Pada awal abad ke-20, ekspansi perempuan Eropa yang datang ke Hindia Belanda mengalami peningkatan secara signifikan. Pada 1900, rasio perempuan di Hindia Belanda hanya 600 dari 1.000 laki-laki Eropa lalu meningkat jadi 900 pada 1930-an.
Kehadiran perempuan di Hindia Belanda tentunya berdampak pada arus modernitas dalam hal berpakaian. Bagi perempuan kolonial, pakaian adalah simbol dari strata sosial yang membedakan mereka dengan kaum pribumi.
“Bagi perempuan Eropa yang sudah menikah, pendapatan dan jabatan suami mereka akan menentukan peringkat serta perilaku dan sikap mereka. Termasuk mengenai cara mereka berpakaian,” tulis Soraya Anugralia dalam Pakaian Perempuan Eropa di Hindia Belanda.
Para perempuan Belanda di awal kedatangannya di Hindia Belanda sudah mengenakan pakaian khas Eropa seperti gaun yang besar, panjang dan berkorset. Gaun-gaun ini memang terlihat modis, tetapi ternyata tidak cocok dengan iklim tropis Hindia Belanda.
Kemudian, wanita-wanita Belanda lebih tertarik dengan kebaya sederhana yang dikenakan oleh wanita pribumi. Sejak abad ke-19, kebaya merupakan kostum bagi semua kelas sosial di Hindia Belanda, baik perempuan Jawa maupun Indo.
“Bahkan, ketika para perempuan Belanda mulai berdatangan ke Hindia Belanda sesudah tahun 1870, kebaya menjadi pakaian wajib mereka yang dikenakan pada pagi hari,” jelasGelman Taylor dalam Outward Appearances; Trend, Identitas, Kepentingan yang dimuat dari Kompas.
Wanita Eropa yang Bangga dengan Kebaya
Seorang perempuan Eropa, Agusta de Wilt menyampaikan kesaksian mengenai gaya berpakaian orang Eropa di Hindia Belanda saat tiba di Tanjung Priok pada awal abad ke 20. Dia terkesan melihat pakaian perempuan Eropa di Batavia.
Ketika sedang menunggu di ruang hotel, dirinya melihat serombongan orang Eropa yang mengenakan kebaya dan sarung. Dijelaskan olehnya, mereka tidak memakai kaus kaki, hanya memakai sandal berhak tinggi.
“Rambutnya meniru gaya penduduk asli, yaitu ditarik ke belakang dan disanggul di belakang kepala. Lebih mengejutkan lagi ialah pakaian kaum prianya. Di saat santai itu mereka memakai baju tidak berkerah. Celananya dari kain sarung tipis dihiasi bunga-bunga merah dan biru, ada pula yang bergambar kupu-kupu dan naga,” jelasnya.
Pamela Pattynama dalam buku Recalling The Indies mengungkapkan kaum Indo-Eropa juga mengenakan kebaya untuk kegiatan sehari-hari. Di tengah waktu luang, ketika santai di beranda rumah sambil menikmati secangkir kopi atau teh.
Tetapi lanjutnya, kebaya yang dikenakan oleh kaum Indo-Eropa berbeda dengan apa yang dipakai oleh perempuan pribumi. Dia menduga kebaya itu telah dimodifikasi sehingga membedakan pemakainya dengan masyarakat pribumi.
“Kebaya pagi bagi perempuan Eropa dan Indo terbuat dari kain katun putih yang dihiasi renda buatan Eropa dan kebaya malam terbuat dari sutra hitam,” ucapnya.
Mengatasi Hawa Panas
Ternyata tidak hanya kaum wanitanya yang rutin mengenakan kebaya, anak-anak orang Belanda juga mengenakan pakaian penduduk setempat. Pakaian yang disebut celana monyet ini hanya menutupi badan, sedangkan leher, lengan dan tungkai telanjang.
Bagi masyarakat Belanda, alasan memakai kebaya ternyata tidak jauh-jauh dari masalah kenyamanan. Iklim tropis di Hindia Belanda ternyata tidak cocok untuk pakaian ala parlante yang trend di Eropa saat itu.
“Tampaknya alasan yang paling mendasar orang Eropa mengenakan pakaian-pakaian itu adalah suatu upaya untuk mengatasi hawa panas di Hindia, yang tentunya berbeda dengan iklim di Eropa,” jelasnya.
Walau pada 1920, terbit sebuah aturan yang melarang orang Eropa untuk mengenakan kebaya dan sarung. Aturan ini untuk membiasakan masyarakat Eropa tetap sesuai standar dan tidak terpengaruhi pakaian pribumi.
“Pemakaian kebaya dan sarung tetap terpelihara, tetapi dibatasi hanya untuk dipakai di rumah. Sementara di luar rumah orang Eropa mengenakan pakaian Barat,” jelasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


