menyusuri jejak kolonial di benteng fort de kock bukittinggi - News | Good News From Indonesia 2026

Menyusuri Jejak Kolonial di Benteng Fort de Kock, Bukittinggi

Menyusuri Jejak Kolonial di Benteng Fort de Kock, Bukittinggi
images info

Menyusuri Jejak Kolonial di Benteng Fort de Kock, Bukittinggi


Di tengah sejuknya udara perbukitan dan lanskap hijau khas Minangkabau, berdiri sebuah saksi bisu perjalanan sejarah. Benteng Fort de Kock namanya. Tak sekadar bangunan tua, benteng ini menyimpan kisah panjang tentang konflik, strategi militer, hingga lahirnya kota yang kini dikenal sebagai Bukittinggi.

Hari ini, Fort de Kock mungkin tampak seperti taman kota yang tenang. Namun, jika menelusuri jejaknya lebih dalam, kita akan menemukan bahwa tempat ini pernah menjadi pusat pertahanan kolonial Belanda dalam salah satu konflik terbesar di Sumatra Barat.

Berada di Ketinggian Bukittinggi

Benteng Fort de Kock terletak di Kota Bukittinggi, tepatnya di kawasan Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang. Posisinya yang berada di atas Bukit Jirek, sekitar 958 meter di atas permukaan laut, membuat kawasan ini memiliki panorama yang luas sekaligus strategis.

Benteng Fort De Kock tampak depan
info gambar

Suasana di Fort De Kock | Wikimedia Commons: Sonjo 01


Untuk mencapainya, pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum menuju pusat kota Bukittinggi. Dari Jam Gadang, ikon kota, lokasi benteng bisa dijangkau hanya dalam beberapa menit perjalanan. Akses jalan yang sudah baik membuat destinasi ini mudah dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.

Benteng Pertahanan Berbentuk Bintang

Dari segi fisik, Fort de Kock awalnya merupakan benteng pertahanan berbentuk bintang (star fort) yang dikenal dengan nama Sterreschans, yang berarti “benteng pelindung”.

Nama “Fort de Kock” sendiri diambil dari Hendrik Merkus de Kock, seorang pejabat tinggi kolonial Belanda yang berperan penting dalam operasi militer saat itu.

Meski sebagian besar struktur aslinya telah mengalami perubahan, jejak benteng masih dapat dilihat melalui area tanah yang ditinggikan serta beberapa meriam yang tersisa. Kawasan ini kini dikembangkan menjadi ruang terbuka hijau dengan taman, jalur pejalan kaki, serta fasilitas rekreasi.

Salah satu daya tarik uniknya adalah jembatan yang menghubungkan kawasan benteng dengan objek wisata lain seperti kebun binatang dan museum di sekitarnya. Dari titik ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan kota dan perbukitan yang menenangkan.

Berawal dari Perang Padri

Benteng Fort de Kock dibangun pada tahun 1825 oleh Kapten Johann Heinrich Conrad Bauer atas perintah pemerintah kolonial Belanda. Pembangunan ini tidak bisa dilepaskan dari konteks besar saat itu, yaitu Perang Padri

Perang Padri merupakan konflik antara Kaum Padri (kelompok yang menginginkan pembaruan berbasis ajaran Islam) dengan Kaum Adat yang mempertahankan tradisi Minangkabau. Di situasi tersebut, kelompok adat meminta bantuan Belanda, yang memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat pengaruhnya di Sumatra Barat.

baca juga

Fort de Kock memainkan peran krusial sebagai basis operasi Belanda sekaligus titik pengawasan strategis terhadap pergerakan pasukan lawan. Dari puncak bukit, pasukan Belanda mengawasi lembah Ngarai Sianok untuk mencegah serangan mendadak.

Prasasti pendirian Fort De Kock
info gambar

Prasasti pendirian Fort De Kock | Wikimedia Commons: Tdevries


Benteng ini berkontribusi pada penangkapan Imam Bonjol pada 1837, menandai akhir Perang Padri. Konflik ini tidak hanya mengubah peta politik Minangkabau, tetapi juga membuka jalan bagi eksploitasi ekonomi Belanda melalui kopi dan emas di Tanah Datar serta Agam.

Beragam Aktivitas yang Dapat Dilakukan

Kini, Fort de Kock telah bertransformasi menjadi destinasi wisata sejarah yang ramah pengunjung. Tempat ini cocok untuk wisata edukasi, terutama bagi pelajar yang ingin memahami sejarah kolonial dan dinamika sosial di Sumatra Barat. Tidak hanya belajar sejarah, ada berbagai aktivitas yang bisa dilakukan di sini. 

Pengunjung dapat berjalan santai di area taman sambil menikmati udara segar khas dataran tinggi. Beberapa fasilitas seperti tempat duduk, area bermain, hingga spot foto tersedia untuk menunjang kenyamanan.

Bagi yang ingin pengalaman lebih seru, tersedia wahana seperti sepeda gantung yang memungkinkan pengunjung melihat kawasan dari sudut pandang berbeda. Selain itu, keberadaan jembatan penghubung membuat wisata di kawasan ini terasa terintegrasi dengan objek wisata lain di sekitarnya.

baca juga

Di tengah hiruk-pikuk Bukittinggi, Fort de Kock mengajak kita untuk berhenti sejenak, mendengarkan cerita yang tertinggal di balik tanah dan dindingnya. Ia tidak hanya menjadi pengingat masa lalu, tetapi juga ruang refleksi tentang perjalanan panjang sebuah daerah. Di sinilah sejarah pernah ditulis dan masa depan sebuah kota mulai terbentuk.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.