Di tengah lanskap pegunungan yang megah dan lautan pasir yang luas, masyarakat Tengger menjaga sebuah tradisi sakral bernama Yadnya Kasada. Ritual ini bukan sekadar upacara keagamaan, melainkan perwujudan ketahanan budaya yang diwariskan turun-temurun.
Dalam setiap prosesi, tersirat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang terus hidup hingga kini.
Asal-Usul dan Latar Spiritual
Yadnya Kasada berakar dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger, pasangan leluhur masyarakat Tengger yang dipercaya memohon keturunan kepada penguasa gunung suci.
Kisah ini menjadi fondasi spiritual bagi komunitas Hindu Tengger yang mendiami kawasan sekitar Gunung Bromo di wilayah Tengger.
Menurut tradisi, pasangan tersebut berjanji akan mengorbankan anak bungsu mereka sebagai bentuk syukur atas anugerah keturunan.
Janji itu kemudian menjadi simbol pengorbanan dan ketulusan dalam menjaga keseimbangan hidup. Dari legenda inilah lahir ritual Yadnya Kasada, yang dilaksanakan setiap bulan Kasada dalam kalender tradisional Tengger.
Ritual ini bukan hanya mengenang legenda, tetapi juga memperkuat keyakinan masyarakat akan pentingnya keselarasan antara manusia dan kekuatan alam. Gunung, lautan pasir, dan kawah Bromo dipandang sebagai ruang sakral tempat manusia berkomunikasi dengan dimensi spiritual.
Proses Sakral di Kawah Gunung Bromo
Puncak perayaan Yadnya Kasada berlangsung di kawah Gunung Bromo, yang berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ribuan warga Tengger berjalan kaki pada dini hari, membawa hasil bumi, ternak, dan berbagai sesaji sebagai persembahan.
Upacara diawali dengan doa-doa yang dipimpin oleh dukun adat atau pemuka agama setempat. Dalam suasana hening dan khidmat, masyarakat memanjatkan puji syukur atas hasil panen dan memohon perlindungan serta kesejahteraan.
Setelah itu, sesaji dilemparkan ke dalam kawah sebagai simbol penyerahan diri dan rasa terima kasih kepada Sang Hyang Widhi.
Menariknya, sebagian masyarakat dari luar komunitas Tengger turun ke lereng kawah untuk menangkap sesaji yang dilemparkan.
Mereka meyakini bahwa hasil tangkapan tersebut membawa berkah dan keberuntungan. Tradisi ini menciptakan interaksi unik antara ritual sakral dan dinamika sosial di sekitar gunung.
Resiliensi Budaya di Tengah Perubahan Zaman
Di era modern yang ditandai arus globalisasi dan pariwisata massal, Yadnya Kasada tetap bertahan sebagai identitas kolektif masyarakat Tengger.
Ketahanan ini menunjukkan resiliensi budaya yang kuat. Generasi muda Tengger tetap dilibatkan dalam setiap tahapan ritual, mulai dari persiapan sesaji hingga pelaksanaan doa.
Meski kawasan Bromo menjadi destinasi wisata internasional, masyarakat Tengger berhasil menjaga esensi sakral upacara.
Mereka membedakan dengan jelas antara ruang spiritual dan aktivitas pariwisata. Nilai-nilai adat tetap dihormati, bahkan ketika ribuan wisatawan datang untuk menyaksikan prosesi.
Resiliensi ini tidak terjadi secara otomatis. Ia lahir dari kesadaran kolektif bahwa tradisi adalah fondasi identitas. Melalui Yadnya Kasada, masyarakat Tengger menegaskan keberadaan mereka sebagai komunitas adat yang memiliki sejarah panjang dan sistem nilai yang kokoh.
Harmoni Manusia dan Alam
Salah satu makna terdalam Yadnya Kasada adalah harmoni dengan alam. Gunung Bromo bukan sekadar objek geografis, melainkan entitas hidup yang dihormati. Masyarakat Tengger meyakini bahwa keseimbangan alam harus dijaga agar kehidupan tetap berlangsung dengan baik.
Persembahan hasil bumi dalam ritual mencerminkan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan. Apa yang diperoleh dari tanah dikembalikan sebagai ungkapan syukur.
Filosofi ini menanamkan kesadaran ekologis yang kuat, jauh sebelum konsep pelestarian lingkungan menjadi wacana global.
Kehidupan sehari-hari masyarakat Tengger pun mencerminkan prinsip tersebut. Pertanian dilakukan dengan memperhatikan siklus alam, dan kawasan hutan di sekitar pegunungan dijaga kelestariannya.
Ritual Yadnya Kasada menjadi pengingat tahunan bahwa manusia hanyalah bagian dari ekosistem yang lebih besar.
Dimensi Sosial dan Solidaritas Kemanusiaan
Selain bermakna spiritual dan ekologis, Yadnya Kasada juga memperkuat solidaritas sosial. Persiapan ritual melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga tetua adat.
Gotong royong dalam menyiapkan sesaji dan perlengkapan upacara menciptakan rasa kebersamaan yang mendalam.
Momentum ini juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga desa di kawasan Tengger. Mereka berkumpul, berbagi cerita, dan mempererat hubungan kekeluargaan. Dalam konteks ini, Yadnya Kasada berfungsi sebagai perekat sosial yang menjaga kohesi komunitas.
Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan sosial, solidaritas semacam ini menjadi modal penting untuk bertahan. Ritual bukan hanya peristiwa simbolik, tetapi mekanisme nyata yang memperkuat struktur sosial masyarakat adat.
Warisan Budaya Kuno yang Tetap Hidup
Yadnya Kasada adalah contoh nyata bagaimana tradisi dapat bertahan tanpa kehilangan relevansi. Ia bukan sekadar atraksi budaya, melainkan praktik hidup yang terus diperbarui oleh para pelakunya.
Dalam setiap doa dan persembahan, tersimpan pesan tentang kesetiaan pada leluhur dan tanggung jawab terhadap alam.
Sebagai warisan budaya, ritual ini memperlihatkan bahwa modernitas tidak selalu berarti meninggalkan tradisi.
Justru melalui pemeliharaan upacara seperti Yadnya Kasada, masyarakat Tengger menunjukkan bahwa identitas lokal dapat berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman.
Di lereng Gunung Bromo yang berkabut, Yadnya Kasada terus dilaksanakan dengan khidmat. Ia menjadi simbol resiliensi budaya dan harmoni alam, sebuah pengingat bahwa keseimbangan antara manusia, tradisi, dan lingkungan adalah kunci keberlanjutan kehidupan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


