Ketika ditanya soal penilaiannya tentang perkembangan perang antara Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran dalam siniar Andrew Napolitano, Mantan perwira intelijen Marinir AS dan inspektur senjata PBB, Scott Ritter,langsung mengatakan bahwa sejak hari pertama AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran, keduanya adalah pihak yang kalah.
Orang bisa saja mengatakan penilaian Scott itu subjektif karena ia memang terkenal selalu mengkritisi kebijakan luar negeri negaranya sendiri. Namun melihat pengalaman intelijen dan pengetahuan sejarahnya, Scott memberikan penilaian berdasarkan informasi dan analisis intelijen.
Scott mengkritik Presiden AS, Donald Trump, yang melancarkan serangan ke Iran tanpa legitimasi dari Kongres dan lebih banyak berdasarkan permintaan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Scott bahkan tidak mempercayai hasil analisis intelijen AS sendiri dan para jenderal militernya yang mengatakan bahwa tuduhan Trump bahwa Iran akan membangun bom nuklir tidak berdasar, dan akibat yang ditanggung AS sangat besar mengingat Iran bukanlah Venezuela yang dengan mudah diserbu. Meski demikian, Trump selalu saja percaya begitu saja informasi dari Netanyahu.
Scott juga berpendapat Trump sudah berbohong kepada rakyat AS dan dunia tentang alasan menyerang Iran yang berubah-ubah, dari tuduhan adanya produksi bom nuklir yang mengancam rakyat AS sampai tujuan menggulingkan pemerintahan yang sah Iran, di mana di dalamnya termasuk rencana lama untuk membunuh seluruh pemimpin Iran mulai dari Pemimpin Tertinggi, Presiden, ilmuwan nuklir, dan para jenderal. Trump menduga kalau semua pemimpin Iran dibunuh, maka negara tersebut bakal jatuh dan seluruh rakyat akan turun ke jalan bersukacita merayakan kematian para pemimpinnya, lalu mengudeta pemerintahan Iran yang sah itu.
Scott berpendapat bahwa sejak awal AS kalah dalam peperangan ini karena setelah berhasil membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamene, beserta pejabat-pejabat tinggi Iran lainnya, ternyata dugaan Trump keliru. Tidak ada rakyat Iran yang turun ke jalan merayakan kematian Ali Khamenei. Sebaliknya, jutaan rakyat di berbagai kota dan negara lain justru berkabung dan menyatakan komitmen jihad mereka untuk lebih bersatu melawan AS dan Israel.
Scott bahkan menganggap Trump tidak paham sejarah panjang Iran yang berumur lebih dari 5.000 tahun, budaya Iran yang tinggi, dan yang lebih penting rakyat Iran itu adalah people of faith atau bangsa yang beriman. Trump tidak paham apa itu Syiah, sejarah perang di Karbala, apalagi siapa Sayyidina Ali dan putranya Husein.
Bangsa yang beriman itu percaya tentang mati syahid dan malah menunggu-nunggu kapan mereka gugur. Scott memberikan informasi bahwa Ayatullah Ali Khamenei sudah dinasihati para jenderalnya untuk mengungsi, namun almarhum tidak bersedia karena sudah menyadari bahwa ia menjadi target pembunuhan dan siap untuk gugur yang sebagai syahid di tengah kondisi berjuang pada bulan suci Ramadan.
Lebih jauh lagi, Scott menganggap Trump bodoh karena tidak memahami bahwa Ayatullah Ali Khamenei adalah pemimpin tertinggi kaum Syiah di seluruh dunia, dan membunuhnya tak ubahnya membunuh Paus yang merupakan pemimpin tertinggi umat Katolik dunia, atau Uskup Canterbury sang pemimpin umat Nasrani Inggris, atau Uskup Gereja Ortodoks Rusia. Terbunuhnya Ali Khamenei malah memunculkan solidaritas umat Syiah di berbagai negara untuk melawan Israel dan AS.
Soal orang beriman yang berani mati yang disinggung Scott itu, saya ingat para pejuang kita di masa merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda. Sikap mereka tertulis di dinding-dinding kota, di kereta api: “Merdeka atau Mati”. Hal itu menunjukkan mereka berani mati syahid. Saya ingat sepupu saya, Cak Madjid—seorang pemuda ganteng berkulit bersih, fasih berbahasa Arab, bergabung di Hizbullah—milisi milik NU. Ia berkumpul di kediaman Ibu dan Abah saya bersama-sama para pejuang Hizbullah di mana sudah ada beberapa kiai yang menunggu. Anak-anak muda minta doa sebelum menjalankan misi melawan tentara Belanda. Mereka memang ingin syahid. Sepupu saya itu gugur ditembak Belanda ketika berencana meledakkan sebuah jembatan di Mojokerto tahun 1945.
Untuk bisa melawan Iran yang rakyatnya berani mati syahid itu, mungkin saja Israel dan AS akan menggunakan taktik pecah belah antara umat Islam di kawasan Timur Tengah dengan mengusung isu sektarian yaitu Syiah versus Sunni. Kebetulan pula, negara-negara Teluk yang menganut paham Sunni ikut menjadi sasaran rudal Iran karena memfasilitasi basis-basis militer AS di wilayahnya.
Dulu penjajah Belanda kewalahan melawan rakyat Aceh selama lebih dari 30 tahun, lalu menggunakan Christiaan Snouck Hurgronje, seorang sarjana Belanda bidang budaya Oriental dan bahasa yang fasih berbahasa Arab sekaligus Penasihat Urusan Pribumi pemerintah kolonial Hindia Belanda, untuk menyebarkan informasi yang salah tentang ajaran Islam kepada rakyat Aceh dalam rangka devide et impera (pecah belah dan kuasai).
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

