kalwedo budaya khas maluku yang menganut filosofi kebersamaan dan kekeluargaan - News | Good News From Indonesia 2026

Kalwedo: Budaya Khas Maluku yang Menganut Filosofi Kebersamaan dan Kekeluargaan

Kalwedo: Budaya Khas Maluku yang Menganut Filosofi Kebersamaan dan Kekeluargaan
images info

Kalwedo: Budaya Khas Maluku yang Menganut Filosofi Kebersamaan dan Kekeluargaan


Dengan pelbagai adat-istiadat maupun kebudayaan yang Indonesia punya, ini menunjukkan bahwa keberagaman seturut semboyan bangsa “Bhinneka Tunggal Ika” adalah nyata adanya. Melansir GoodStats (19/10/2023), Indonesia tercatat memiliki sekitar 1.728 warisan budaya takbenda yang diturunkan dari generasi ke generasi sejak pengalkulasian dari tahun 2018 hingga 2022.

Adapun kategori warisan terbagi dalam 5 domain, antara lain (1) adat-istiadat masyarakat, ritus, dan berbagai perayaan sejumlah 491; (2) seni pertunjukan sejumlah 503; (3) kemahiran dan kerajinan tradisional sejumlah 440; (4) tradisi lisan dan ekspresi sejumlah 219; serta (5) pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta sejumlah 75. Telah digambarkan betapa majemuknya kebhinekaan yang terpancarkan melalui domain tersebut.

Nah, kali ini ada satu kebudayaan yang asalnya jauh di kepulauan Timur yang mungkin bagi Kawan GNFI sendiri jarang atau bahkan tidak pernah mengetahuinya. Kebudayaan itu bernama Kalwedo. Mari kita coba pelajari seperti apa bentuk budayanya!

Nilai Adat yang Perlu Dipahami

Sebagaimana dikutip dari exploremaluku.com (11/9/2023), kalwedo merupakan budaya yang mengandung nilai-nilai kehidupan bersosial dan religi yang sangat sakral, yang dapat menjamin kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan abadi hidup bersama menjadi seorang saudara.

Budaya ini dinilai sebagai bukti konkret atas kepemilikan masyarakat adat yang ada di Maluku Barat Daya (MBD), wujud kepemilikan bersama orang bersaudara. Budaya kalwedo telah mempersatukan masyarakat yang berdomisili di Kepulauan Babar dan Maluku Barat Daya pada suatu kekerabatan adat, mempersatukan masyarakat menjadi istana adat dan rumah doa milik bersama.

Nilai kalwedo sendiri diaplikasikan dalam sapaan adat kekeluargaan lintas pulau hingga lintas negeri, yaitu inanara ama yali (saudara perempuan dan laki-laki). Inanara ama yali ini merepresentasikan sebuah keutamaan dan pusaka kemanusiaan hidup warga MBD, yang meliputi totalitas hati, perilaku, pikiran dan jiwa.

Semua nilai tersebut akhirnya mengencangkan tali persaudaraan masyarakat melalui tradisi hidup rukun berdampingan satu sama lain. Tradisi ini dibentuk guna saling berbagi dan membantu ihwal potensi alam, ekonomi, dan budaya yang diwariskan oleh semesta di Kepulauan Maluku Barat Daya.

Pengimplementasian di Lapangan

Sebenarnya ada banyak rupa-rupa aksi yang bersifat praksis terhadap nilai kalwedo dalam kehidupan bermasyarakat. Coba kita ambil contoh mengenai aspek perpolitikan.

Diinformasikan dari bedahnusantara.com (10/7/2015), Rony Samloy selaku penulis artikel berpendapat bahwa banyak pemimpin (elite politik dan birokrat) yang lebih suka memberi contoh, akan tetapi sedikit daripada mereka yang benar-benar menjadi contoh bagi (rakyat) yang dipimpin. Hal ini dikemukakan berkaitan dengan kontestasi politik menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) bupati yang nantinya akan memerintah dalam 5 tahun mendatang.

