Ade Putri Paramadita adalah seorang petualang rasa, kurator kuliner, dan pencerita makanan (food storyteller) asal Indonesia. Namanya mulai dikenal publik lewat kecintaannya yang mendalam terhadap kekayaan pangan lokal. Berbeda dengan kritikus makanan yang fokus pada penilaian rasa, Ade lebih memilih untuk menggali cerita di balik dapur.
Sebelum mendedikasikan dirinya di dunia kuliner, Ade Putri memiliki latar belakang yang kuat di dunia penyiaran. Suaranya yang khas pernah menghiasi gelombang radio (seperti Prambors), yang mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi dan membangun narasi. Kemampuan storytelling inilah yang kemudian ia bawa ke dunia kuliner, menjadikan setiap ulasan makanannya terasa sangat hidup dan personal.
Istilah food storyteller yang disandang Ade Putri bukan sekadar gelar keren di media sosial. Ia menjalankan peran sebagai jembatan antara petani, produsen bahan pangan lokal, juru masak tradisional, dengan konsumen modern.
Bahasa Cinta
Ade semakin giat membangun jati dirinya sebagai pencerita makanan sejak 2012. Saat itu ia diajak pakar kuliner William Wongso untuk lebih dekat dengan kuliner khas Indonesia yang memberinya pengatahuan dari segi tradisi hingga budaya.
“Waktu itu ada perkumpulan namanya Aku Cinta Makanan Indonesia. Mulai ikutan di sana terus kayak mulailah terpapar lebih banyak lagi makanan-makanan Indonesia. Aku si yang paling sering makan masakan Indonesia ngerasa, ‘pengetahuan gue tentang masakan Indonesia ternyata dikit banget ya’. Masih banyak hal yang aku sama sekali enggak tahu,” ucap Ade kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Sudah bertahun-tahun Ade menyandang predikat pencinta makanan dan internet membuatnya semakin dikenal. Ia berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya di Indonesia untuk menggali kisah dari masyarakat lokal yang memasak kuliner daerahnya.
Dari banyaknya penjelajahan, Ade kerap menjumpai satu kesamaan dari orang Indonesia yaitu keramahtamahan dalam urusan menyuguhkan makanan. Menurutnya lewat makanan lah orang Indonesia memperlihatkan kecintaan dan keakraban bahkan untuk orang yang baru saja dijumpai.
“Bahasa cinta orang Indonesia adalah makanan. Ditanya pasti kan, ‘sudah makan?’. Sebisa mungkin dengan apa adanya yang tersaji di meja makan. Di situlah sebenarnya harusnya kita mengapresiasi lagi-lagi terlepas cocok atau enggak sama selera kita untuk membuat mereka percaya diri sama resepnya,” ujar mantan penyiar FeMale Radio Jakarta tersebut.
Keviralan Makanan
Di era internet, status keviralan diburu sejumlah kalangan termasuk pengusaha kuliner. Mereka yang mendapatkan status itu tentu merasa akan berdampak baik bagi perkembangan usaha demi menghasilkan cuan lebih besar.
Bagi Ade Putri sendiri keviralan mengarah ke tantangan. Seperti semisal apakah sang pengusaha sudah siap dengan konsekuensi mendapat permintaan pesanan yang membludak, menurutnya hal itu perlu diperhatikan.
“Buatku tantangannya adalah ketika produk atau tempat mereka menjadi viral, apakah mereka siap menanggung akibatnya? Akibat pertama biasanya lonjakan tamu. Pertanyaannya, apakah sudah siap dengan kapasitas dapur? Apakah sudah tahu sistem yang harus dilakukan ketika overcapacity? Bagaimana meredam orang-orang yang datang jauh-jauh terus ternyata harus antre dua jam dan menghasilkan review buruk. Makanya kata-kata viral ini challenge dan juga ancaman,” ucap Ade.
Keviralan memang menghasilkan baik dan buruk bagi sang pengusaha. Permintaan produksi yang meningkat terkadang membuat kualitas menjadi dikorbankan. Ade pun berharap bagi pengusaha kuliner agar tetap mempertahankan kualitas dan cinta untuk produk yang disajikan untuk penikmatnya.
“Aku sering kali mendoakan setiap tempat ramai tapi ramai yang cukup sampai menghasilkan nilai yang baik secara ekonomi buat mereka semua, tapi enggak sampai kelabakan. Karena aku yakin kalau aku punya restoran terus tiba-tiba viral mungkin aku hanya sibuk mengejar produksi angka. Enggak ada lagi tuh namanya cinta yang aku kasih di makanan. Udah enggak sempat mikirin kayak gitu. Apakah tadi udah persis banget rasanya (dengan resep awal)? Karena kita dikejar oleh quantity bukan quality lagi,” ujar Ade.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

