pamose tradisi khas mamuju yang identik dengan debus - News | Good News From Indonesia 2026

Pamose: Tradisi Khas Mamuju yang Identik dengan Debus

Pamose: Tradisi Khas Mamuju yang Identik dengan Debus
images info

Pamose: Tradisi Khas Mamuju yang Identik dengan Debus


Penulis meyakini bahwa Kawan sudah tidak asing dengan debus, kesenian tradisional yang terdapat di Provinsi Banten. Sebagaimana dilansir dari gramedia.com, debus telah hadir sejak abad ke-16 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin dari Banten (1532-1570).

Debus sendiri mulai dikenal sebagai salah satu teknik penyebaran agama Islam yang dipopulerkan oleh Nurrudin Ar-Raniry, seorang tokoh muslim dari Tarikat al-Rifa’iyah dengan menunjukkan kekuatan spiritual melalui prosesi melukai diri sembari membacakan doa dari Al-Qur’an sebagai upaya memohon keselamatan.

Debus pun digunakan oleh masyarakat daerah sebagai media guna menggelorakan semangat perjuangan selama bertempur melawan Belanda. Diketahui sempat menghilang akibat melemahnya Kesultanan Banten dibawah kekuasaan Sultan Rafiudin, kesenian debus kembali muncul pada dekade 1960-an hingga menjadi sarana hiburan adat seperti sekarang ini.

Siapa sangka, kalau debus memiliki “saudara kembar” nan jauh lintas pulau? Mari, kita berkenalan dengan Tradisi Pamose!

baca juga

Orisinal dari Sulawesi Barat

Diinformasikan dari penelitian tugas akhir yang disusun oleh Transiska (2018), Pamose merupakan tradisi turun-temurun yang berlokasi di Desa Topoyo, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Tradisi ini sendiri berasal dari kata dasar “mose” dengan mendapat imbuhan “Pa-“ atau “Ma-“.

Jika dilafalkan menjadi Pamose, maka akan memiliki arti ‘orang yang sedang melakukan mose’ (dari sudut pandang pelaku), sedangkan kalau dilafalkan menjadi Mamose, maka akan berarti ‘orang yang menyaksikan pelaksanaan ritual tersebut lalu menceritakan kejadian mose’ (dari sudut pandang orang ketiga).

Sebagaimana dari bahasa Topoyo, Pamose diartikan sebagai tarian para kesatria dengan bersenjatakan parang yang dipersembahkan kepada Tobaha (ketua adat) usai berperang. Memang pada masa lampau, para kesatria memberitakan kembali kemenangan perang atas musuh dihadapan Tobaha, kemudian juga kepada Pontai (penasihat ketua adat), Pondoulu (juru perekonomian), Pahombi (juru pertanian), Sanro (dukun lokal), Pajimo (pemukul gendang), Imam Adat serta masyarakat setempat mengenai bagaimana mereka menaklukkan musuh dan memenangkannya.

Tradisi Pamose dalam implementasinya sudah terpengaruh dengan ajaran keislaman, mengingat kini wilayah Mamuju Tengah khususnya di Topoyo sekitar 90% penduduknya adalah muslim, menunjukkan relevansinya dengan sejarah debus. Tradisi ini diselenggarakan secara berkelompok, bersifat tidak perorangan.

Bentuk Pelaksanaan

Transiska telah merinci proses penyelenggaraan Tradisi Pamose semenjak dari awal hingga akhirnya dalam 3 tahapan.

1. Magora

Magora apabila diartikan dari bahasa Topoyo adalah ‘mengambil obat untuk keselamatan’. Pelaksanaan magora sendiri merupakan pendahuluan dari Tradisi Pamose yang dilakukan sehari sebelumnya.

Kegiatan ritual ini dilaksanakan dengan menggunakan katinting (perahu bermotor) yang bergerak menyusuri Sungai Budong-budong, yang dimulai dari hulu menuju hilir. Adapun Pontai bertugas memimpin jalannya ritual magora. Sesuai maknanya, magora bertujuan untuk meminta keselamatan kampung selama berlangsungnya acara utama.

