Surabaya sedang kurang bersahabat sore itu. Hujan turun membuat kota tempat tinggal saya basah kuyup di mana-mana. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 17.20. Hari ketiga puasa. Di dunia takjil, ini sudah masuk menit kritis. Sekitar 25 menit lagi azan Magrib. Waktunya berbuka.
Hampir semua orang yang berpuasa sudah duduk manis. Menunggu bedug magrib. Lapak pinggir jalan mulai berkemas karena pembeli sudah tidak lagi ramai. Tinggal menyisakan remah gorengan dan jajanan yang mulai mendingin. Dari balik kaca mobil, saya melihat pemandangan yang menggores logika ekonomi saya.
Ada seorang ibu. Separuh baya. Beliau duduk termenung. Sesekali melihat jam di HP-nya. Di depannya, dagangan masih tersisa banyak. Bakwan, tahu isi, jajanan pasar warna-warni itu masih utuh. Padahal waktu berbuka tinggal hitungan menit.
Saya langsung faham, ini kerugian nyata bagi ibu itu. Rugi. Pasti rugi. Ada modal yang keluar sejak pagi. Ada tenaga yang habis untuk menggoreng di depan kompor panas. Semuanya seolah menguap, hilang bersama air hujan.
Saya memutuskan menepi. Saya turun menembus gerimis yang mulai menderu. Niat saya sederhana. Ingin membantu sedikit. Saya borong beberapa bungkus besar. Untuk keluarga di rumah. Juga untuk para satpam di depan perumahan yang pasti belum sempat mencari pembatal puasa.
Sambil menunggu beliau membungkus pesanan, saya bertanya. Saya melihat tangan ibu ini sedikit gemetar karena angin dingin.
"Bu, kalau nanti benar-benar tidak habis, makanan-makanan ini biasanya dikemanakan?" tanya saya. Saya mencoba berempati.
Ibu itu mendongak. Tidak ada gurat putus asa di wajahnya. Beliau justru tersenyum. Sangat tulus. Jenis senyum yang hanya bisa lahir dari hati yang sudah selesai dengan urusan dunia.
"Saya bawa pulang, Mas. Nanti habis magrib saya hantarkan semua ke masjid. Buat bapak-bapak atau anak-anak yang tadarus selepas Tarawih. Selagi masih enak dimakan, gak mungkin dibuang," jawabnya ringan.
Seolah rugi ratusan ribu rupiah bukan masalah besar baginya. Padahal ratusan ribu rupiah sama sekali bukan angka kecil bagi beliau.
Saya tertegun. Kerongkongan saya mendadak kaku, tak mampu mengatakan apapun.
Saya mencoba menghitung di kepala. Bagi orang kecil, uang seratus ribu itu nyawa. Itu adalah modal untuk belanja minyak, tepung, dan tahu untuk besok pagi. Kalau hari ini tidak balik modal, besok mau jualan pakai apa? Logika saya buntu. Saya berpikir tentang utang beliau, tentang kebutuhan dapur beliau, tentang cicilan, biaya lain lain di rumah.
Tapi mungkin ibu ini punya kalkulator yang berbeda. Beliau tidak melihat tumpukan bakwan yang tidak laku itu sebagai barang retur yang gagal. Beliau melihatnya sebagai "undangan" dari Allah untuk bersedekah, sejauh kemampuan Ibu itu. Seolah-olah Allah sedang berkata kepada beliau: "Hari ini daganganmu sengaja tidak Aku habiskan, karena Aku ingin kamu menjamu tamu-Ku di masjid nanti malam."
Beliau bercerita ini bukan sekali dua kali. Sudah bertahun-tahun. Jika habis, beliau bersyukur. Jika tidak habis, beliau juga bersyukur. Karena beliau bisa memberi makan orang yang sedang mengaji tanpa harus merasa sedang berkorban. Beliau merasa hanya menjadi "kurir" dari makanan yang memang sudah jatahnya anak-anak tadarus itu.
Bagi saya, inilah wajah asli Indonesia yang sebenarnya.
Di media sosial, saya sering melihat potongan cerita yang serupa. Ada ojek online yang tetap memacu motor demi mengantar anak sekolah meski uang si anak tertinggal. Ada rakyat kecil yang rela berbagi meski dirinya sendiri belum tentu cukup. Cerita-cerita itu bukan sekadar konten. Itu adalah bukti nyata DNA bangsa ini. Bangsa yang paling tidak bisa melihat orang lain kesusahan. Kisah-kisah besar yang datangnya justru dari rakyat kecil.
Data dari Charities Aid Foundation (CAF) dalam World Giving Index mengonfirmasi hal itu. Selama bertahun-tahun, Indonesia hampir tidak pernah lepas dari posisi puncak negara paling dermawan di dunia. Kita berada di atas negara-negara yang rakyatnya kaya-kaya. Mungkin dunia lalubertanya-tanya, bagaimana mungkin bangsa yang pendapatan per kapitanya masih jauh di bawah mereka bisa menjadi yang nomor satu dalam hal memberi ke orang lain tanpa pamrih?

Jawabannya ada di rincian data itu. CAF mengukur kedermawanan bukan dari seberapa besar nilai uang yang kita tulis. Mereka mengukur seberapa sering kita menolong orang yang bahkan tidak kita dikenal. Seberapa sering kita meluangkan waktu untuk kerja sosial, tanpa pamrih. Dan seberapa rutin kita memberikan donasi, sekecil apa pun itu.
Di negara maju, kedermawanan sering kali menjadi urusan kelas atas. Menjadi bagian dari pengurangan pajak atau gengsi sosial. Di Indonesia, kedermawanan adalah urusan semua orang. Dari konglomerat di gedung tinggi sampai ibu penjual takjil di pinggir jalan yang jualannya tak habis.
Bagi orang luar, ini adalah anomali ekonomi. Tapi bagi kita, ini adalah keteguhan iman. Kita adalah bangsa yang percaya bahwa memberi tidak akan membuat kita miskin. Kita adalah bangsa yang merasa lebih "lapar" jika melihat tetangga tidak makan.
Kemenangan kita di indeks kedermawanan dunia bukan karena kita punya banyak uang sisa. Kita menang karena kita punya banyak sisa cinta. Kita punya hati yang terlalu luas untuk dibatasi oleh angka-angka di saldo bank. Ibu penjual takjil tadi adalah penyumbang angka terbesar bagi skor dunia itu. Bukan dengan jutaan dollar, tapi dengan tumpukan bakwan yang ia berikan kepada anak-anak yang mungkin tak semua beliau kenal.
Indonesia bukan negara kaya, rakyatnya juga banyak yang tidak kaya. Namun kita kaya akan silaturahmi. Kita kaya gotong royong. Kita punya jaring pengaman alami yang ditenun oleh tangan-tangan orang kecil yang tulus.
Sore itu saya pulang dengan perasaan berkecamuk. Mata saya terasa jauh lebih basah daripada aspal yang diguyur hujan. Saya menangis bukan karena kasihan pada Ibu itu. Saya menangis karena merasa sangat kerdil.
Di depan penjual gorengan itu, segala pencapaian saya mendadak tidak ada harganya. Kosong. Saya sadar, kekayaan sejati ternyata bukan soal berapa banyak yang kita simpan di dalam brankas. Kekayaan sejati adalah seberapa banyak yang mampu kita lepaskan dengan ikhlas saat kita sendiri sebenarnya sedang berada dalam kekurangan.
Hujan sudah berhenti. Gerimisnya pindah ke mata saya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


