana Menyikapi Fenomena Ini

Mengatasi masalah ini memerlukan kesadaran dari kedua belah pihak, baik manajer maupun karyawan. Bagi manajer, penting untuk mendistribusikan tugas secara lebih adil dan mempertimbangkan beban kerja masing-masing individu.

Mengandalkan satu atau dua pekerja rajin secara terus-menerus dapat merugikan tim dalam jangka panjang.

Sementara itu, pekerja juga perlu belajar menetapkan batasan. Menjadi rajin bukan berarti harus selalu menerima semua tugas tambahan. Komunikasi yang jelas mengenai kapasitas kerja dapat membantu mencegah penumpukan beban yang berlebihan.

Pada akhirnya, penelitian Bae dan Woolley memberikan perspektif baru tentang dinamika kerja di organisasi. Kerajinan memang merupakan kualitas yang positif, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, hal tersebut justru dapat menjadi “jebakan” yang merugikan pekerja itu sendiri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.

DS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.