spesies baru keong darat baru ditemukan di sumatra selatan disemati nama dayang merindu - News | Good News From Indonesia 2026

Spesies Baru Keong Darat Baru Ditemukan di Sumatra Selatan, Disemati Nama “Dayang Merindu"

Spesies Baru Keong Darat Baru Ditemukan di Sumatra Selatan, Disemati Nama “Dayang Merindu"
images info

Spesies Baru Keong Darat Baru Ditemukan di Sumatra Selatan, Disemati Nama “Dayang Merindu"


Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menambah daftar kekayaan biodiversitas Indonesia dengan mendeskripsikan satu spesies baru keong darat yang diberi nama Chamalycaeus dayangmerindu. Spesies ini ditemukan di kawasan karst Padang Bindu, Sumatra Selatan, dan menjadi bukti bahwa ekosistem karst di Indonesia masih menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang sangat besar namun belum sepenuhnya terungkap.

Penelitian ini dipimpin oleh peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Ayu Savitri Nurinsiyah, bersama tim kolaborator. Hasil kajian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional bereputasi tinggi ZooKeys pada tahun 2026. Publikasi ini menjadi bagian dari upaya ilmiah untuk mendokumentasikan kekayaan spesies Indonesia yang masih terus ditemukan hingga saat ini.

Proses Penelitian yang Panjang

Penemuan spesies baru ini merupakan hasil penelitian panjang yang dimulai sejak 2021 dan baru dipublikasikan pada 2026. Proses pengambilan sampel dilakukan pada 2021 dalam kegiatan Ekspedisi Karakterisasi dan Valuasi Kawasan Ekosistem Esensial di kawasan karst Sumatra. Ekspedisi tersebut bertujuan untuk memetakan serta mengidentifikasi berbagai organisme yang hidup di ekosistem karst yang dikenal memiliki tingkat endemisitas tinggi.

Setelah pengambilan sampel di lapangan, penelitian dilanjutkan dengan proses telaah taksonomi secara mendalam yang berlangsung hingga 2025. Tahapan ini meliputi pengamatan morfologi cangkang, analisis karakter fisik, serta pembandingan dengan spesimen koleksi ilmiah yang tersimpan di berbagai institusi riset. Proses tersebut penting untuk memastikan bahwa spesimen yang ditemukan benar-benar merupakan spesies yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya.

Menurut Ayu Savitri Nurinsiyah, proses menemukan dan mendeskripsikan spesies baru membutuhkan waktu yang panjang dan melalui tahapan ilmiah yang ketat. Setiap kandidat spesies baru harus melalui proses verifikasi yang mencakup kajian morfologi, anatomi, bahkan genetika, serta dibandingkan dengan spesies yang sudah diketahui sebelumnya.

“Perjalanan panjang pengungkapan keanekaragaman hayati sudah menjadi jejak langkah setiap taksonom. Mulai dari ekspedisi dan eksplorasi di lapangan, telaah literatur dan laboratorium, hingga proses penulisan dan pengakuan secara internasional. Meski panjang dan penuh tantangan, saya percaya setiap proses dalam perjalanan ini akan selalu bermakna dan bermanfaat,” ujar Ayu.

baca juga

Spesies Endemik yang Rentan

Hingga saat ini, spesies Chamalycaeus dayangmerindu diketahui hanya ditemukan di kawasan karst Padang Bindu di Sumatra Selatan. Kondisi tersebut menjadikannya sebagai spesies endemik dengan wilayah sebaran yang sangat terbatas. Spesies yang memiliki distribusi sempit seperti ini umumnya sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.

Aktivitas manusia seperti alih fungsi lahan, penambangan kawasan karst, hingga degradasi habitat alami dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup spesies tersebut. Oleh karena itu, dokumentasi ilmiah terhadap spesies baru menjadi langkah awal yang sangat penting dalam upaya konservasi. Tanpa adanya identifikasi dan publikasi ilmiah, suatu spesies berpotensi hilang bahkan sebelum sempat diketahui oleh dunia sains.

Kolaborasi Peneliti dan Regenerasi Ilmuwan

Penelitian ini juga merupakan hasil kolaborasi lintas institusi. Selain peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, penelitian ini melibatkan akademisi dari Universitas Negeri Surabaya serta Széchenyi István University di Hungaria.

Salah satu penulis dalam penelitian tersebut adalah Latifah Nurul Aulia, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya yang melakukan penelitian di BRIN sejak mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Latifah kemudian melanjutkan risetnya melalui program Bantuan Riset bagi Talenta Riset dan Inovasi (BARISTA) BRIN hingga tahap penyusunan tugas akhir.

Ayu menilai kolaborasi tersebut juga menjadi bagian penting dalam upaya regenerasi peneliti di bidang taksonomi dan biosistematika yang saat ini masih terbatas.

“Tidak mudah mencari generasi penerus dalam bidang taksonomi dan biosistematika, terlebih pada kelompok taksa keong yang masih relatif jarang diminati. Kami berharap semakin banyak generasi muda yang curious dan peduli terhadap pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia,” tambah Ayu.

Mendorong Eksplorasi Biodiversitas Indonesia

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam artikel ilmiah berjudul Operculate land snails (Gastropoda, Caenogastropoda, Cyclophoroidea) from Padang Bindu Karst, South Sumatra, Indonesia with the description of a new species, Chamalycaeus dayangmerindu di jurnal ZooKeys edisi 1272: 1–31 (2026).

Melalui temuan ini, tim peneliti berharap eksplorasi biodiversitas, khususnya moluska darat di Indonesia, dapat terus berkembang. Upaya ini penting sebagai bagian dari pendataan serta pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan, mengingat masih banyak spesies yang kemungkinan belum teridentifikasi di berbagai ekosistem Nusantara.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.