Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi spesies baru rafflesia di pedalaman hutan Kalimantan Timur yang diberi nama Rafflesia harjatii. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Sains Malaysiana pada 12 Januari 2026 melalui ResearchGate.
Meski publikasinya baru dilakukan tahun ini, keberadaan bunga tersebut sebenarnya telah diketahui sejak 1980-an di kawasan PT ITCI Kartika Utama. Pada 2019, peneliti kehutanan dari KLHK, Tri Atmoko, melaporkan populasinya, namun belum dapat memastikan identitas taksonominya.
Penelitian lanjutan dilakukan pada 2022 oleh tim yang dipimpin Agus Susatya dari Universitas Bengkulu bersama sejumlah peneliti BRIN, termasuk Ridha Mahyuni dan Sudarmono. Penetapan sebagai spesies baru dilakukan melalui perbandingan morfologi rinci dan analisis DNA.
Agus menyatakan, “Penentuan spesies baru tidak bisa hanya berdasarkan temuan lapangan, tetapi harus melalui pembuktian morfologi dan genetik yang ketat.”
Uniknya Rafflesia harjatii
Rafflesia harjatii tumbuh di hutan dipterokarpa dataran rendah pada ketinggian 325–329 meter di atas permukaan laut. Seperti spesies Rafflesia lain, tumbuhan ini bersifat parasit dan bergantung pada tanaman inang dari genus Tetrastigma. Diameter bunganya berkisar antara 17 hingga 22 sentimeter.
Secara morfologi, spesies ini memiliki kombinasi karakter yang membedakannya dari rafflesia lain di Kalimantan. Bercak putih pada mahkota tampak lebih jarang dan relatif lebih besar. Diafragma bunga lebih tebal dengan bukaan sempit. Struktur ramenta di bagian dalam berkembang baik, berbentuk silindris hingga menyerupai gada kecil.
Cakram bagian dalam menunjukkan tonjolan khas yang tidak sesuai dengan deskripsi spesies yang telah dipublikasikan sebelumnya. Hasil analisis DNA menguatkan bahwa bunga ini bukan variasi dari spesies yang sudah dikenal, melainkan entitas yang berbeda secara genetik.
Endemik Kalimantan Timur
Berdasarkan asesmen awal, Rafflesia harjatii berstatus endemik Kalimantan Timur karena sejauh ini hanya ditemukan di wilayah tersebut. Tim mencatat tiga sub-populasi di lokasi penemuan.
Ridha Mahyuni menjelaskan bahwa secara aktivitas manusia, populasinya relatif terlindungi karena berada di area konservasi perusahaan yang tidak terganggu. “Walaupun berada di kawasan yang terlindungi, ancaman dari faktor alam seperti curah hujan tinggi tetap perlu diantisipasi,” ujarnya.
Temuan ini mendapat apresiasi dari Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL). Dukungan juga diarahkan pada penguatan upaya konservasi habitat, mengingat keterbatasan populasi dan sifat spesifik lingkungan tumbuhnya.
Tim peneliti berencana melakukan survei lanjutan untuk memastikan jumlah populasi di alam dan memetakan sebarannya secara lebih akurat. Selain Rafflesia harjatii, BRIN juga menyatakan tengah memfinalisasi data beberapa kandidat spesies baru rafflesia lain yang akan diumumkan tahun ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


