Di tengah beragam kuliner khas Kalimantan Selatan, kembang tigarun menjadi salah satu bahan pangan lokal yang memiliki keunikan tersendiri. Bunga ini berasal dari tanaman tigarun dengan nama ilmiah Crataeva nurvala atau Crataeva adansonii, yang tumbuh liar di kawasan lembap seperti tepi sungai, rawa, dan hutan. Di Banjarmasin dan sekitarnya, keberadaan tanaman ini cukup dikenal, meskipun belum dibudidayakan secara luas oleh masyarakat.
Tigarun merupakan tanaman tropis yang tersebar di berbagai negara Asia. Di Indonesia, tanaman ini memiliki banyak sebutan lokal, tergantung daerahnya. Di Kalimantan Selatan, masyarakat mengenalnya sebagai tigarun atau tigaron. Tanaman ini berupa pohon berkayu dengan daun majemuk berjumlah tiga helai, serta bunga berwarna putih hingga kekuningan yang tumbuh di ujung batang. Bunga inilah yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
Dari Hutan ke Pasar Tradisional
Kembang tigarun biasanya dijual di pasar tradisional di Banjarmasin, terutama saat musim berbunga yang berlangsung sekitar Februari hingga Maret. Para pedagang memperoleh bunga ini dari tanaman liar yang tumbuh di sekitar permukiman, kebun, atau bantaran sungai. Karena tidak dibudidayakan, ketersediaannya terbatas dan bergantung pada musim.
Di pasar, kembang tigarun tampil berbeda dibandingkan sayuran lain karena yang dijual hanya bagian bunganya. Masyarakat setempat telah lama memanfaatkan bunga ini sebagai bahan makanan. Konsumsinya cukup beragam, mulai dari dimakan langsung sebagai lalapan hingga diolah melalui proses fermentasi.
Dalam kondisi segar, kembang tigarun memiliki rasa khas yang sedikit sepat. Rasa ini justru menjadi daya tarik bagi sebagian orang karena memberikan sensasi berbeda saat disantap bersama nasi. Sementara itu, melalui proses fermentasi, bunga tigarun berubah menjadi hidangan yang dikenal sebagai jaruk kembang tigarun, dengan cita rasa asam yang lebih kuat.
Olahan Fermentasi yang Menggugah Selera
Jaruk kembang tigarun merupakan salah satu olahan yang paling populer di Kalimantan Selatan. Proses pembuatannya dilakukan dengan merendam bunga dalam larutan air garam hingga mengalami fermentasi. Hasilnya tidak hanya mengubah rasa menjadi asam, tetapi juga menghasilkan cairan berwarna kemerahan yang sering dimanfaatkan sebagai kuah pendamping nasi.
Hidangan ini umumnya disajikan bersama lauk seperti ikan bakar atau udang rebus. Kombinasi rasa asam dari jaruk tigarun dengan gurihnya lauk memberikan pengalaman makan yang khas. Tidak hanya masyarakat umum, kini kembang tigarun juga mulai banyak disajikan di rumah makan khas Banjar, menunjukkan peningkatan popularitasnya sebagai kuliner daerah.
Potensi Gizi dan Manfaat Kesehatan
Selain memiliki nilai kuliner, kembang tigarun juga menyimpan potensi kesehatan. Proses fermentasi yang dilakukan pada bunga ini diketahui dapat meningkatkan kandungan senyawa fenolik dan flavonoid. Kedua senyawa tersebut berperan sebagai antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari kerusakan sel serta memiliki aktivitas antibakteri.
Tanaman tigarun juga telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di berbagai negara Asia. Daunnya digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan seperti perut kembung, sementara bagian lain seperti akar dan kulit batang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan kesehatan. Bahkan, dalam praktik pengobatan tradisional India, tanaman ini dikenal memiliki berbagai fungsi, mulai dari membantu penyembuhan luka hingga meningkatkan daya tahan tubuh.
Peluang Pengembangan Tanaman Lokal
Meskipun memiliki banyak manfaat, tigarun belum menjadi komoditas utama di Kalimantan Selatan. Tanaman ini masih tumbuh secara alami tanpa pengelolaan budidaya yang sistematis. Padahal, meningkatnya minat masyarakat terhadap kembang tigarun menunjukkan adanya peluang untuk mengembangkan tanaman ini secara lebih luas.
Pengembangan budidaya tigarun dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Selain itu, upaya ini juga dapat memperkuat identitas kuliner lokal yang berbasis pada keanekaragaman hayati daerah.
Kembang tigarun tidak hanya sekadar bahan makanan, tetapi juga bagian dari tradisi dan pengetahuan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dengan pengelolaan yang tepat, tanaman ini berpotensi menjadi salah satu kekayaan pangan khas Indonesia yang semakin dikenal luas.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


