jejak spiritual ponpes suryalaya tasikmalaya dari prinsip ketahanan moral hingga saksi pergolakan sejarah di indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Jejak Spiritual Ponpes Suryalaya Tasikmalaya: Prinsip Ketahanan Moral hingga Saksi Pergolakan Sejarah di Indonesia

Jejak Spiritual Ponpes Suryalaya Tasikmalaya: Prinsip Ketahanan Moral hingga Saksi Pergolakan Sejarah di Indonesia
images info

Jejak Spiritual Ponpes Suryalaya Tasikmalaya: Prinsip Ketahanan Moral hingga Saksi Pergolakan Sejarah di Indonesia


Kawan GNFI, Tasikmalaya yang berada di wilayah Priangan Timur mendapat julukan sebagai ‘Kota Santri’. Dari banyaknya pondok pesantren di Tasikmalaya, salah satu yang paling terkenal bahkan menjadi pesantren tasawuf yang mendunia dikenal dengan Ponpes Suryalaya.

Dengan kajian tasawuf yang berlandaskan pada Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN), ponpes ini juga dikenal dengan program Inabah atau tempat penyembuhan bagi para pecandu narkoba dengan menggunakan metode zikir.

Bahkan Ponpes Suryalaya pun menjadi salah satu lembaga pendidikan islam tradisional yang ajarannya merambah ke berbagai belahan dunia seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Eropa, Australia, dan Amerika.

Ingin tahu bagaimana sejarah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya hingga ajarannya yang terkenal di dunia internasional? Simak ulasannya berikut ini, ya, Kawan GNFI!

Sejarah Berdirinya Ponpes Suryalaya

Berlokasi di Desa Pagerageung, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ponpes ini didirikan pada 5 September 1905 (7 Rajab 1323 H) oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau dikenal sebagai Abah Sepuh.

Dalam awal pendiriannya, Ponpes Suryalaya ini tak serta-merta menjadi sebuah kompleks yang megah. Banyak hambatan dan rintangan yang dilalui mulai dari kondisi geografis dengan medan sulit, faktor kepercayaan masyarakat, hingga pada masa awal pendiriannya dihadapkan dengan puncak kolonialisme Belanda yang penuh tekanan sosial dan politik.

Bermula dari sebuah langgar kecil dan beberapa pondok bambu di atas bukit yang dikelilingi hutan, hal ini menjadi bangunan masjid pertama yang berlokasi untuk menyebarkan agama islam khususnya di Kabupaten Tasikmalaya.

Nama Suryalaya sendiri diambil dari kata bahasa sunda ‘surya’ yang berarti matahari, dan ‘laya’ atau dikenal dengan ‘tempat terbit atau tempat tinggi’. Maka dari itu, secara harfiah, Suryalaya ini bermakna tempat matahari terbit. Secara filosofis tempat ini diharapkan menjadi sumber cahaya bagi jiwa-jiwa dalam kegelapan.

Meskipun pada masa pendirian awalnya sempat menemui tantangan dan kebimbangan, tetapi Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) mendapat motivasi dan dorongan dari Syaikh Tholhah bin Talabudin.

Dari peristiwa inilah, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) pada tahun 1908 mendapatkan khirqah (legitimasi penguatan spiritual sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin dalam menyebarkan ajarannya.

baca juga

Masa Keemasan Ponpes Suryalaya

Seiring berjalannya waktu, Ponpes Suryalaya terus berkembang dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat, ulama, hingga pemerintah daerah. Sarana dan prasarana pun terus bertambah berikut dengan pengikut atau murid yang dikenal dengan ikhwan.

Dengan kajian tasawuf yang berlandaskan pada Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN), dalam penyebarannya Abah Sepuh dibantu oleh sembilan orang wakil talqin dan meninggalkan wasiat untuk dijadikan pegangan, jalinan kesatuan, dan persatuan pada murid atau ikhwan yaitu Tanbih.

Namun, pada tahun 1956, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) wafat di usia 120 tahun. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya yang kelima, yaitu KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin atau dikenal sebagai Abah Anom.

KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom) | Foto: Wikimedia Commons/ Pencinta sufi
info gambar

KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom) | Foto: Wikimedia Commons/ Pencinta sufi


Pada masa awal kepemimpinannnya, Abah Anom mengalami kendala kembali akibat adanya pemberontakkan DI/TII hingga ponpes Suryalaya mendapatkan serangan lebih dari 48 kali.

Yang menarik, pada masa pemberontakan PKI tahun 1965, KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom) banyak membantu pemerintah dengan menyadarkan eks anggota PKI untuk kembali ke jalan yang benar menurut agama islam dan Negara.

Hal ini juga berakar dari Tanbih (wasiat tertulis Abah Sepuh) yang isinya menekankan tentang pentingnya ketaatan kepada agama dan negara, serta larangan berselisih dengan pemerintah atau saling menyalahkan antar sesama ulama.

Karena prinsip Tanbih inilah, Ponpes Suryalaya menuju masa keemasannya setelah membaiknya situasi keamanan pasca pemberontakan DI/TII hingga membuat masyarakat terus tertarik dan ingin mendalami Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN).

Seiring dengan perkembangan waktu, pada 11 Maret 1961 atas prakarsa H.Sekawan Gubernur Jawa Barat (1947—1925) beserta Menteri Pertahanan RI, Iwa Kusuma Sumantri (1952—1953), dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya.

Pembentukan yayasan ini bertujuan untuk membantu tugas KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom) dalam menyebarkan agama Islam Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) dan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pada masa kepemimpinan Abah Anom ini juga Ponpes Suryalaya berperan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, dan kenegaraan hingga eksistensinya terus menguat bahkan sampai kepada dunia.

Di bawah kepemimpinan Abah Anom juga, pengembangan Inabah (rehabilitasi pecandu narkoba) dengan menitikberatkan pada metode zikir, ibadah, dan mandi malam.

Metode ini telah diakui secara internasional karena telah membantu banyak korban penyalahgunaan narkotika dengan model rehabilitasinya. Selain itu, cara tersebut juga menjadi bukti bahwa pendekatan agama memiliki kekuatan klinis dalam menyembuhkan ketergantungan zat kimia.

baca juga

Kini, Ponpes Suryalaya mulai mengalami modernisasi dengan menjadikan pesantren yang terintegrasi pendidikan formal dari Yayasan Serba Bakti yang menaungi sekolah dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi.

Karena peran aktif, prestasi, dan jasa-jasanya, Ponpes Suryalaya dengan TQN dinilai mampu menjawab tantangan krisis spiritual, khususnya bagi masyarakat modern melalui pendekatan tasawuf yang moderat dan inklusif.

Inspiratif sekali, ya, Kawan GNFI!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.