Berbelanja berbagai kebutuhan menjadi salah satu hal yang identik jelang Hari Raya Idulfitri setiap tahunnya. Setiap kebutuhan biasanya akan diperbarui menjelang momen besar bagi umat Islam ini, mulai dari pakaian, peralatan rumah, dan ornamen lainnya.
Meskipun tidak menjadi sebuah kewajiban yang disyariatkan dalam agama, momen berbelanja menjelang Hari Raya Idulfitri seakan sudah menjadi budaya bagi sebagian masyarakat. Setiap orang ingin tampil maksimal pada momen penting yang datang sekali setahun tersebut.
Bahkan kebiasaan ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Tidak heran, berbagai pusat perbelanjaan biasanya akan terlihat penuh sesak menjelang momentum perayaan Hari Raya Idulfitri tersebut.
Tahukah Kawan, ternyata kebiasaan berbelanja jelang perayaan Hari Raya Idulfitri ini tidak hanya berkembang di kalangan masyarakat Indonesia. Kebiasaan ini ternyata juga ada di negara lainnya, seperti di kalangan masyarakat Melayu yang ada di Singapura.
Uniknya, aktivitas berbelanja ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Melayu Singapura di dalam negerinya saja. Banyak juga masyarakat Melayu Singapura yang berbelanja ke negara tetangga untuk mendapatkan barang dengan harga yang lebih terjangkau.
Salah satu contoh fenomena ini bisa ditemukan pada era 1990-an. Pada saat itu, Jakarta menjadi salah satu destinasi yang banyak didatangi oleh masyarakat Melayu Singapura untuk berbelanja jelang momen hari besar tersebut.
Apa alasan masyarakat Melayu Singapura rela terbang jauh hingga ke Jakarta untuk berbelanja jelang momen perayaan Hari Raya Idulfitri pada periode waktu tersebut? Berikut ulasannya.
Jakarta dan Johor Bahru Jadi Tujuan Utama
Harga menjadi salah satu faktor penting yang banyak diperhatikan ketika seseorang berbelanja berbagai kebutuhannya. Potongan harga besar dengan besaran nominal yang terjangkau tentu menjadi salah satu daya tarik utama ketika seseorang memutuskan untuk membeli suatu barang.
Realita ini pula yang turut memengaruhi mengapa banyak masyarakat Melayu Singapura berbelanja ke Jakarta jelang momen Hari Raya Idulfitri di era 1990-an. Dinukil dari artikel "Sanggup Terbang ke Jakarta untuk Beli-belah" yang terbit di surat kabar Berita Harian edisi 5 Maret 1993, Jakarta dan Johor Bahru (Malaysia) menjadi dua destinasi utama yang banyak didatangi oleh masyarakat Melayu Singapura pada waktu itu.
Nilai tukar mata uang Singapura dengan Indonesia serta Malaysia yang berbeda membuat masyarakat Melayu yang ada di sana lebih leluasa untuk berbelanja. Dengan nominal uang yang sama, mereka bisa saja mendapatkan barang kebutuhan yang lebih banyak dibandingkan mesti berbelanja di dalam negeri sendiri.
Bahkan ada juga jasa travel di Singapura yang memberikan paket perjalanan bagi orang-orang yang ingin menghabiskan masa Ramadan di Jakarta. Berbelanja berbagai kebutuhan di berbagai pusat perbelanjaan di Jakarta menjadi salah satu hal yang ditonjolkan dalam paket yang ditawarkan oleh jasa travel tersebut.
Beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta menjadi tujuan utama pada waktu itu adalah Blok M, Pasar Senen, Tanah Abang, Mangga Dua, Pasar Baru, hingga Pasar Seni.
Harga Murah dengan Kualitas Mumpuni
Dalam artikel tersebut, penulis menceritakan kisah dari dua orang warga Melayu Singapura yang berkesempatan datang ke Jakarta dalam momen tersebut, yakni Nirza A. Rahim dan Salwah Mohd Din.
Pada kesempatan tersebut, Nirza diketahui hendak membeli kasur, pakaian, dan beberapa keperluan rumah tangga lainnya. Harga murah yang ditawarkan di pusat perbelanjaan di Jakarta menjadi daya tarik utama mengapa Nirza datang untuk berbelanja pada waktu itu.
Harga yang ditawarkan di Jakarta diketahui lebih murah tiga kali lipat dari apa yang bisa dia temui di Singapura. Meskipun lebih murah, kualitas yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan produk yang ada di negara asalnya tersebut.
Cerita yang sama juga dirasakan oleh Salwah Mohd Din. Dia merasa tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan berbagai macam keperluan ketika berbelanja di Jakarta pada waktu itu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


