Momentum bulan suci Ramadhan 2026 diprediksi menjadi penggerak utama ekonomi nasional melalui lonjakan permintaan produk industri di dalam negeri.
Kenaikan kebutuhan masyarakat terhadap sektor makanan, minuman, serta pakaian jadi tidak hanya mempercepat perputaran usaha, tetapi juga menjaga stabilitas sektor manufaktur.
Sepanjang tahun 2025, industri pengolahan menunjukkan tren solid dengan pertumbuhan mencapai 5,30 persen, melampaui angka pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.
Capaian ini memosisikan kembali sektor manufaktur sebagai motor utama penggerak ekonomi, sebuah momentum yang terakhir kali tercatat pada tahun 2011 silam.
Periode ini selalu memberikan dampak positif yang signifikan bagi kinerja industri pengolahan nasional.
Dominasi Sektor Makanan dan Tekstil dalam Perekonomian
Kesiapan industri dalam menghadapi lonjakan konsumsi didukung oleh performa subsektor yang terus ekspansif. Industri makanan dan minuman tercatat tumbuh 6,38 persen pada 2025, menyumbang hingga 41,26 persen terhadap total industri pengolahan nonmigas.
Sementara itu, industri tekstil dan pakaian jadi juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 3,55 persen. Kapasitas produksi yang memadai ini memastikan stok barang kebutuhan pokok tetap terjaga selama masa puncak permintaan.
Kontribusi sektor pengolahan secara keseluruhan terhadap PDB nasional mencapai 19,07 persen atau setara dengan Rp4.541,52 triliun. Di kancah global, ekspor industri nonmigas menyumbang 80,27 persen dari total ekspor nasional dengan surplus neraca perdagangan mencapai USD38,91 miliar.
Menjaga Pertumbuhan Industri Pasca-Ramadan
Kemenperin memandang optimis bahwa stabilitas industri yang terjaga selama Ramadhan akan menjadi modal kuat untuk pertumbuhan di kuartal berikutnya. Efisiensi rantai pasok dan pemenuhan standar kualitas menjadi prioritas untuk mempertahankan dominasi industri pengolahan dalam struktur ekonomi nasional.
Integrasi promosi yang tepat sasaran dan kapasitas produksi yang tangguh, industri nasional diproyeksikan tetap menjadi tulang punggung ekonomi.
Ke depan, penguatan konsumsi dalam negeri melalui berbagai kanal distribusi akan terus dipacu guna memastikan roda industri manufaktur terus berputar secara berkelanjutan.
“Dengan meningkatnya permintaan kebutuhan rumah tangga pada periode Ramadhan dan menjelang Idul Fitri ini, saya dapat mengatakan bahwa Ramadhan selalu membawa berkah tersendiri bagi industri nasional,” ujar Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian, M. Rum.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


