imlek dan ramadan yang berdekatan jadi momen refleksi soal kebinekaan - News | Good News From Indonesia 2026

Imlek dan Ramadan yang Berdekatan Jadi Momen Refleksi Soal Kebinekaan

Imlek dan Ramadan yang Berdekatan Jadi Momen Refleksi Soal Kebinekaan
images info

Imlek dan Ramadan yang Berdekatan Jadi Momen Refleksi Soal Kebinekaan


Februari tahun ini menjadi momen spesial untuk masyarakat Indonesia yang dikenal majemuk. Dalam jarak waktu yang berdekatan terdapat tiga peristiwa yang secara kultural maupun religi memiliki makna penting.

 

Bagi umat Muslim, ibadah puasa Ramadan mulai dilaksanakan. Berdasarkan keputusan pemerintah, disepakatilah jika 19 Februari menjadi titik awal puasa atau 1 Ramadan.

 

Dua hari sebelumnya, 17 Februari menjadi hari besar buat masyarakat Tionghoa. Pada hari itu warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek.

 

Sedang bagi umat Kristiani, 18 Februari ditetapkan sebagai periode Prapaskah. Dan selama 40 hari sebelum Paskah, umat Kristiani menjalani puasa.

 

Untuk merayakan momen istimewa tersebut Universitas Ciputra menggelar diskusi di Dian Auditorium Universitas Ciputra Surabaya pada Sabtu (28/2). Dibuka dengan pertunjukkan barongsai, diskusi bertajuk Imlek & Ramadan: Belajar dari Dua Peradaban, ratusan orang yang hadir menyimak gagasan yang dikemukakan para narasumber.

 

Pembicara dalam diskusi itu adalah Dr. Ye Su (Konsul Jenderal RRT di Surabaya) dan Yenny Wahid (Direktur Wahid Foundation). Sedangkan Aan Anshori, salah satu dosen di Universitas Ciputra, didapuk sebagai moderatornya.

 

Diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam itu berlangsung menarik. Para mahasiswa serta kalangan umum diberikan kesempatan bertanya kepada narasumber tentang tema diskusi tersebut

 

“Diskusi ini menunjukkan jika perbedaan itu harus dipandang sebagai sebuah kekuatan. Dengan adanya pemahaman tentang perbedaan, kita semua terdorong lebih toleran antara satu dengan yang lain,” ucap Rektor Universitas Ciputra Prof. Dr. Wirawan E.D. Radianto dalam kata sambutannya.

 

KUNCI PERKEMBANGAN TIONGKOK

 

Dr. Ye Su membuka diskusi pagi itu dengan memutar video yang berdurasi kurang lebih 10 menit. Dalam video itu terlihat sekelompok pemuda Tiongkok mempraktikkan seni bela diri tradisionalnya, kungfu.

 

Bukan hanya para pemuda yang beraksi dengan kungfunya. Sejumlah robot pun tidak kalah lincah atau gesit. Para robot itu piawai bersalto atau memainkan toya.

 

Menurut Dr. Ye Su video itu menunjukkan jika Tiongkok kini telah sedemikian berkembang pesat. Dan menurutnya ada dua hal ‘ajaib’ yang membuat Tiongkok mengalami kemajuan luar biasa dalam kurun waktu sekitar 47 tahun terakhir.

 

“Perkembagan ekonomi yang pesat. Stabilitas sosial yang berlangsung lama,” demikian kata Dr. Ye Su soal resep Tiongkok menjadi raksasa global di berbagai bidang dunia saat ini.

 

Dr. Ye Su kemudian membeberkan setidaknya ada enam poin yang menunjang kedua resep itu. Dimulai kebijakan dan strategi pemerintah yang stabil, pemerataan pendidikan dasar-pendidikan tinggi, mengedepankan pembangunan infrastruktur, fokus pada ekonomi riil, pengentasan kemiskinan secara dinamis dan presisi, serta keterbukaan kepada negara luar yang ingin bekerja sama.

 

SEJARAH INDONESIA MENUNJUKKAN KEBERAGAMAN

 

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid membeberkan jika sejarah Indonesia menunjukkan sejak awal bahwa identitas Indonesia bukanlah berangkat dari keseragaman. Dengan perbedaan yang ada ini kemudian para pendiri bangsa meramu ide serta gagasan keberagaman menjadi satu konsep bernama Pancasila.

 

“Pancasila ini mengikat berbagai latar belakang budaya, adat, suku, juga agama yang berbeda-beda di Indonesia ini,” kata Yenny.

 

Putri sulung Presiden Indonesia keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu menegaskan karena Indonesia lahir dari banyak unsur yang bercampur, maka jika ada yang masih bersikap diskriminasi maka hal itu dipastikan tidak relevan.

 

Karena itu, adanya Imlek dan Ramadan yang dirayakan berdekatan menurut Yenny adalah sebuah momen yang tepat untuk melakukan refleksi. Terutama tentang betapa majemuknya kekayaan budaya Indonesia.

 

“Bagaimana keragaman budaya di Indonesia ini adalah sebuah harmoni. Kebhinekaan harus dijaga sehingga tidak ada lagi saudara kita yang terdiskriminasi,” ungkap Yenny.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Tri Candra lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Tri Candra.

TC
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.