bagaimana iran membangkrutkan amerika serikat - News | Good News From Indonesia 2026

Bagaimana Iran Membangkrutkan Amerika Serikat

Bagaimana Iran Membangkrutkan Amerika Serikat
images info

Bagaimana Iran Membangkrutkan Amerika Serikat


Seorang akademisi dari Kanada, Profesor Jiang Xueqin, membuat ulasan menarik tentang bagaimana Iran yang bukan negara kaya raya dan superpower mampu membuat Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di Timur Tengah, termasuk Israel, bangkrut ekonomi.

Profesor Jiang menyoroti pandangan mantan perwira Marinir Amerika Serikat, Scott Ritter, yang sering menilai bahwa AS salah perhitungan karena menganggap Iran akan takluk hanya dalam sekali gempuran. Scott mengkritisi Presiden AS, Donald Trump, yang menurutnya tidak paham bahwa Iran adalah negara yang memiliki kebudayaan serta sejarah lebih dari 5.000 tahun dan sudah malang melintang melawan berbagai musuh.

Karena itu, Profesor Jiang mengatakan bahwa meskipun Iran bukan negara superpower yang kaya raya, dengan kecerdikan akalnya negara tersebut mampu melawan AS dan Israel tanpa adanya bantuan negara-negara lain.

Profesor Jiang berpendapat bahwa Iran bisa membuat bangkrut AS dan sekutunya hanya dengan menggunakan salah satu senjatanya yang tidak terlalu canggih, yaitu drone Shahed. Drone ini dibuat dengan biaya 35.000–50.000 dolar AS, sementara rudal penangkis Amerika Serikat yang dipakai menghadapi drone Iran harganya lebih dari 1 juta dolar AS.

Harga drone Iran sebesar 50.000 dolar AS tersebut dalam perspektif militer merupakan uang receh jika dibandingkan dengan rudal AS yang mahal. Iran memproduksi drone itu sebanyak 500 buah setiap hari dan dilaporkan memiliki 80.000 drone yang siap diluncurkan untuk menyerang AS dan Israel.

Meski kecil, drone Shahed bukanlah mainan anak-anak karena satu unitnya bisa meluluhlantakkan markas militer, hotel, ladang minyak, infrastruktur, hingga lapangan terbang. Ukuran drone tersebut kecil sehingga bisa ditaruh di belakang truk, disembunyikan, dan dibawa ke mana-mana karena sifatnya yang sangat mobile.

Sebaliknya, AS menggunakan rudal yang disebut Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD. Rudal canggih ini ditaruh di suatu tempat dan lambat geraknya karena menunggu rudal musuh yang masuk wilayah pertahanannya. Rudal canggih ini diluncurkan satu kali untuk mencegah rudal atau drone Iran, namun sering kali diluncurkan berkali-kali karena peluncuran pertama meleset.

Katakanlah THAAD tersebut diluncurkan tiga kali, berarti AS mengeluarkan biaya 3 juta dolar AS hanya untuk melawan satu drone Iran yang harganya cuma 35.000–50.000 dolar AS.

Selain membahas drone, Profesor Jiang juga membahas bagaimana cerdiknya Iran menghancurkan fasilitas penyulingan air. Ada istilah water stress yang mengukur berapa air yang digunakan dibandingkan dengan ketersediaan alam. Bila 100 persen, berarti penggunaan air sama dengan yang disediakan alam, dan bila di bawah 100 persen, berarti penggunaan air efisien. Sebaliknya, bila di atas 100 persen, berarti penggunaan air sudah di atas persediaan yang ada.

Di negara-negara Timur Tengah, angka water stress Mesir mencapai lebih dari 6.000 persen, Arab Saudi lebih dari 800 persen, Bahrain sekitar 4.000 persen, dan Dubai mencapai 17.000 persen. Profesor Jiang mengibaratkan jika seorang anak kecil perlu satu gelas air dari air hujan, tetapi ia membutuhkan 17.000 gelas air.

Dari mana tanbahan kebutuhan air itu diperoleh? Jawabannya adalah dari mesin raksasa bernama Desalination Plant yang menyuling serta memurnikan air laut menjadi air tawar.

Air bagi bangsa Indonesia bukanlah masalah karena ketersediannya yang berlebih. Namun, di negara-negara Teluk, air sangat berharga dan ibaratnya lebih mahal dari emas berkilo-kilogram.

Iran tidak perlu melawan ribuan tentara AS dan sekutunya, cukup dengan meluncurkan satu drone kecil seharga 35.000–50.000 dolar AS untuk menghantam pabrik pemurnian air. Hal tersebut bisa mengakibatkan jutaan orang menderita karena tidak bisa mandi, tidak bisa menggunakan toilet, dan tidak bisa minum.

Itulah strategi yang digunakan Iran sebagai bangsa yang memiliki sejarah ribuan tahun dan banyak ilmuwan. "Iran bukan negara superpower yang kaya raya, namun dengan kecerdikan akalnya mampu melawan Amerika Serikat dan Israel sendiri," ujar Profesor Jiang.

Sementara itu, Scott Ritter menegaskan, "AS salah perhitungan melawan Iran, dianggap dengan sekali gempuran saja Iran akan takluk."

Iran terbukti sanggup melawan Amerika Serikat dan sekutu abadinya, Israel, bahkan berani melakukan perlawanan dalam jangka waktu lama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AC
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.