Apa saja perbedaan barongsai dan liong? Mari kita simak penjelasannya berikut ini.
Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan warna merah, tabuhan drum yang menggema, dan atraksi hewan mitologis yang begitu memikat perhatian. Di berbagai kota di Indonesia, pertunjukan Barongsai dan Liong hampir selalu hadir dalam rangkaian Imlek maupun Cap Go Meh.
Sekilas, keduanya sama-sama tampil meriah dengan iringan musik bertalu-talu serta diyakini membawa keberuntungan. Namun jika dicermati, ada perbedaan Barongsai dan Liong yang cukup mendasar, mulai dari bentuk fisik hingga makna filosofisnya.
Perbedaan Wujud Fisik Barongsai dan Liong
Untuk memahami perbedaan Barongsai dan Liong, cara paling mudah adalah melihat tampilannya.
Dari wujudnya, barongsai menyerupai singa dengan kepala besar dan mata yang bisa berkedip sedangkan liong berbentuk naga panjang beruas-ruas. Ukuran barongsai lebih pendek dan padat daripada liong yang panjangnya bisa mencapai belasan meter.
Perbedaan selanjutnya adalah dari segi cara memainkannya. Barongsai dipakai langsung oleh dua orang dalam satu kostum yang menonjolkan ekspresi kepala dan gerakan yang lincah, sedangkan liong digerakkan dengan tongkat dari bawah dan membentuk gelombang tubuh naga yang memanjang.
Selain itu barongsai tampil dengan kepala besar yang ekspresif. Mata dan mulutnya dapat digerakkan sehingga terlihat hidup. Sementara itu, Liong berbentuk naga panjang yang tubuhnya tersusun dalam beberapa ruas dan digerakkan menggunakan tongkat oleh para pemain di bawahnya. Perbedaan visual ini menjadi pembeda paling mencolok dalam tradisi Imlek.
Jumlah Pemain Barongsai dan Liong dalam Pertunjukan Imlek
Selain bentuknya, jumlah pemain keduanya juga memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Barongsai dimainkan oleh dua orang. Satu orang mengendalikan bagian kepala, sementara satu lainnya mengatur bagian belakang sekaligus kaki. Kekuatan pertunjukan terletak pada kekompakan keduanya. Gerakan harus selaras agar karakter singa terlihat meyakinkan.
Sementara itu, Liong dimainkan oleh kelompok besar, biasanya 9, 13, bahkan puluhan orang tergantung panjang naga. Setiap pemain memegang satu tongkat yang menyangga bagian tubuh naga. Kunci pertunjukan Liong ada pada koordinasi dan keserempakan formasi kelompok.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa Barongsai lebih menekankan sinkronisasi dua individu, sedangkan Liong bertumpu pada kerja sama tim dalam jumlah besar.
Teknik Gerakan dan Iringan Musik Barongsai dan Liong
Gerakan Barongsai cenderung lincah dan atraktif. Dalam beberapa pertunjukan, Barongsai melompat di atas tiang tinggi yang dikenal sebagai Meihua. Tarian ini meniru perilaku singa, mulai dari gerakan penasaran, bermain, hingga melompat.
Iringannya didominasi tabuhan drum, simbal, dan gong yang keras. Bunyi gaduh ini berkaitan dengan legenda tentang monster bernama Nian yang dipercaya takut pada suara keras dan warna merah. Dari sinilah muncul filosofi Barongsai Imlek sebagai simbol penolak bala.
Berbeda dengan itu, Liong bergerak meliuk dan membentuk pola seperti angka delapan atau lingkaran. Tubuh naga diangkat dan diturunkan secara bergelombang sehingga tampak seperti makhluk hidup yang sedang terbang atau berenang di udara.
Gerakan Liong menonjolkan keindahan visual formasi dan kesinambungan pola, sehingga pertunjukannya terasa lebih mengalir.
Makna Filosofis Barongsai dan Liong
Barongsai melambangkan keberanian dan perlindungan. Legenda Nian menjadi latar cerita yang menjelaskan mengapa suara keras dan warna merah digunakan untuk mengusir energi buruk. Dalam pertunjukan, terdapat tradisi “makan angpao” atau Lay See, ketika Barongsai mengambil amplop merah berisi uang dari tuan rumah. Ritual ini dipercaya sebagai simbol pembawa rezeki dan keberuntungan.
Di sisi lain, Liong melambangkan kebijaksanaan, kekuatan, dan kemakmuran. Dalam kepercayaan Tionghoa, naga adalah makhluk suci pembawa hujan sekaligus simbol kesuburan. Naga juga dipercaya menjadi penghubung antara langit dan bumi. Karena itu, kehadiran Liong dalam perayaan Imlek dimaknai sebagai doa untuk keseimbangan dan keberkahan di tahun yang baru.
Sejarah Barongsai dan Asal-usul Liong
Barongsai memiliki jejak sejak masa Dinasti Chin sekitar abad ke-3 sebelum Masehi. Awalnya, pertunjukan ini berkembang sebagai bagian dari ritual dan hiburan rakyat yang kemudian menjadi tradisi budaya dalam perayaan besar.
Sementara itu, Liong sudah dikenal sejak masa Dinasti Han. Tarian naga dipercaya berawal dari ritual masyarakat yang memohon hujan demi hasil panen yang baik. Dari ritual tersebut berkembang tradisi tarian naga yang kini dikenal luas dan menjadi bagian penting dalam perayaan Imlek.
Pada akhirnya, perbedaan Barongsai dan Liong bukan sekedar soal singa dan naga, tetapi juga menyangkut aspek fisik, makna, hingga sejarahnya.
Barongsai hadir sebagai simbol keberanian dan perlindungan dari energi buruk. Sementara Liong menjadi lambang kebijaksanaan dan kemakmuran.
Meski berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membawa doa dan harapan terbaik saat menyambut Tahun Baru Imlek. Dalam setiap tabuhan drum dan setiap gerakan yang ditampilkan, terselip harapan akan tahun yang lebih baik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


