Pada Maret 2026 lalu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui akun media sosialnya menuntut Iran untuk menyerah tanpa syarat agar nanti negara tersebut akan memperoleh masa depan yang cerah.
“There will be no deal with Iran except UNCONDITIONAL SURRENDER! After that, and the selection of a GREAT & ACCEPTABLE Leader(s), we, and many of our wonderful and very brave allies and partners, will work tirelessly to bring Iran back from the brink of destruction, making it economically bigger, better, and stronger than ever before. IRAN WILL HAVE A GREAT FUTURE. “MAKE IRAN GREAT AGAIN (MIGA!).” Thank you for your attention to this matter! President DONALD J. TRUMP.”
Demikian isi pesan Trump tersebut, yang artinya kurang lebih sebagai berikut:
"(Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali PENYERAHAN TANPA SYARAT! Setelah itu, dan pemilihan Pemimpin yang HEBAT & DAPAT DITERIMA, kami, dan banyak sekutu dan mitra kami yang luar biasa dan sangat berani, akan bekerja tanpa lelah untuk membawa Iran kembali dari ambang kehancuran, membuatnya secara ekonomi lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari sebelumnya. IRAN AKAN MEMILIKI MASA DEPAN YANG CERAH. "JADIKAN IRAN HEBAT LAGI (MIGA!)." Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini! Presiden DONALD J. TRUMP)."
Trump menambahkan bahwa tuntutannya kepada Iran itu "Cry Uncle”—sebuah frasa atau idiom terkenal di Amerika Serikat sejak sekitar tahun 1900 yang berarti mengakui kekalahan, menyerah, atau memohon belas kasihan. Frasa tersebut sering digunakan ketika menggambarkan dua anak sekolah yang berkelahi, di mana yang satu memiting leher lawannya dan baru dilepaskan kalau dia menjerit “Cry Uncle” untuk mengatakan bahwa dia menerima kekalahan.
Dulu, menjelang perang yang pecah di kota Surabaya tanggal 10 November 1945 atau yang terkenal dengan Battle of Surabaya, arek-arek Suroboyo juga menerima ancaman yang serupa dengan yang diberikan Trump kepada Iran. Ancaman atau ultimatum itu diberikan oleh perwira Kerajaan Inggris dari pihak sekutu, Mayor Jenderal Mansergh, dengan beberapa poin utama yang harus dipatuhi untuk mengatasi perlawanan di Surabaya.
Pertama, rakyat Indonesia diminta untuk menyerahkan seluruh persenjataan mereka dan menghentikan perlawanan terhadap pasukan AFNEI (Anglo-French Netherlands East Indies) serta administrasi NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, serangan besar-besaran dari darat, laut, dan udara akan dilancarkan terhadap Surabaya. Kedua, ultimatum tersebut mewajibkan semua pemimpin bangsa dan pemuda di Surabaya untuk berkumpul di lokasi yang telah ditentukan pada tanggal 10 November 1945, sebelum pukul 06.00 pagi.
Iran dan Indonesia, pada waktu yang berbeda, sama-sama dengan gagah berani melawan ancaman atau ultimatum dari Amerika Serikat dan pasukan Sekutu. Khusus di Surabaya, Sutomo alias Bung Tomo mewakili arek-arek Suroboyo di depan corong radio dengan lantang menolak ultimatum Sekutu. Ini penggalan kata-kata heroik dari Bung Tomo ketika melawan ancaman Sekutu itu:
"Bismillahirrahmanirrahim…
Merdeka!
Saudara-saudara, rakyat jelata di seluruh Indonesia, terutama saudara-saudara penduduk Kota Surabaya………………
Mereka telah minta, supaya kita semua datang kepada mereka itu, dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah kepada mereka.
Saudara-saudara, di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau, kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, Pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing, dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung,
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.
Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu, saudara-saudara, dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini, maka kita tunduk untuk menghentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu, mereka telah memperkuat diri, dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya…….
Hei tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang kita rampas dari Jepang untuk diserahkan kepadamu.
Tuntutan itu, walaupun kita tahu, bahwa kau sekalian akan mengancam kita, untuk menggempur kita dengan seluruh kekuatan yang ada, tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih.
Maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga!
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting.
Tetapi saya peringatkan sekali lagi, jangan mulai menembak!
Baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan, bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka!
Dan untuk kita, saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka!
Dan kita yakin, saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar..!
Allahu Akbar..! Allahu Akbar…!
Merdeka!!!
Sama dengan rakyat Surabaya yang melawan ancaman Sekutu, Presiden Iran juga telah menolak seruan Trump untuk menyerah tanpa syarat. Ia menganggap menyerahnya Iran hanyalah "mimpi", sembari menyatakan permintaan maaf atas serangan Iran yang menghantam negara-negara tetangga, bahkan ketika rudal dan drone terus menyerang negara-negara Teluk. Dalam pidato yang direkam sebelumnya dan disiarkan di televisi pemerintah pada hari Sabtu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan negara itu tidak akan pernah menyerah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


