Tren terkait diet dan pola makan sudah semakin beragam. Dalam beberapa tahun ini, clean eating menjadi salah satu diet yang populer terutama di media sosial. Apakah sebenarnya clean eating itu?
Hingga saat ini, belum ada definisi resmi untuk clean eating. Dasar dari clean eating adalah pemilihan makanan utuh yang minim pengolahan, bahan tambahan, dan pengawet kimia. Clean eating dapat mencakup buah-buahan utuh, sayuran, protein tanpa lemak, biji-bijian utuh, dan lemak sehat sambil membatasi camilan dan makanan kemasan lain dengan tambahan gula dan garam. Sebuah cara yang terdengar sempurna, bukan hanya untuk mencapai tubuh impian, melainkan juga meningkatkan level kesehatan secara keseluruhan.
Namun, konsep “bersih” ini sebetulnya memunculkan ekspektasi yang tidak realistis. Dalam beberapa kasus, diet bisa berjalan ke arah yang terlalu ketat dan esktrem. Kata “bersih” dapat menjadi suatu pendekatan positif yang sehat, tetapi ternyata bisa juga berarti sebaliknya karena sifatnya yang membatasi.
Istilah "bersih" menyiratkan bahwa tidak mengikuti pola ini berarti "kotor," yang nantinya akan mendorong pembatasan makanan dan obsesi terhadap makan sehat. Efek yang sering terjadi adalah gangguan emosional seperti munculnya emosi negatif jika tidak dapat mengikuti diet dan gangguan fungsional seperti jadwal makan yang kaku.
Makanan tidak hitam-putih. Tidak ada makanan yang bersih atau kotor. The dose make the poison. Suatu hal yang baik untuk selalu berusaha memilih makanan sehat. Namun, memperhatikan kesejahteraan mental saat makan juga tidak kalah penting.
Sesekali makan makanan yang tidak memenuhi kategori “bersih” tidak serta merta membuat tubuh “kotor” dan tidak sehat. Pun jika kita menyoal rasa, makanan sehat tidak selalu sama dengan hambar atau tidak enak. Makan lebih dari sekadar gizi. Ada unsur karya, budaya, dan rasa yang membuatnya perlu dinikmati dengan sebaik-baiknya.
Istilah lain yang mungkin lebih tepat adalah real food atau bahan makanan alami yang minim pemrosesan dan sangat dekat dengan bentuk aslinya. Real food menjadi kebalikan dari ultraprocess food atau produk makanan industri yang melalui banyak tahapan pengolahan, sering kali menggunakan bahan sintetis, dan mengandung bahan tambahan makanan.
Di samping beberapa sisi negatifnya, secara konsep, clean eating sebenarnya dapat menjadi pilihan diet yang baik bagi tubuh dengan mendorong pemilihan makanan yang lebih sehat.
Banyak cara untuk memperbaiki pola makan. Selain dengan belanja dan memasak sendiri, budaya Indonesia memiliki sebuah opsi yang mungkin bisa jadi solusi: warteg.
Kadang makan sehat itu lekat dengan kesan mahal. Bagaimana tidak. Kalau kita cari clean eating di mesin pencarian pasti yang muncul adalah sepiring salad dengan sayur beraneka ragam. Cantik, tapi rasa-rasanya kita lebih sering makan sayur sop dibanding makan salad macam itu.
Belum lagi kadang di beberapa menu ada bahan seperi ikan salmon, kacang almond, blueberry, kiwi, oatmeal, yogurt, dan bahan-bahan lain yang saya yakin tidak semua orang Indonesia tahu. Pun tidak semua orang suka. Padahal, untuk makan bergizi tinggi tidak harus selalu membayar dengan harga yang tinggi. Kebiasaan makan sehat bisa dimulai dari hal-hal yang dekat dan mudah.
Warung tegal atau warteg sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Warteg menjadi primadona karena menyediakan beragam pilihan makanan mulai dari sayur hingga lauk. Tak hanya menawarkan kenyamanan dalam hal pilihan, warteg juga ramah bagi kantong semua orang. Semua makanan bebas dipilih sesuai selera tanpa khawatir akan membuat isi dompet habis tak bersisa.
Karedok/pecel nampaknya serupa dengan salad. Belum lagi sayur-sayuran bening yang menyegarkan. Sayur tumis juga beragam pilihannya. Tidak melulu direbus, menu tumisan masih sangat mungkin menjadi pilihan. Tempe dan tahu, protein nabati kaya manfaat dengan harga murah.
Beragam pilihan jenis ikan seperti ikan mas, tongkol, kembung, atau lele gizinya juga tak kalah dengan salmon. Memilih makan sayur bening bayam, misalnya ditambah tempe tahu bacem serta ikan goreng atau pepes tampaknya sudah menceklis semua kategori makanan sehat versi clean eating tadi. Untuk masalah komposisi dan porsi dalam sekali makan kita bisa berkenalan dengan “isi piringku”, salah satu poin dalam pedoman gizi seimbang, pedoman baru yang menggantikan pedoman 4 sehat 5 sempurna. Sudah.
Tinggal yang perlu diperhatikan adalah penggunaan santan seperti dalam kuah sayur dan minyak seperti gorengan atau kerupuk. Bisa dikurangi konsumsinya sedikit demi sedikit. Apapun makanannya, kuncinya adalah tidak berlebihan dan peduli kondisi tubuh sendiri.
Memang segala hal dalam hidup harus seimbang, termasuk juga soal makanan. Kita tidak perlu (dan memang tidak ada) makanan yang sempurna. Tinggal bagaimana membuat makanan tidak hanya menyehatkan, tetapi juga menyenangkan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