2.Magane (Syukuran)

Magane jika diartikan adalah ‘doa’. Setelah magora dilaksanakan, maka dilanjutkan dengan ritual magane, yaitu aktivitas berdoa atau biasa juga disebut sebagai wujud syukuran. Tujuan dilaksanakannya magane adalah tidak hanya mendoakan seluruh masyarakat kampung, tetapi juga mendoakan benda-benda pusaka peninggalan leluhur.

Bahkan, benda pusaka tersebut akan dibersihkan dan diberi sesajen. Adapun benda pusaka yang dimaksud seperti tombak, gendang, keris, parang, serta kondobulo (kapak kecil) yang disimpan sejak lama oleh para leluhur. Mereka yang berperan sebagai Sanro dan Imam Adat dalam ritual ini percaya apabila benda pusaka yang ada tidak didoakan, maka niscaya bencana alam akan menimpa segenap warga kampung.

3. Pamose

Seusai magora dan magane dilakukan, ritual selanjutnya adalah melaksanakan Tradisi Pamose sebagai kegiatan inti. Ritual ini biasanya dilakukan di halaman rumah ketua adat atau pada tempat yang telah disepakati bersama.

Mengingat umumnya benda pusaka dijaga oleh sang ketua adat, maka kegiatan seringkali dilakukan di rumah yang bersangkutan demi efisiensi. Proses ritual bersifat terbuka sehingga siapapun diizinkan menghadiri ritual tersebut. Selama acara berlangsung, Pontai yang akan membuka ritual Pamose.

Sebagaimana juga diwartakan dari berbagai sumber, Pamose selaku tokoh adat yang tengah beraksi akan berbicara dalam bahasa Topoyo lalu menyampaikan pesan atau syair pemanna terhadap Tobaha maupun masyarakat.

Aksi ini diselingi dengan unjuk diri menebas-nebas bagian tubuh seraya terus memompa semangat persatuan, keberanian, serta kebersamaan masyarakat daerah. Sebelum itu, mereka yang menjadi Pamose akan meminta izin kepada Tobaha maupun pue’ ballung dan masyarakat setempat untuk melakukan tradisi ini—yang dalam bahasa Topoyo adalah di pattabe’i.

baca juga

Esensi Kegiatan serta Kebermaknaannya

Masyarakat asli Desa Topoyo sendiri meyakini bahwa Tradisi Pamose bersifat wajib dilakukan setiap tahunnya. Alasan mayor yang dikemukakan adalah agar dapat terhindar dari segala musibah yang membahayakan, mengingat status tradisi ini sebagai ritual pembersihan desa dan keselamatan kampung. Sebelumnya, tradisi ini diselenggarakan sekitar 3 kali setahun. Karena satu dan lain hal, penyelenggaraan untuk sekarang hanya dilakukan 1-2 kali saja.

“Jadi ini pamose diadakan supaya aman ini kampung ta, tidak ada banjir-banjir, tidak ada masalah, pokoknya dijauhkan semua dari musibah. Supaya nda banyak orang sakit-sakit, tidak banyak orang meninggal, tidak banyak orang berkelahi sampenya baku bunuh. Pokoknya ini pamose kita adakan supaya aman ii kampung ta, tenang kampung ta,” ungkap Abdul Jabar (62) yang menjadi salah satu responden dalam penelitian.

“Jadi ini ee pamose, dulunya kan ada kerajaan ini di Topoyo. Ada prajurit yang pigi ii perang melawan musuh, naa sudahnya ini pulang dari perang ini prajurit datang mi menghadap sama Tobaha, nak. Na ceritakan mi bagaimana bisa na peroleh ini kemenangan pada saat melawan musuh, bagaimana caranya ii perang sambil na bawa mi itu parangnya atau senjatanya di depannya Tobaha sama orang-orang yang ada di sana,” demikian ungkapan tambahan dari Taresi (63) yang merupakan ketua adat setempat.

Secara kontekstual, karena zaman telah berubah, Tradisi Pamose beradaptasi dari yang tadinya berkaitan dengan peperangan era dulu menjadi prosesi yang erat fungsinya terkait pembukaan lahan demi bercocok tanam dan sebagai upacara tolak bala. Masyarakat tidak menginginkan kepunahan akan tradisi ini. Mereka berharap kawula muda menghidupkan semangat tradisi lawas yang kaya maknanya bagi kemaslahatan umat.

Mari, Kawan, kita gelorakan kembali Tradisi Pamose di era digital ini!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.