kepuhunan mitos wajib menyantap makanan dan minuman di kalimantan - News | Good News From Indonesia 2026

Kepuhunan, Mitos "Wajib" Menyantap Makanan dan Minuman di Kalimantan

Kepuhunan, Mitos "Wajib" Menyantap Makanan dan Minuman di Kalimantan
images info

Kepuhunan, Mitos "Wajib" Menyantap Makanan dan Minuman di Kalimantan


“Ayo nyicip dulu. Kalau kada, kaina kepuhunan.”
(Arti: Ayo nyicip dulu, kalau tidak, nanti kepuhunan.)

Itulah kalimat yang mungkin Kawan GNFI akan dengar ketika berkunjung ke rumah orang Kalimantan. Namun, apa sebenarnya “Kepuhunan” itu?

Kepuhunan, Mitos di Tanah Kalimantan

Kepuhunan merupakan mitos yang mengakar kuat di tanah Kalimantan. Masyarakat di Kalimantan Timur, Selatan, Tengah, dan Utara umumnya menyebut hal ini dengan sebutan “Kapuhunan atau Kepuhunan” (bahasa Banjar). Sedangkan, Masyarakat Kalimantan Barat menyebutnya “Kemponan atau Kempunan" (bahasa Melayu).

baca juga

Asal-Usul Kepuhunan

Kata kepuhunan sendiri berasal dari akar kata “Pohon”. Hal ini yang merujuk pada hal-hal supranatural, yaitu seseorang mengalami gangguan atau kerasukan makhluk halus penunggu pohon yang membuat orang tersebut bertingkah tidak wajar.

Namun, dalam perjalanan sejarah kepercayaan ini, terjadi pergeseran makna. Kepuhunan menjadi lebih dikaitkan dengan kesialan atau malapetaka yang akan menimpa seseorang jika tidak menyantap atau mencicipi makanan atau minuman yang disajikan atau ditawarkan.

Terlebih lagi, apabila orang tersebut sebenarnya menginginkan makanan atau minuman tersebut.

Selain itu, kepuhunan dapat diartikan sebagai kesialan atau malapetaka yang akan terjadi ketika seseorang ingin makan atau minum sesuatu, tetapi tidak sempat melakukannya sebelum pergi. Kesialan atau malapetaka yang terjadi dapat berupa jatuh, kecelakaan, tersandung, dan lain sebagainya. 

Untuk makanan dan minuman, sebenarnya berlaku pada semua makanan dan minuman yang ditawarkan. Namun, terdapat beberapa makanan dan minuman yang dianggap “sakral” alias wajib dicicipi, seperti nasi, kopi, pulut (ketan), nasi kuning, dan wadi (ikan fermentasi).

Cara-Cara Menghindari Kepuhunan

Apabila seseorang telah kenyang, tetapi hendak menghindari kepuhunan, maka dapat melakukan salah satu dari beberapa cara berikut ini:

1. Mencicipi sedikit makanan atau minuman yang ditawarkan (bejapai),
2. Menyentuh makanan atau minuman, lalu meletakkan jari di lidah atau di leher,
3. Menyentuh wadah makanan atau minuman (pinggir piring, mangkok, atau gelas),
4. Menyentuh makanan atau minuman sambil mengucapkan “Puse-puse” atau “Sapulun” (Menghormati tanpa mengonsumsi), atau
5. Menutup gelas dengan sejumlah uang (simbol penghormatan walaupun tidak ikut menyicipi).

Cara-cara itu bertujuan untuk menunjukkan bahwa seseorang tetap menghargai pemberian pemilik rumah atau orang yang menawarkan makanan atau minuman.

Praktik dan Makna Kepuhunan di Masa Kini

Mitos ini diadopsi oleh berbagai kalangan, dari orang-orang tua, anak muda, hingga pendatang yang tinggal di Kalimantan. Cerita dari mulut ke mulut yang diperkuat dengan pengalaman pribadi menjadi alasan kepuhunan masih dipercaya oleh sejumlah masyarakat Kalimantan hingga saat ini.

Oleh karena mitos ini cukup mengakar di Kalimantan, tidak jarang masyarakat Kalimantan yang merasa cemas, takut, dan was-was ketika bepergian tanpa mencicipi makanan atau minuman yang ditawarkan. Bahkan, kepercayaan ini masih dibawa oleh beberapa masyarakat Kalimantan ketika sedang berada di luar Kalimantan.

Di sisi lain, kepuhunan mengajarkan sikap menghormati orang lain, menghargai pemberian orang lain, serta menjadi pengingat untuk berhati-hati dalam bertindak, terutama saat bepergian. Selain itu, kepuhunan juga mendorong untuk jujur mengutarakan keinginan, misalnya ingin mencicipi suatu makanan atau minuman.

Meskipun kepuhunan telah lama melekat dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Kalimantan, tetapi sebagian masyarakat hanya melihat kepercayaan ini sebagai simbol. Misalnya, dengan menyakini bahwa hal-hal yang terjadi sebagai bagian dari kehendak Tuhan atau dapat dijelaskan secara rasional.

baca juga

Percaya atau tidak pada suatu mitos merupakan suatu pilihan, tetapi nilai baik yang diwariskan di dalamnya tetap relevan untuk kita jaga dan lestarikan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.