Legenda Landoke dan Tuntula adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Wawonii, Sulawesi Tenggara. Legenda ini berkisah tentang perselisihan antara seekor monyet dan burung yang awalnya saling bersahabat antara satu sama lain.
Bagaimana kisah dari cerita rakyat Wawonii, Sulawesi Tenggara tersebut? Simak cerita dari legenda Landoke dan Tuntula dalam artikel berikut ini.
Legenda Landoke dan Tuntula, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara
Disitat dari buku Cerita Rakyat Wawonii (Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia), dikisahkan Landoke-ndoke merupakan seekor monyet yang dikenal dengan kebodohannya. Sementara itu, Tuntula merupakan seekor burung yang sering mencari makan di daerah kali dan rawa.
Kedua hewan ini sudah bersahabat sejak lama. Bahkan Landoke dan Tuntula tinggal di rumah yang sama.
Suatu hari, kedua sahabat ini pergi ke kali untuk mencari susulaa atau siput kali. Tuntula mencari siput tersebut dengan sangat rajin.
Dalam waktu singkat, Tuntula berhasil mengumpulkan banyak susulaa. Di sisi lain, Landoke hanya bermalas-malasan sambil bermain air saja, sehingga tidak mendapatkan susulaa.
Tuntula kemudian kembali ke rumah lebih cepat. Dia memasak semua susulaa tersebut dan memakannya dengan lahap.
Setelah itu, Tuntula menyusun rapi bekas susulaa tersebut di wadah dan bersembunyi di balik dinding rumahnya. Landoke yang baru saja pulang merasa kegirangan melihat itu.
Landoke mengira sahabatnya sangat menyayangi dirinya. Namun begitu mengambil susulaa tersebut, ternyata semua yang ada di sana sudah habis tak bersisa.
Hal ini membuat Landoke marah. Dia kemudian berkeinginan untuk membalas perbuatan sahabatnya. Ketika melihat sekeliling, Landoke melihat ekor Tuntula dari balik dinding.
Landoke langsung menangkap sahabatnya tersebut dan mencabuti semua bulunya. Tuntula yang berukuran lebih kecil dari Landoke tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah mencabuti semua bulunya, Landoke kemudian melemparkan Tuntula ke sarang semut hitam. Di sana Tuntula berusaha seorang diri agar tidak habis digigit oleh semut-semut hitam.
Perlakuan Landoke ini ternyata meninggalkan dendam yang mendalam di diri Tuntula. Dia bertekad untuk membalas perbuatan monyet tersebut.
Beberapa waktu berlalu, bulu-bulu Tuntula mulai tumbuh kembali. Dirinya kemudian menemui Tambao (Bangau) dan Wola (Tikus) untuk meminta bantuan membalaskan perbuatan Landoke sebelumnya.
Ketiga sahabat ini kemudian menyusun rencana yang akan dijalankan. Setelah semua sepakat, Tuntula kemudian pergi menemui Landoke.
Landoke terkejut melihat kedatangan Tuntula. Dia mengira Tuntula sudah mati dimakan semut-semut hitam sebelumnya.
Tanpa rasa bersalah, Landoke bertanya maksud kedatangan Tuntula. Tuntula kemudian menjawab jika dia hendak mengajak Landoke menuju Pulau Kupu-Kupu.
Landoke merasa senang dengan ajakan itu. Dirinya kemudian mengikuti Tuntula ke perahu yang sudah disiapkan oleh Tambao dan Wola.
Pelayaran keempat hewan ini pun dimulai. Tambao sebagai nahkoda mengarahkan kapal menuju Pulau Kupu-Kupu.
Di tengah perjalanan, angin laut tiba-tiba hilang begitu saja. Tuntula kemudian berkata pada Tambao agar menyanyikan lagu pemanggil angin.
Tambao kemudian mulai bernyanyi dengan lantang. Namun hal ini sebenarnya akal-akalan ketiga sahabat tersebut.
Pada setiap liriknya, Tambao menghadap ke bawah dan mematuk dasar perahu secara perlahan. Lama kelamaan perahu tersebut berlubang dan mulai kemasukan air.
Tambao dan Tuntula langsung terbang begitu saja. Sementara itu, Wola sudah masuk ke dalam sebuah bambu dan mengapung di lautan.
Landoke yang tidak menduga hal ini hanya bisa panik begitu saja, Akhirnya dia menerima ganjaran atas perbuatannya dan tenggelam bersama perahu tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


