Tepat pada tanggal 1 Februari 2026, AIESEC in Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi memasuki era baru. Kepengurusan tahun 2025/2026 yang dipimpin oleh kabinet Bayanaka Bimantara berpindah ke kepengurusan kabinet Sankrama Uttara untuk masa bakti 2026/2027.
Sebelum dikukuhkan menjadi anggota baru, para calon anggota atau yang biasa disebut newies harus menjalani masa magang sebagai tahapan untuk mempelajari, mendalami, sekaligus menjadi tahap seleksi akhir sebelum menjadi anggota tetap.
Setelah resmi, tentunya mereka tidak langsung dilepas begitu saja. Sebagai bentuk pembekalan terhadap anggotanya, AIESEC in UGM memberikan fasilitas seminar bertajuk LCTC yang bertemakan Bluetopia: Where The Journey Begins.
LCTC dijalankan selama tiga hari dari tanggal 13 – 15 Februari 2026. Pada hari pertama dan kedua wajib dihadiri secara tatap muka oleh para Management Board dan hari terakhir wajib didatangi oleh seluruh anggota AIESEC in UGM yang tak hanya Management Board saja namun juga General Board.
Kegiatan tatap muka dilaksanakan di Gelanggang Inovasi Karya Universitas Gadjah Mada (GIK UGM) tepatnya pada Mandiri Smart Class. Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen dan fasilitas dari organisasi agar seluruh anggota memiliki arah pemahaman yang sama dan jelas serta tidak kebingungan selama menjalani tugas-tugas mereka.
Selama dua hari pertama, General Board diberikan tugas yang sudah diatur oleh Talent Management. Materi-materi tersebut mencakupi pengetahuan mengenai AIESEC secara umum, AIESEC in Indonesia, hingga AIESEC in UGM.
Tak lupa, mereka juga menyisipkan materi tentang departemen tiap anggota dan juga materi mengenai managerial masing-masing. Materi ini diharapkan dapat menjadi modal bagi para member untuk menyiapkan diri menyambut tahun kepemimpinan baru.
Melalui materi tersebut, para member juga dievaluasi dengan berbagai macam bentuk outcome untuk memastikan bahwa materi sudah dipahami dengan baik dan benar.
Pada hari terakhir, yaitu tanggal 15 Februari 2026, seluruh anggota AIESEC in UGM menerima seminar materi yang dipaparkan oleh EB. Untuk membungkus kegiatan agar lebih menyenangkan dan kreatif, para EB memberikan beberapa aktivitas seraya memberikan materi seperti sesi sharing hingga game roleplay.
Seluruh anggota diajak untuk mengaktifkan sisi kepemimpinannya dengan menjadi terbuka dan penuh inisiatif selama menjalankan sesi. Dari rangkaian acara yang sudah dijalankan, acara ini tak dibuat hanya untuk sekedar memahami apa saja tugas-tugas mereka, namun juga membantu mereka untuk memberikan pengaruh positif dalam lingkungan sekitar.
“Kegiatannya seru! Kami dapat banyak insight dan informasi dari EB baru. Kami juga belajar tentang branding dan reputasi,” ucap Azriel, salah satu anggota General Board dari AIESEC in UGM ketika ditanyai mengenai bagaimana perasaannya mengikuti kegiatan LCTC.
Menurutnya, pemaparan materi mengenai branding dan reputasi yang dipadukan dengan sesi roleplay menunjukan bahwa AIESEC in UGM sangat terbuka dan berani dalam menghadapi berbagai tantangan serta isu yang ada. Sesi tersebut membantu anggota untuk memahami bagaimana cara membangun citra organisasi yang positif sekaligus menjaga kepercayaan publik.
Ia juga menambahkan bahwa tujuan diadakannya LCTC adalah untuk membekali para anggota baru dengan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai organisasi baik dari struktur, peran, dan tujuan mereka sendiri.
Dengan adanya kegiatan ini diharapkan para anggota tak hanya sekedar memahami tugas namun juga peran dan kontribusi yang dapat dihasilkan terhadap keberlanjutan organisasi. Meski demikian, Azriel turut menyampaikan kritik konstruktif bahwa ia merasa sedikit jenuh karena kegiatan didominasi dengan pemaparan materi seminar.
Harapannya kedepannya akan lebih banyak aktivitas interaktif agar peserta juga tetap dapat terlibat aktif dan dinamis seraya memahami lebih dalam mengenai peran masing-masing.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


