Persoalan buang air besar sembarangan (BABS) di Jakarta terdengar seperti cerita lama yang belum juga selesai. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa praktik BABS secara nasional terus ditekan dari tahun ke tahun. Di Jakarta, persentasenya memang relatif kecil dibanding banyak daerah lain, tetapi angka yang kecil tetap berarti ribuan jiwa. Dengan lebih dari sepuluh juta penduduk, satu persen saja sudah menjadi potret ribuan keluarga yang hidup tanpa sanitasi layak.
Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa isu ini masih muncul di kota sebesar Jakarta? Ya, karena realitanya masih terdapat pemukiman padat yang tumbuh dari sejarah panjang urbanisasi. Di bantaran sungai, di gang sempit yang hanya cukup untuk satu sepeda motor lewat, sanitasi sering kali kalah prioritas oleh kebutuhan ruang tinggal.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membaca situasi ini sebagai pekerjaan rumah bersama. Upaya pengurangan BABS dijalankan melalui perbaikan infrastruktur dan perubahan perilaku. Infrastruktur menyediakan sarana yang layak sementara edukasi membentuk kebiasaan baru.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah revitalisasi MCK komunal. MCK (mandi, cuci, kakus) adalah fasilitas sanitasi bersama yang dibangun untuk melayani warga yang belum memiliki kamar mandi pribadi. Dalam definisi yang banyak dipahami publik, MCK komunal harus memenuhi syarat kebersihan, ketersediaan air bersih, saluran pembuangan yang aman, serta pengelolaan rutin agar tetap layak pakai. Di sejumlah wilayah padat penduduk, fasilitas ini menjadi jembatan menuju perilaku hidup bersih.
Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta merevitalisasi belasan MCK komunal di berbagai titik. Bangunan yang dulu kusam dan kurang terawat diperbaiki, saluran airnya dibenahi, pencahayaan ditingkatkan. Nama sarana yang baik saja tidak cukup. Pengalaman menunjukkan, fasilitas umum bisa cepat rusak jika rasa kepemilikan tidak tumbuh dari sikap warga yang menggunakannya.
Merujuk data per Maret 2025, capaian program Stop BABS di Jakarta menunjukkan hasil yang beragam. Kabupaten Kepulauan Seribu dan Kota Jakarta Pusat telah mencapai 100 persen, disusul Jakarta Selatan sebesar 98,46 persen, Jakarta Utara 58,6 persen, Jakarta Barat 42,86 persen, serta Jakarta Timur 36,92 persen.
Di sisi lain, Jakarta juga membangun sistem yang lebih terstruktur melalui pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik, yang dikenal sebagai SPALD. Sistem ini dirancang untuk memastikan air limbah rumah tangga diolah sebelum kembali ke lingkungan. Melalui jaringan perpipaan dan instalasi pengolahan air limbah, Jakarta berusaha memutus mata rantai pencemaran.
SPALD mengubah cara pandang kita memandang limbah. Air buangan dari dapur dan kamar mandi tidak lagi dianggap urusan belakang rumah, melainkan bagian dari tata kelola kota. Pembangunan jaringan pipa di kota padat seperti Jakarta menuntut koordinasi lintas dinas dan komunikasi intensif dengan warga.
Jalan yang dibongkar untuk pemasangan pipa sering memicu keluhan. Walaupun di balik ketidaknyamanan sementara, ada tujuan jangka panjang tentang kualitas lingkungan yang lebih baik.
Tren penurunan praktik BABS di Jakarta dalam kurun 2024 hingga 2025 menunjukkan arah yang positif. Angka BABS Jakarta pada tahun 2024 adalah 0.19%. Kemudian mengalami perbaikan di tahun 2025 menjadi 0.06%.
Angka yang menurun adalah buah dari kerja kolaboratif. Mulai dari dinas teknis yang membangun, tenaga kesehatan yang menyosialisasikan, aparat wilayah yang menggerakkan, serta warga yang bersedia berubah.
Meski demikian, kita ketahui bersama bahwa urbanisasi masih berlangsung di Jakarta. Permukiman baru bisa tumbuh lebih cepat daripada penyediaan fasilitas. Kesenjangan ekonomi membuat sebagian keluarga kesulitan membangun jamban sehat di rumahnya.
Ada pula persoalan budaya dan kebiasaan lama yang sulit dihapus dalam waktu yang singkat. Kritik yang perlu disampaikan adalah tentang pentingnya konsistensi. Program sanitasi sering bergantung pada momentum anggaran dan perhatian publik. Padahal, perubahan perilaku memerlukan ketekunan bertahun-tahun.
Revitalisasi MCK komunal perlu disertai sistem pengelolaan berbasis komunitas agar fasilitas tetap terawat. SPALD perlu diperluas cakupannya dengan perencanaan yang transparan. Setiap penurunan angka BABS patut diapresiasi, namun setiap sisa persentase adalah pengingat bahwa pekerjaan belum selesai.
Ambisi Jakarta untuk masuk 20 besar kota global dunia tersaji dalam peta jalan menuju kota global yang dirumuskan pada buku Jakarta Rise#20: Path Towards Top 20 Global City yang menempatkan persoalan jauh lebih mendasar sebagai pekerjaan utama kota ini. Sanitasi, pengelolaan air, hingga kualitas lingkungan masuk dalam agenda penting pembangunan kota Jakarta.
Jakarta Rise#20: Path Towards Top 20 Global City menegaskan bahwa transformasi Jakarta menuju kota global membutuhkan perbaikan menyeluruh pada aspek lingkungan, infrastruktur, dan kualitas hidup warga. Saat ini, Jakarta masih berada di peringkat 74 kota global, sehingga berbagai pelayanan dasar perlu diperkuat agar mampu bersaing dengan kota-kota lain di kawasan.
Dalam konteks inilah upaya memperbaiki sanitasi, menurunkan praktik BABS, hingga memperluas akses air bersih menjadi bagian dari pekerjaan kita bersama. Sebab menjadi kota global butuh memastikan setiap warganya hidup dengan lingkungan yang sehat, air yang layak, dan sanitasi yang baik.
Masa depan Jakarta sebagai kota global ditentukan oleh hal-hal yang sering dianggap sederhana. Sanitasi adalah fondasi kesehatan publik. Dari kamar mandi yang layak, lahir generasi yang lebih sehat dan produktif. Upaya menghapus BABS adalah langkah kecil dengan dampak panjang. Mari bersama kita wujudkan Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan setara bagi setiap warganya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


