Dalam upaya menyemarakkan Ramadan 1447 H, Dompet Dhuafa memperkuat sinergi bersama jurnalis melalui tinjauan lapangan di wilayah Parung, Bogor, Jawa Barat. Fokus utama kunjungan ini adalah melihat langsung dampak program pemberdayaan ekonomi melalui peternakan ayam arab petelur yang berbasis di Pondok Pesantren Miftahul Jannah.
Memilih Ayam Arab: Stabilitas di Tengah Volatilitas
Pemilihan komoditas menjadi kunci keberhasilan program ini. Nur Imam Saputra, perwakilan Dompet Dhuafa, menjelaskan alasan strategis di balik pemilihan ayam arab dibandingkan ayam ras broiler yang lebih umum di pasaran.
“Kenapa kami membuat program ayam arab kenapa bukan ayam ras umumnya, di tahun 2022 pada masa itu harga ayam broiler naik turun, sedangkan ayam arab nilai jual stabil karena penjualan tidak perkilo melainkan satuan, jadi harganya lebih stabil. Makanya program pengembangan peternakan diambil dengan menernakkan ayam arab lebih memiliki nilai tinggi dan menariknya lagi dan ini sangat potensial di kawasan Zona Madina," papar Nur Imam.
Secara teknis, ayam arab memiliki keunggulan kompetitif. Selain daya tahan tubuh yang kuat dan kandungan protein tinggi, ayam ini lebih hemat pakan. Rata-rata konsumsi pakan hanya 80–90 gram per hari, lebih efisien dibandingkan ayam ras yang mengonsumsi lebih dari 100 gram. Selain itu, masa bertelur ayam arab tergolong panjang, yakni mencapai dua tahun.
Model Kemitraan Plasma: Dari Hulu ke Hilirisasi
Program ini dirancang secara terintegrasi. Rohman, pendamping program dari Dompet Dhuafa, menerangkan bahwa sistem yang digunakan adalah kemitraan berbasis kandang atau plasma. Saat ini, terdapat 13 kandang plasma yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Bogor.
Setiap penerima manfaat mengelola satu kandang dengan kapasitas 250 ekor. Dengan tingkat produktivitas harian mencapai 150 hingga 180 butir telur, seluruh hasil panen dikumpulkan di gudang telur kawasan Zona Madina—sebuah kawasan pemberdayaan terpadu berbasis wakaf.
“Telur-telur yang dihasilkan kemudian dikumpulkan dan dipasarkan melalui gudang telur di kawasan Zona Madina untuk selanjutnya didistribusikan kepada agen, distributor, hingga penjualan eceran," ujar Rohman.
Penentuan harga dilakukan berdasarkan ukuran (grading):
• Kecil (<35 gram): Rp1.800/butir
• Sedang (35-45 gram): Rp2.200/butir
• Besar (>45 gram): Rp2.500/butir
Dampak Nyata bagi Penerima Manfaat
Salah satu sosok yang merasakan dampak langsung adalah Yahya. Pria yang berprofesi sebagai guru ngaji ini sebelumnya hanya mengandalkan penghasilan tidak menentu dari mengajar. Kini, ia mengelola peternakan dengan hasil rata-rata 150-160 butir telur per hari.
“Telur-telur itu dapat bertahan hingga 30 hari, sehingga masih memiliki waktu cukup panjang untuk didistribusikan," kata Yahya, Rabu (11/3/2026).
Sistem keuangan program ini sangat transparan. Setelah pendapatan kotor dipotong biaya operasional (pakan, vitamin, vaksin), Yahya menerima penghasilan bersih antara Rp1,2 juta hingga Rp2 juta per bulan. Sebagian pendapatan juga disisihkan sebagai tabungan untuk membeli bibit ayam baru saat masa produktif habis (usia 20 bulan), sehingga usaha tetap berkelanjutan.
Meski perubahan ekonomi keluarga belum dirasakan secara drastis, Yahya mengaku jauh lebih tenang karena memiliki kepastian pendapatan.
“Awalnya belum ada penghasilan tetap. Sekarang ada program ini, ya sudah kelihatan penghasilannya. Setidaknya sudah ada harapan karena ada penghasilan tetap. Sekarang sudah ada harapan dengan adanya kita bergabung di ekosistem Zona Madina ini, ya harapannya sudah terang,” ungkapnya sambil tersenyum.
Melalui sinergi hulu-hilir di Zona Madina, populasi ayam di 12 kandang mampu menghasilkan 1.500 hingga 2.000 butir telur sehari. Program ini membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat dan pemilihan komoditas yang cerdas, masyarakat kecil mampu memiliki kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


