Jika kita membaca buku novel atau menonton film Barat yang menegangkan tentang pembunuhan berantai, kita sering mendapatkan cerita bahwa pelaku pembunuhan itu memiliki faktor kejiwaan, misalnya karena trauma masa lalu, membunuh karena kebencian terhadap para korban, atau bagi pembunuh yang memiliki gangguan kejiwaan, psikopat. Mungkin ada yang mengaku bahwa membunuh itu hanya untuk senang-senang saja, atau demi memuaskan batinnya untuk mencari kesenangan—just for fun.
Tapi kali ini bukan dari cerita novel atau film thriller yang menegangkan tersebut, melainkan dari pernyataan resmi seorang presiden negara superpower, yaitu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Pada hari Sabtu (14/3/2026) lalu, Trump mengatakan Amerika Serikat dapat melakukan serangan tambahan di pusat ekspor minyak Pulau Kharg, Iran. Berbicara dalam sebuah wawancara dengan NBC News, Trump mengatakan serangan AS sebelumnya telah benar-benar menghancurkan sebagian besar infrastruktur minyak pulau itu.
"Mungkin mengebomnya beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang (may hit it a few more times just for fun)," ujar Trump.
Selama konflik saat ini, pasukan AS melakukan serangan udara terhadap instalasi militer di Pulau Kharg, mengenai puluhan target termasuk area penyimpanan rudal dan situs pertahanan lainnya. Laporan mengatakan serangan itu berfokus pada fasilitas militer, sementara infrastruktur ekspor minyak itu sendiri sebagian besar dibiarkan utuh.
Banyak orang berpendapat bahwa Trump adalah orang tanpa rencana. Ia dinilai tidak memiliki langkah konkret tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya di Iran dan menipu dirinya sendiri bahwa ia mengendalikan peristiwa. Semakin AS dan Israel menghantam Teheran dan kota-kota lain, semakin menantang rezim tersebut. Pangkalan regional AS dan mitra Teluk Arab mengalami kerusakan signifikan dari serangan pembalasan.
Sekutu Amerika Serikat termasuk Inggris kecewa oleh penolakan arogan Trump untuk berkonsultasi dan kurangnya perencanaan strategis yang fatal, yang dicontohkan oleh kegagalan di Selat Hormuz. Ia dinilai secara tidak bertanggung jawab meningkatkan perang dengan mengatakan mengebom terminal minyak Pulau Kharg Iran hanya untuk bersenang-senang, yang selanjutnya malah dapat menaikkan lagi harga minyak global. Secara bersamaan, ia meminta sekutu yang sama untuk terlibat langsung dengan mengirim kapal perang untuk membantunya di Selat Hormuz.
Selama ini dalam sejarah, sepertinya tidak ada seorang raja atau presiden dalam suatu peperangan yang menyatakan secara terbuka bahwa mereka akan menghancurkan atau membunuh musuhnya demi mencari kesenangan belaka. Jika pun ada, pemimpin tersebut biasanya tidak menyatakannya di depan umum.
Kini publik menyaksikan ada seorang presiden negara besar di planet ini yang terang-terangan menyatakan akan mengebom negara lain demi kesenangannya belaka atau just for fun.
Menurut saya, hanya seorang psikiater atau psikolog yang mampu menggambarkan sosok tokoh yang membunuh orang lain demi kesenangan itu adalah orang yang psikopat atau tidak.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


