Aktivitas di berbagai sentra industri tekstil dan alas kaki tanah air meningkat tajam memasuki Maret 2026.
Para produsen kini tengah berada pada titik puncak operasional guna memastikan kebutuhan masyarakat menyambut Ramadhan dan Idulfitri terpenuhi.
Momentum ini didukung oleh pertumbuhan PDB sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang menyentuh 3,55 persen pada tahun lalu. Hal ini dijadikan sebagai landasan bagi industri untuk semakin menggeliat di pasar domestik.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatatan bahwa pemerintah terus berkoordinasi dengan asosiasi industri untuk menjamin kelancaran pasokan.
Target utama saat ini adalah menjaga agar produk lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri saat masa puncak belanja nasional tiba.
"Setiap tahun, momentum Ramadhan dan Idul Fitri selalu diikuti dengan peningkatan konsumsi masyarakat terhadap produk tekstil dan alas kaki. Kapasitas produksi nasional saat ini berada dalam kondisi optimal dan siap memenuhi kebutuhan tersebut," ujar Agus Gumiwang Kartasasmita.
Sektor Padat Karya dan Penyerapan Tenaga Kerja
Industri TPT pun kembali menunjukkan perannya sebagai penyerap tenaga kerja manufaktur terbesar di Indonesia.
Jumlah tenaga kerja di sektor ini mencapai 3,96 juta orang pada Agustus 2025, meningkat signifikan dibandingkan awal tahun tersebut.
Kenaikan pesanan untuk busana muslim, kain sarung, pakaian anak, sehingga sepatu kasual secara otomatis mendorong penyerapan tenaga kerja tambahan di berbagai unit produksi.
Rizky Aditya Wijaya, Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki, memaparkan bahwa geliat ini menciptakan efek domino ekonomi yang positif bagi masyarakat luas.
Semakin banyak produk lokal yang dikonsumsi, semakin kuat pula kapasitas industri dalam menjaga stabilitas lapangan kerja nasional.
"Sektor Industri TPT terus menjalankan fungsi sosial-ekonominya sebagai sektor padat karya. Ini menunjukkan bahwa industri TPT masih menjadi salah satu tulang punggung penyerapan tenaga kerja manufaktur," kata Rizky Aditya Wijaya.
Menjaga Pasar Domestik
Guna mengamankan pasar bagi produsen lokal, pemerintah memperketat pengawasan terhadap masuknya pakaian bekas impor ilegal yang dinilai merusak struktur harga.
Perlindungan ini khususnya ditujukan bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) agar dapat bersaing secara sehat. Selain pengawasan pasar, ketersediaan bahan baku seperti serat dan benang juga dipantau ketat agar harga produk akhir tetap terjangkau di tingkat konsumen.
Laporan dari pengusaha yang tergabung dalam API dan APRISINDO mengonfirmasi adanya kenaikan volume produksi secara konsisten sejak awal tahun 2026. Produk-produk kebutuhan lebaran dipastikan tersedia merata di seluruh jaringan distribusi, mulai dari pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan modern.
"Kami terus memperkuat pengawasan terhadap peredaran pakaian bekas impor ilegal. Langkah ini penting untuk menjaga keberlangsungan industri tekstil nasional sehingga memberikan ruang yang lebih besar bagi produk dalam negeri untuk berkembang," tegas Rizky.
Transformasi digital dan adopsi teknologi industri juga menjadi senjata utama para produsen untuk meningkatkan produktivitas. Melalui pemanfaatan platform digital yang kian masif, produk-produk buatan anak bangsa diharapkan tidak hanya unggul dalam kualitas, tetapi juga mampu menjangkau konsumen yang lebih luas di seluruh pelosok tanah air.
Momentum Ramadhan tahun ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi penguatan kinerja industri tekstil dan alas kaki secara berkelanjutan sepanjang tahun 2026.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


