sultan tidore penakluk penjara cape town dan pendiri masjid tertua di afrika selatan - News | Good News From Indonesia 2026

Sultan Tidore: Penakluk Penjara Cape Town dan Pendiri Masjid Tertua di Afrika Selatan

Sultan Tidore: Penakluk Penjara Cape Town dan Pendiri Masjid Tertua di Afrika Selatan
images info

Sultan Tidore: Penakluk Penjara Cape Town dan Pendiri Masjid Tertua di Afrika Selatan


Dunia mengenal Pulau Robben sebagai tempat yang berusaha mematahkan semangat Nelson Mandela. Namun jauh sebelum era modern, penjara isolasi di tengah samudera tersebut menjadi saksi bisu sebuah mukjizat intelektual. Sultan Abdullah Qadi Abus Salaam, penguasa sekaligus ulama dari Kesultanan Tidore, melakukan tindakan perlawanan paling fenomenal dalam sejarah kolonial. Beliau berhasil menulis ulang seluruh isi Alquran 30 juz hanya dengan mengandalkan hafalan di balik jeruji besi yang dingin.

Mukjizat Hafalan dari Maluku di Sel Kolonial

Sultan Abdullah, yang kemudian lebih dikenal dengan julukan Tuan Guru, dibuang ke Afrika Selatan oleh VOC pada tahun 1780. Langkah ini diambil karena perlawanan bersenjata beliau di nusantara dianggap sebagai ancaman mematikan bagi monopoli Belanda. Pihak kolonial berharap pembuangan ke ujung dunia akan mematikan pengaruh politik sang Sultan. Harapan mereka hancur seketika. Di dalam sel penjara yang gelap dan tanpa akses ke buku apa pun, Sultan Abdullah melakukan aksi literasi yang mustahil bagi manusia biasa.

Tanpa selembar pun mushaf fisik sebagai rujukan, beliau mulai menggoreskan ayat demi ayat di atas kertas yang sangat terbatas. Sultan menggunakan tinta hasil racikan sendiri dan pena bambu yang dirakit secara sembunyi. Hasilnya adalah sebuah naskah Alquran setebal 12 cm dengan tingkat akurasi yang nyaris sempurna. Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian religius. Ini adalah bukti kekuatan otak seorang pangeran dari Tidore yang mampu menjaga kedaulatan pikirannya di bawah tekanan psikologis penjara yang luar biasa.

Revolusi Sosial dari Sebuah Gudang di Bo Kaap

Ujian sesungguhnya bagi otoritas Belanda datang setelah Sultan Abdullah dibebaskan pada tahun 1793. Beliau menolak untuk hidup dalam pengasingan yang pasif. Sultan justru menggebrak tatanan sosial Cape Town yang saat itu sangat diskriminatif, khususnya di wilayah Bo Kaap. Beliau mendirikan Madrasah pertama di Afrika Selatan di sebuah gudang milik mantan budak. Sekolah ini tidak hanya menjadi pusat pengajaran agama. Tempat tersebut berubah menjadi pusat literasi bagi warga kulit hitam dan para budak yang selama ini sengaja dibiarkan buta huruf oleh penjajah.

Pulau Robben | Wikimedia Commons
info gambar

Pulau Robben | Wikimedia Commons


Langkah berani pangeran dari Maluku Utara ini segera menjadi ancaman serius bagi sistem kolonial. Dengan memberikan pendidikan, beliau secara tidak langsung memberikan martabat dan harga diri kepada kaum tertindas. Beliau membuktikan bahwa ilmu pengetahuan adalah senjata yang jauh lebih mematikan daripada pedang untuk meruntuhkan mentalitas budak. Melalui pendidikan tersebut, komunitas Muslim di Cape Town mulai tumbuh sebagai kelompok yang terorganisir dan memiliki jati diri yang kuat.

Masjid Auwal: Monumen Perlawanan dan Iman

Jejak kedaulatan Sultan Abdullah mencapai puncaknya pada tahun 1794 ketika beliau mendirikan Masjid Auwal di Bo Kaap. Sebagai masjid tertua di Afrika Selatan, Masjid Auwal berdiri kokoh di tengah pelarangan ketat praktik ibadah secara publik oleh pemerintah kolonial Belanda yang hanya mengakui gereja resmi. Pembangunan masjid ini bukan sekadar pendirian rumah ibadah, melainkan sebuah pernyataan politik dan spiritual yang menegaskan kemerdekaan identitas Muslim di tanah Afrika.

Masjid Auwal | Mosquepedia.org
info gambar

Masjid Auwal | Mosquepedia.org


Di Masjid Auwal inilah, warisan intelektual Tuan Guru tersimpan dan diajarkan kepada generasi penerus. Selain Alquran tulisan tangan yang fenomenal, Sultan juga menulis kitab teologi berjudul Ma’rifat wal Iman wal Islam setebal lebih dari 600 halaman sepenuhnya dari ingatan. Kitab ini menjadi kurikulum utama bagi Muslim di Afrika Selatan selama lebih dari satu abad. Beliau juga memprakarsai pembangunan Tana Baru sebagai kompleks pemakaman Muslim pertama, memastikan bahwa warga memiliki hak untuk beristirahat dengan layak sesuai keyakinan mereka.

Kedaulatan Sang Raja yang Tak Terpadamkan

Sultan Abdullah wafat pada tahun 1807, namun pengaruhnya tetap hidup dalam setiap tarikan napas komunitas Muslim di Afrika Selatan. Alquran hasil tulisan tangannya kini tetap terjaga di Masjid Auwal dengan pengamanan yang sangat ketat sebagai artefak paling berharga di negara tersebut. Benda itu adalah saksi hidup bahwa seorang penguasa dari Tidore telah berhasil menanamkan akar peradaban di benua yang asing baginya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.