Adapun masyarakat MBD sudah seringkali diperhadapkan dengan masalah kemiskinan dan keterpurukan ekonomi di tengah sediaan SDA yang melimpah, seperti gas alam cair di Blok Masela, migas di Blok Moa Selatan, Blok Sermata, dan Blok Wetar, emas di Wetar dan Romang, dan juga kekayaan SDA lainnya di darat maupun laut.

Dengan jadwal pilkada yang akan dilaksanakan serentak di Kabupaten MBD pada 9 Desember 2015, kiranya momentum ini dapat digunakan sebagai upaya refleksi untuk masa depan MBD selama periode kepemimpinan 2015/2020.

Rony menekankan terkait dengan penyesatan masyarakat dengan politik “tipu-tapa” (‘mulu parlente’) yang sangat tidak sesuai atau bertentangan dengan kultur politik “honoli weneweh” (‘hnyolilyeta’), sehingga relatif ingin memunculkan kultur yang lebih elegan dan bermartabat di MBD. Lantas, MBD membutuhkan tipe pemimpin yang bukan sekadar ‘omon-omon’, melainkan yang secara sadar menerapkan nilai kalwedo dalam struktur pemerintahan.

Tampaknya, pemimpin yang terpilih telah mengimplementasikan nilai kalwedo tersebut. Dilansir dari pelagandong.com (3/12/2018), bupati kala itu, Barnabas Nataniel Orno dalam sambutannya memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Tiakur yang ke-6, menegaskan bahwa salah satu kearifan lokal di MBD yang mampu menyatukan berbagai kalangan masyarakat dalam membingkai persaudaraan adalah budaya kalwedo.

Bagi beliau, kalwedo di dalamnya sudah bermakna layaknya sapaan keagamaan seperti shalom atau assalamualaikum, sehingga menganjurkan bahwa sapaan baik dalam gereja atau masjid dapat diganti dengan seruan ‘Kalwedo’. Ini pun dibuktikan dengan proyek pembangunan Gereja Kalwedo serta masjid yang dinamai Masjid Nurul Imam Kalwedo.

“Kalwedo telah menggema di ruang ibadah gereja, masjid maupun pergaulan keseharian kami, kalwedo dapat mempersatukan kami masyarakat Maluku Barat Daya,” ungkapnya.

Selain itu, Barnabas juga berharap supaya kedepannya budaya kalwedo tetap dan terus membingkai semua orang MBD dengan tidak memandang suku bangsa dan agama.

“Saya tidak setuju dibilang orang Kristen, orang Islam, orang Hindu, Budha, namun saya lebih setuju dibilang kita semua bersaudara yang kebetulan beragama Kristen, beragama Islam, Hindu, Budha, dan lain-lain. Karena filosofi Kota Tiakur MBD adalah berfilosofi budaya,” tutur beliau sebagai konfirmasi.

Bergeser pada konteks yang lebih kekinian, nilai kalwedo juga diterapkan melalui pergelaran festival budaya yang menjunjung tinggi kebersamaan dan solidaritas. Mengutip genpi.id (4/7/2021), rangkaian acara festival diisi dengan pemilihan putri pariwisata, lomba pacuan kuda, lomba tari tradisional, dan berbagai acara menarik lainnya.

Festival seperti ini biasanya diselenggarakan pada 11-17 November tergantung dari banyaknya acara yang diadakan, dilaksanakan secara tahunan dan dapat diikuti oleh masyarakat lokal maupun pendatang dari luar daerah.

Festival Kalwedo memberikan keteladanan bahwa walaupun kita mungkin memiliki banyak perbedaan latar belakang, akan tetapi kita tetaplah satu Indonesia dan mestinya mampu hidup berdampingan layaknya saudara. Festival budaya berikut sekaligus telah mencerminkan tentang identitas Maluku Barat Daya yang kiranya dapat diadaptasi oleh kalangan masyarakat diluar Maluku.

Mari, Kawan, kita budayakan ‘Kalwedo’ dalam kehidupan sehari-hari!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.