sejarah ori perjuangan mencetak mata uang republik indonesia di tengah agresi militer belanda - News | Good News From Indonesia 2026

Sejarah ORI: Perjuangan Mencetak Mata Uang Republik Indonesia di Tengah Agresi Militer Belanda

Sejarah ORI: Perjuangan Mencetak Mata Uang Republik Indonesia di Tengah Agresi Militer Belanda
images info

Sejarah ORI: Perjuangan Mencetak Mata Uang Republik Indonesia di Tengah Agresi Militer Belanda


Di tengah situasi revolusi dan ancaman kembalinya kekuasaan kolonial, Republik Indonesia mengambil langkah berani dengan menerbitkan mata uang sendiri. Oeang Republik Indonesia atau ORI bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kedaulatan dan perlawanan.

Dicetak dalam kondisi serba terbatas, ORI menjadi bagian penting dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Kekacauan Ekonomi Pasca Proklamasi

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, kondisi ekonomi Indonesia berada dalam keadaan kacau.

Berbagai mata uang beredar secara bersamaan, mulai dari uang peninggalan pemerintah kolonial Hindia Belanda, uang pendudukan Jepang, hingga uang yang dibawa oleh tentara Sekutu dan Belanda yang kembali ke Indonesia.

Ketidakpastian ini dimanfaatkan oleh pemerintah Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration untuk mengembalikan pengaruhnya, termasuk dengan mengedarkan uang NICA sebagai alat pembayaran resmi di wilayah yang mereka kuasai.

Peredaran berbagai jenis mata uang tanpa kendali menyebabkan inflasi tinggi dan kekacauan sistem perdagangan. Pemerintah Republik Indonesia yang masih sangat muda menyadari bahwa tanpa mata uang sendiri, kedaulatan ekonomi tidak akan pernah benar-benar terwujud.

Penerbitan ORI

Pemerintah Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta memahami bahwa mata uang adalah simbol negara yang merdeka. Karena itu, penerbitan ORI bukan hanya kebijakan ekonomi, tetapi juga keputusan politik yang tegas.

Pada 26 Oktober 1946, pemerintah secara resmi mengumumkan berlakunya Oeang Republik Indonesia sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah kekuasaan Republik. Tanggal ini kemudian dikenang sebagai momen penting dalam sejarah keuangan nasional.

Dengan beredarnya ORI, pemerintah ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia internasional bahwa Republik Indonesia benar-benar berdiri sebagai negara berdaulat.

Langkah ini juga menjadi bentuk perlawanan langsung terhadap upaya Belanda yang ingin memulihkan sistem kolonial, termasuk melalui penguasaan sistem moneter. Menggantikan uang Jepang dan menolak uang NICA adalah pernyataan politik yang berani di tengah ancaman militer.

Proses Percetakan di Tengah Keterbatasan dan Ancaman

Percetakan ORI dilakukan dalam kondisi yang sangat sulit. Fasilitas percetakan terbatas, bahan baku minim, dan situasi keamanan tidak stabil. Ibu kota Republik saat itu berada di Yogyakarta, yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat perjuangan.

Proses desain dan pencetakan dilakukan secara sederhana dengan peralatan seadanya. Bahkan demi menjaga keamanan, lokasi percetakan sering dirahasiakan untuk menghindari sabotase atau serangan Belanda.

Distribusi uang pertama Republik Indonesia ini pun tidak mudah karena banyak wilayah terisolasi akibat konflik bersenjata.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I pada 1947 dan Agresi Militer II pada 1948, situasi semakin genting. Namun semangat mempertahankan kedaulatan ekonomi tidak surut. Di berbagai daerah, muncul pula ORI daerah yang dicetak secara lokal karena sulitnya distribusi dari pusat.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya mata uang nasional dalam menopang kehidupan ekonomi rakyat sekaligus simbol perlawanan.

Peran ORI dalam Memperkuat Persatuan

Beredarnya ORI memiliki dampak psikologis dan politis yang besar. Rakyat yang menggunakan ORI dalam transaksi sehari-hari merasakan bahwa mereka benar-benar menjadi bagian dari sebuah negara merdeka.

Setiap lembar ORI membawa pesan bahwa Republik Indonesia hadir dan berfungsi. Penggunaan satu mata uang nasional juga memperkuat integrasi wilayah yang sebelumnya terpecah oleh sistem kolonial.

Di tengah ancaman disintegrasi dan pembentukan negara-negara federal bentukan Belanda, ORI menjadi alat pemersatu. Ia menyatukan pedagang, petani, pegawai, dan pejuang dalam satu sistem ekonomi yang sama.

Selain itu, ORI membantu pemerintah mengendalikan inflasi dan menata kembali sistem keuangan. Meski tantangan tetap besar, keberadaan mata uang nasional memberi dasar bagi pembentukan kebijakan fiskal dan perbankan di masa awal kemerdekaan.

Warisan ORI dalam Sejarah Bangsa

Setelah pengakuan kedaulatan pada 1949, sistem moneter Indonesia terus berkembang hingga akhirnya terbentuk Bank Indonesia sebagai bank sentral. Namun ORI tetap dikenang sebagai tonggak awal kedaulatan ekonomi bangsa.

Nilai historis ORI tidak hanya terletak pada fungsi ekonominya, tetapi juga pada maknanya sebagai simbol perjuangan. Ia dicetak di tengah desingan peluru, di saat masa depan negara masih belum pasti. Setiap lembar ORI mencerminkan tekad untuk berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Sejarah ORI mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal pengakuan politik, tetapi juga kemandirian ekonomi.

Tanpa mata uang sendiri, sebuah negara akan sulit mengatur nasibnya. Karena itu, ORI menjadi bukti bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan di berbagai medan, termasuk di bidang keuangan.

Dalam konteks revolusi fisik melawan agresi militer Belanda, ORI adalah senjata non-militer yang tak kalah penting. Ia memperkuat legitimasi Republik dan menegaskan bahwa Indonesia bukan lagi koloni, melainkan bangsa merdeka yang berdaulat penuh atas tanah dan ekonominya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.

DS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.