bangsa ini harus bersyukur karena allah mengundang kita untuk berderma - News | Good News From Indonesia 2026

Bangsa Ini Harus Bersyukur karena Allah Mengundang Kita untuk Berderma

Bangsa Ini Harus Bersyukur karena Allah Mengundang Kita untuk Berderma
images info

Bangsa Ini Harus Bersyukur karena Allah Mengundang Kita untuk Berderma


Akhyari Hananto, founder GNFI menulis pengalaman pribadinya yang mengharukan di bulan suci Ramadan pada Selasa (24/22026). Dalam artikel di rubik Opini yang berjudul “Senyum Ibu-Ibu Jualan Takjilnya Tidak Habis”. Arry—begitu panggilannya—merasa terkesima saat bertemu dengan seorang ibu paruh baya yang berjualan makanan untuk takjil buka puasa pada saat gerimis; dan jualannya itu tidak habis karena tidak ada pembelinya. Arry menanyakan makanan atau jualannya yang tidak terjual itu dikemanakan. Atas pertanyaan itu, sang ibu ini tidak menunjukkan wajah kesedihan. Beliau justru tersenyum sangat tulus. Jenis senyum yang hanya bisa lahir dari hati yang sudah selesai dengan urusan dunia.

"Saya bawa pulang, Mas. Nanti habis Magrib saya hantarkan semua ke masjid. Buat bapak-bapak atau anak-anak yang tadarus selepas Tarawih. Selagi masih enak dimakan, gak mungkin dibuang," jawabnya ringan.

Arry menulis, “Beliau melihatnya sebagai 'undangan' dari Allah untuk bersedekah, sejauh kemampuan ibu itu. Seolah-olah Allah sedang berkata kepada beliau: 'Hari ini daganganmu sengaja tidak Aku habiskan, karena Aku ingin kamu menjamu tamu-Ku di masjid nanti malam.'”

Atas ketulusan ini,Arry berpendapat bahwa Sang Ibu merupakan wajah asli Indonesia. Bangsa Indonesia ini dikenal sebagai bangsa yang suka tolong-menolong.

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah dan Abdullah bin Hubsyi Al Khots’ami, bersabda atas pertanyaan sedekah mana yang paling afdal? Beliau bersabda “sedekah dari orang yang serba kekurangan”.

Hadis Nabi itu seakan sering terjadi di Indonesia dan ini dibuktikan oleh anak-anak muda mancanegara yang melakukan “social experiment” atau eksperimen sosial di Indonesia. Para wisatawan bule dari Amerika Serikat dan Eropa di kanal YouTube mereka terlihat meminta bantuan pertolongan kepada warga desa atau kampung—kalau tidak salah di Pulau Lombok dan Jawa—untuk meminta makan dan minum dengan alasan tidak mempunyai uang sepeser pun. Pemuda bule itu minta makan dan minum pada penjual gorengan, penjual es di tepi jalan, dan pada ibu-ibu di warung kumuh di desa.

Hasilnya, para wisatawan bule itu terkejut karena semua penjual yang notabene warga desa atau kampung yang hidup dalam kondisi sederhana itu dengan tulus ikhlas memberi makanan dan minuman tanpa pamrih, bahkan dengan senyuman khas orang Indonesia. Mereka tercengang karena sikap ramah dan mau membantu dari warga yang hidup sederhana itu tidak pernah ditemui di negara mereka yang tergolong negara maju dan modern.

Saya mengutip tulisan Arry yang mengatakan bahwa berdasarkan data dari Charities Aid Foundation (CAF) dalam World Giving Index disebutkan bahwa selama bertahun-tahun, Indonesia hampir tidak pernah lepas dari posisi puncak negara paling dermawan di dunia. Kita berada di atas negara-negara yang rakyatnya kaya-kaya. Mungkin dunia lalu bertanya-tanya, bagaimana mungkin bangsa yang pendapatan per kapitanya masih jauh di bawah mereka bisa menjadi yang nomor satu dalam hal memberi ke orang lain tanpa pamrih?

Jawabannya ada di rincian data itu. CAF mengukur kedermawanan bukan dari seberapa besar nilai uang yang kita tulis. Mereka mengukur seberapa sering kita menolong orang yang bahkan tidak kita kenal. Seberapa sering kita meluangkan waktu untuk kerja sosial, tanpa pamrih. Dan seberapa rutin kita memberikan donasi, sekecil apa pun itu.

Kita bangsa Indonesia ini tentu bersyukur karena Allah Maha Besar menganugerahi bangsa ini dengan kekayaan sumber daya alam yang sepertinya tak terhingga. Dengan tanah yang subur, kita lempar biji cabai atau lombok di halaman rumah kita, besoknya sudah tampak tumbuh.

Namun tidak hanya itu, kita juga bersyukur bahwa Allah SWT menganugerahi “undangan” untuk berderma kepada sesama meskipun dalam kondisi yang penuh kesederhanaan.

Karena itulah saya sangat cinta Indonesia ini.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AC
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.