Papua selalu menyimpan keajaiban yang tidak ada habisnya. Selain Cendrawasih yang dijuluki burung surga, pulau ini juga memiliki spesies unik yang mematahkan anggapan umum dalam dunia ornitologi. Hooded Pitohui (Pitohui dichrous) adalah burung penyanyi pertama di dunia yang secara ilmiah terbukti memiliki racun pada tubuhnya. Penemuan ini sempat mengejutkan dunia sains karena sebelumnya sifat beracun dianggap hanya milik reptil, amfibi, atau serangga.
Selama berabad-abad, kedalaman hutan hujan Papua telah menyembunyikan rahasia evolusi yang tidak terbayangkan oleh para peneliti Barat. Di saat dunia luar menganggap burung hanyalah makhluk indah yang mengandalkan kecepatan terbang atau nyanyian untuk bertahan hidup, alam Papua justru menciptakan mekanisme pertahanan yang jauh lebih ekstrem.
Penemuan Tanpa Sengaja
Dunia sains modern baru menyadari keunikan Hooded Pitohui pada tahun 1989. Seorang peneliti dari Universitas Chicago, Jack Dumbacher, secara tidak sengaja terkena goresan paruh dan cakar burung ini saat mencoba melepaskannya dari jaring kabut di hutan New Guinea. Ketika ia refleks menjilat jarinya yang terluka, ia merasakan sensasi terbakar, kesemutan, dan mati rasa di mulut serta lidahnya.
Dumbacher kemudian bertanya kepada penduduk lokal tentang burung tersebut. Masyarakat setempat ternyata sudah lama mengenal burung ini dengan sebutan "burung sampah". Mereka menyadari bahwa burung dengan kombinasi warna oranye dan hitam yang mencolok ini memiliki sifat kimiawi yang membahayakan jika dikonsumsi.
Senjata Kimia dalam Bulu dan Kulit
Hasil penelitian laboratorium mengungkapkan fakta yang mengejutkan. Hooded Pitohui mengandung kelompok alkaloid steroid yang dikenal sebagai batrachotoxin. Jenis racun ini identik dengan yang ditemukan pada katak panah beracun (Phyllobates) dari Amerika Tengah dan Selatan.

Warna kontras hitam dan oranye pada Hooded Pitohui bukan sekadar hiasan. Dalam dunia fauna, ini adalah sinyal peringatan (aposematisme) bahwa sang burung memiliki senjata kimia yang bisa menyebabkan rasa kebas seketika saat disentuh. Sumber Foto: Benjamin Freeman / CC BY 4.0
Konsentrasi racun tertinggi ditemukan pada kulit dan bulu burung. Batrachotoxin bekerja dengan cara mengganggu kanal natrium dalam sel saraf dan otot. Bagi predator kecil seperti ular atau burung pemangsa, racun ini benar-benar mematikan karena dapat menyebabkan kelumpuhan saraf hingga gagal jantung. Bagi manusia, kontak fisik biasanya hanya menyebabkan iritasi, rasa gatal, dan mati rasa sementara pada area yang terkena.
Rahasia di Balik Konsumsi Serangga
Menariknya, Hooded Pitohui tidak memproduksi racun ini secara alami di dalam tubuhnya. Burung ini memperoleh zat kimia tersebut melalui rantai makanan. Mereka gemar mengonsumsi kumbang dari famili Melyridae yang mengandung konsentrasi batrachotoxin tinggi.
Kemampuan burung ini untuk mengonsumsi serangga beracun tanpa mengalami dampak negatif menunjukkan adanya evolusi sistem pertahanan internal yang luar biasa. Tubuh mereka telah beradaptasi untuk menyimpan racun tersebut sebagai mekanisme pertahanan diri dari parasit serta predator hutan lainnya.
Penghuni Asli Hutan Indonesia
Meskipun banyak penelitian awal dilakukan di wilayah Papua Nugini, Hooded Pitohui merupakan penghuni asli hutan hujan di wilayah kedaulatan Indonesia. Spesies ini tersebar luas di daratan utama Papua. Mulai dari Provinsi Papua Barat hingga Papua Pegunungan. Mereka biasanya ditemukan di hutan dataran rendah hingga ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.
Selain di daratan utama, burung ini juga tercatat menghuni beberapa pulau di sekitarnya. Termasuk Pulau Yapen di Teluk Cendrawasih. Keberadaan mereka di wilayah Indonesia memperkaya khazanah fauna endemik yang menjadi identitas biologis tanah Papua.
Anggota Lain di Dunia Burung Beracun
Meskipun Hooded Pitohui adalah yang pertama ditemukan, para ilmuwan kemudian menyadari bahwa ia bukan satu-satunya. Di wilayah Papua juga ditemukan Ifrita Berpuncak Biru (Ifrita kowaldi) yang memiliki racun serupa. Di belahan dunia lain, terdapat Angsa Bersayap Taji dari Afrika yang dagingnya beracun karena mengonsumsi kumbang tertentu. Serta puyuh migrasi di Eropa yang sesekali menjadi beracun setelah memakan biji hemlock.
Namun, Hooded Pitohui tetap menjadi ikon penting karena ia adalah spesies kunci yang membuka mata dunia bahwa burung pun bisa memiliki pertahanan kimiawi yang kompleks.
Kekayaan Hayati Papua yang Tak Ternilai
Penemuan Hooded Pitohui membuktikan bahwa hutan tropis Papua masih menyimpan banyak rahasia biologi yang belum terpecahkan. Keberadaannya mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati paling unik di dunia. Burung ini menjadi bukti nyata bagaimana alam mengembangkan cara kreatif untuk bertahan hidup di lingkungan yang keras.
Upaya konservasi di wilayah Papua sangat krusial untuk menjaga kelestarian spesies unik seperti ini. Kerusakan hutan bukan hanya mengancam habitat fisik mereka. Hal itu juga memutus rantai makanan yang menjadi sumber pertahanan kimiawi mereka. Melindungi hutan Papua berarti melindungi warisan sains yang tak ternilai bagi generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


