situs batujaya kompleks percandian tertua di nusantara - News | Good News From Indonesia 2026

Situs Batujaya, Kompleks Percandian Tertua di Nusantara

Situs Batujaya, Kompleks Percandian Tertua di Nusantara
images info

Situs Batujaya, Kompleks Percandian Tertua di Nusantara


 

Kompleks Percandian Batujaya berdiri sebagai monumen bata merah tertua di Nusantara yang menyimpan rahasia peradaban dari masa Kerajaan Tarumanegara.

 Tersebar di area seluas lima kilometer persegi di antara hamparan sawah hijau Karawang, situs ini bukan sekadar reruntuhan, melainkan saksi bisu transisi zaman prasejarah menuju era Hindu-Buddha.

Lokasinya yang berada di dekat aliran Sungai Citarum menjadikan kompleks ini unik, di mana puluhan gundukan tanah atau unur perlahan mengungkap kemegahan arsitektur masa lalu yang sempat terkubur endapan aluvial selama berabad-abad.

 

Sekilas Mengenai Kompleks Percandian Batujaya

Penelitian intensif di kawasan ini dimulai pada 1984 oleh tim arkeologi Universitas Indonesia setelah adanya laporan temuan benda purbakala di gundukan tanah milik warga.

Kawasan ini mencakup dua lapisan budaya yang sangat berbeda, yaitu masa prasejarah dan masa Hindu-Buddha.

Temuan rangka manusia dengan bekal kubur serta manik-manik dari abad ke-1 hingga ke-3 menunjukkan bahwa wilayah ini sudah menjadi pusat hunian dan aktivitas spiritual jauh sebelum kompleks percandian bata dibangun.

Secara historis, pembangunan utama candi berlangsung pada masa keemasan Raja Purnawarman. Meskipun Tarumanegara dikenal sebagai kerajaan bercorak Hindu, keberadaan kompleks candi Buddha yang sangat luas di Batujaya membuktikan adanya harmoni dan toleransi beragama yang tinggi pada masa itu.

Situs ini akhirnya mulai ditinggalkan sekitar abad ke-7, kemungkinan besar karena bencana banjir besar dari Sungai Citarum yang menimbun bangunan-bangunan tersebut hingga menjadi gundukan tanah.

 

Daya Tarik Utama Kompleks Percandian Batujaya

Candi Jiwa menjadi magnet utama bagi pengunjung karena arsitekturnya yang menyerupai bunga padma atau teratai mekar tanpa adanya tangga masuk.

Bagian tengahnya memiliki denah melingkar yang diduga sebagai bekas stupa atau tempat meletakkan patung Buddha, sehingga memberi kesan bangunan ini sedang terapung di atas air. Sekitar 100 meter dari sana, berdiri Candi Blandongan yang jauh lebih luas dan memiliki empat tangga di setiap sisi mata angin.

Keunikan lain dari situs ini adalah penemuan artefak berharga seperti lempengan emas beraksara Pallawa dan jimat atau amulet yang menceritakan peristiwa Mukjizat Ganda Buddha Shakyamuni.

Teknik konstruksinya juga tergolong sangat maju, menggunakan campuran batu kerikil, pasir, dan kapur sebagai penguat struktur bangunan. Di sekitar lokasi pemugaran, Kawan masih bisa melihat puluhan unur lain yang masih menyimpan sisa-sisa bangunan dan fragmen arca yang belum sepenuhnya tergali.

Selain reruntuhan candi, terdapat jejak budaya megalitik berupa menhir yang menambah nilai arkeologis kawasan ini. Kawan bisa melihat langsung bagaimana material lokal seperti sekam padi digunakan sebagai campuran bata merah yang terbukti kuat bertahan selama ribuan tahun di bawah tanah.

 

Akses Menuju Kompleks Percandian Batujaya

Lokasi situs berjarak sekitar 50 km dari Jakarta dan dapat dicapai melalui jalur tol Jakarta-Cikampek. Kawan bisa keluar di gerbang tol Karawang Barat, lalu mengambil arah menuju Rengasdengklok hingga sampai ke wilayah Batujaya.

Waktu tempuh perjalanan bisa mencapai tiga jam karena kondisi infrastruktur jalan yang melewati pemukiman padat dan area industri sebelum memasuki kawasan pedesaan.

Kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor, adalah pilihan paling praktis karena belum tersedianya transportasi umum yang menjangkau langsung ke titik lokasi candi. J

alanan desa menuju situs cenderung sempit namun sudah terlapisi beton, sehingga cukup nyaman untuk dilalui. Navigasi digital sangat membantu agar Kawan tidak tersesat di antara persimpangan jalan sawah yang menuju ke berbagai titik.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Kunjungan ke Situs Batujaya tidak dibatasi oleh jam operasional. Belum ada penetapan harga tiket masuk secara resmi oleh pengelola, sehingga pengunjung biasanya memberikan donasi sukarela di pos penjagaan.

Saat cuaca cerah, pagi hari adalah waktu paling cocok untuk mengeksplorasi area karena suhu udara di tengah persawahan bisa sangat menyengat saat siang hari.

Fasilitas pendukung seperti museum kecil yang menyimpan artefak temuan tersedia di lokasi, sementara toilet dan warung makan bisa ditemukan di pemukiman warga terdekat.

Wisatawan diharapkan tetap menjaga kondisi batu bata dengan tidak memanjat atau duduk di atas struktur candi yang rapuh. Mengingat minimnya peneduh alami, pastikan Kawan membawa pelindung kepala atau payung saat berkeliling dari satu candi ke candi lainnya.

 

Ayo Berkunjung ke Kompleks Percandian Batujaya!

Eksplorasi ke Batujaya memberikan pengalaman melihat akar peradaban tertua di Nusantara yang masih terjaga keasliannya.

Kawan bisa menyaksikan langsung perpaduan antara sejarah prasejarah dan kejayaan masa Hindu-Buddha dalam satu lanskap yang luas.

Jadi, apakah Kawan tertarik berkunjung ke Candi Batujaya?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.