Awam Prakoso adalah founder dari lembaga pendidikan Kampung Dongeng Indonesia, yang berperan aktif memberikan kebahagiaan dan pendidikan kepada anak-anak melalui media cerita. Berkecimpung di dunia dongeng selama lebih dari dua dekade, Kak Awam telah berkeliling dari sabang sampai Merauke—bahkan hingga ke mancanegara—hanya untuk satu misi: menyebarkan virus keceriaan.
Awalnya, Awam memulai karier dengan kecintaan pada dunia seni peran dan suara. Namun, ia menyadari bahwa dunia anak-anak memiliki urgensi besar akan kehadiran sosok yang bisa membimbing mereka lewat cara yang menyenangkan. Dari sanalah, ia mulai memfokuskan diri menjadi pendongeng profesional.
Bahasa Ibu
Salah satu pencapaian terbesar Awam Prakoso adalah mendirikan Kampung Dongeng pada tahun 2009. Berpusat di Ciputat, Tangerang Selatan, kini komunitas ini telah memiliki 200 titik cabang yang tersebar di 28 provinsi.
Awam memahami adanya perbedaan budaya dan bahasa di banyak cabangnya, sehingga ia mengajak rekan pendongeng untuk menyusaikan diri ketika menyampaikan cerita ke anak-anak. Ia menegaskan bahwa sangat baik menggunakan bahasa ibu khususnya dalam mengambil hati anak.
“Kami punya bahasa Ibu, kan setiap pendongeng di daerah pasti beda-beda. Ada bahasa Bugis, Sunda, Jawa, kemudian Dayak, dan seterusnya. Ini adalah keberagaman dan Kampung Dongeng memang berfokus ke sana,” ujar Awam kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Menurut Awam sendiri bahasa memang menjadi kendala saat mendongeng. Maka dari itu pendekatan emosional ditonjolkan tatkala pendongeng bercerita dan mengekspresikan kisahnya di depan anak.
“Kalau Kak Awam pribadi pasti (terkendala). Kan justru Kampung Dongeng disiapkan di berbagai daerah itu sehingga teman-teman lebih mudah untuk menjadi sebuah ekosistem yang keterkaitannya dengan pendekatannya secara emosional, anak-anak satu daerah dengan daerah lain, kami punya pasukan-pasukan yang memang berada di titik-titik yang anak-anak pasti merasa nyaman berkomunikasi,” ujarnya.
Janji Pemerintah
Tumbuh kembang anak dipengaruhi seberapa besar perhatian orang tua dalam membimbingnya. Akan tetapi, tantangan orang tua kian berat untuk membagi waktunya untuk anak yang salah satu masalah klasiknya ialah faktor ekonomi. Beban ekonomi dari orang tua terkadang membuat para orang tua lebih banyak menghabiskan waktunya di pekerjaan sehingga anak tidak mendapat perhatian cukup saat quality time.
Bagi Awam sendiri dalam menciptakan hubungan baik antara orang tua dan anak adalah tugas pemerintah. Janji-janji pemerintah untuk mensejahterahkan lewat pekerjaan yang nantinya bisa berimbas ke ekonomi dinilainya bisa berdampak baik terhadap keharmonisan keluarga.
“Yang pertama harus kita tagih adalah janji-janji pemerintah. Bagaimana agar upah minimum meningkat, lapangan kerja bisa betul-betul disediakan secara baik. Jadi pemerintah terkait dengan kesejahteraan rakyat,” ucap Awam.
Awam paham betapa mengerikannya ketika orang tua fokus bekerja demi keluarga, sehingga mengorbankan kehadiran sekaligus perhatian terhadap anak. Akan tetapi, ia tetap berharap orang tua sebisa mungkin bisa senantiasa hadir agar anak tidak merasa diperhatikan.
“Contohnya misalkan orang tuanya ada, tapi anak merasa orang tuaku enggak ada. Setiap marah, setiap bertanya template, ‘Sudah makan belum? PR-nya bagaimana?’. Nah, itu kan anak merasa jenuh, merasa malas. Anak merasa dia enggak ada. Jadi yang paling utama anak merasa orang tuanya hadir,” ungkapnya lagi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

