Dalam sejarah Nusantara, tidak banyak perempuan yang tercatat memegang kekuasaan tertinggi sebuah kerajaan besar. Salah satu tokoh yang menorehkan keberhasilan tersebut adalah Tribhuwana Tunggadewi. Ia dikenal sebagai ratu Majapahit yang memerintah pada abad ke-14 dan memainkan peran besar dalam membangun fondasi kejayaan kerajaan.
Di bawah kepemimpinannya, Majapahit tidak hanya berhasil menjaga stabilitas internal, tetapi juga mulai memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah di Nusantara. Kepemimpinan Tribhuwana menjadi bukti bahwa perempuan juga mampu mengendalikan dinamika politik dan militer pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa.
Latar Belakang dan Kenaikan Tahta
Tribhuwana Tunggadewi (Dyah Gitarja) lahir dari keluarga kerajaan. Ia merupakan putri dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, dan Gayatri Rajapatni, putri dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara. Latar belakang tersebut membuat Tribhuwana mewarisi legitimasi politik sekaligus tradisi kekuasaan dari dua dinasti besar.
Setelah Raden Wijaya wafat, takhta Majapahit sempat dipegang oleh putranya, Jayanegara. Namun, kematian Jayanegara pada tahun 1328 menimbulkan kekosongan kekuasaan di kerajaan tersebut.
Gayatri Rajapatni yang sebenarnya memiliki hak atas takhta, memilih menjalani kehidupan sebagai biksuni Buddha. Karena itu, ia menunjuk putrinya, Tribhuwana Tunggadewi.
Penobatan Tribhuwana menjadi ratu merupakan peristiwa yang cukup unik dalam tradisi kerajaan Jawa pada masa itu. Meski sistem monarki sering didominasi laki-laki, Majapahit menunjukkan fleksibilitas politik dengan menerima kepemimpinan perempuan selama memiliki legitimasi kuat dari garis keturunan kerajaan.
Penumpasan Pemberontakan di Pemerintahannya
Awal pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi tidak berlangsung tanpa tantangan. Beberapa wilayah bawahan Majapahit mencoba memanfaatkan masa transisi kekuasaan untuk memberontak. Salah satu pemberontakan paling terkenal terjadi di daerah Sadeng dan Keta pada tahun 1331.
Dalam menghadapi ancaman tersebut, Tribhuwana tidak hanya mengandalkan pejabat kerajaan, tetapi juga menunjukkan keberanian sebagai pemimpin. Ia turut memimpin upaya penumpasan pemberontakan tersebut. Peristiwa ini sekaligus menjadi titik awal munculnya tokoh penting dalam pemerintahan Majapahit, yaitu Gajah Mada.
Berkat keberhasilannya membantu menumpas pemberontakan, Gajah Mada kemudian diangkat menjadi Mahapatih Amangkubhumi pada tahun 1334. Sejak saat itu, hubungan kerja antara Tribhuwana dan Gajah Mada menjadi salah satu pilar penting stabilitas politik Majapahit.
Sumpah Palapa sebagai Penanda Awal Ekspansi Wilayah
Salah satu peristiwa paling terkenal dalam masa pemerintahan Tribhuwana adalah pengucapan Sumpah Palapa oleh Gajah Mada.
Dalam sumpah tersebut, sang mahapatih menyatakan tidak akan menikmati kenikmatan duniawi sebelum berhasil menyatukan wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.
Ikrar tersebut diucapkan di hadapan Tribhuwana dan para pejabat kerajaan. Dukungan ratu terhadap ambisi politik ini menjadi titik awal ekspansi besar Majapahit.
Ekspansi wilayah dimulai dari daerah-daerah di Jawa Timur dan Madura, kemudian meluas ke Bali pada tahun 1343. Penaklukan Bali dilakukan oleh pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Arya Damar, yang berhasil mengalahkan penguasa setempat dan menjadikan wilayah tersebut sebagai bagian dari pengaruh Majapahit.
Tidak hanya itu, ekspansi juga mencapai Sumatra. Tokoh Adityawarman dikirim untuk memperkuat pengaruh Majapahit di wilayah bekas kekuasaan Sriwijaya dan Malayu. Melalui jaringan politik dan perdagangan, Majapahit mulai membangun pengaruhnya di berbagai kawasan Nusantara.
Langkah-langkah ini menjadi fondasi penting bagi kejayaan Majapahit pada masa berikutnya.
Transisi Kekuasaan kepada Hayam Wuruk
Pada tahun 1349, Gayatri Rajapatni wafat. Peristiwa tersebut memiliki makna penting bagi pemerintahan Tribhuwana, karena selama ini ia memerintah atas mandat ibunya. Setelah kematian sang ratu ibu, Tribhuwana memutuskan untuk turun takhta secara sukarela.
Pada tahun 1350, ia menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Hayam Wuruk, yang saat itu masih berusia sekitar 16 tahun. Penobatan Hayam Wuruk menandai babak baru dalam sejarah Majapahit.
Meski tidak lagi menjadi penguasa utama, Tribhuwana tetap memiliki pengaruh dalam pemerintahan. Ia berperan sebagai penasihat bagi putranya dan membantu menjaga kesinambungan politik kerajaan.
Warisan Sejarah Tribhuwana Tunggadewi
Tribhuwana Tunggadewi dikenang sebagai pemimpin yang berhasil meletakkan dasar bagi kebesaran Majapahit. Kepemimpinannya menandai masa konsolidasi kekuasaan setelah periode penuh gejolak pada masa sebelumnya.

Patung Tribhuwanottungadewi, digambarkan sebagai Parwati | Wikimedia Commons: Gunawan Kartapranata
Di bawah pemerintahannya, Majapahit berhasil memperkuat stabilitas internal, menumpas pemberontakan, serta memulai ekspansi wilayah yang kelak membawa kerajaan tersebut mencapai puncak kejayaan pada masa Hayam Wuruk.
Lebih dari itu, sosok Tribhuwana juga menjadi simbol penting kepemimpinan perempuan dalam sejarah Nusantara. Ia menunjukkan bahwa perempuan dapat memainkan peran strategis dalam aspek pemerintahan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


