museum metaverse bahtera digital penyelamat sejarah di era modern - News | Good News From Indonesia 2026

Museum Metaverse: Bahtera Digital Penyelamat Sejarah di Era Modern

Museum Metaverse: Bahtera Digital Penyelamat Sejarah di Era Modern
images info

Museum Metaverse: Bahtera Digital Penyelamat Sejarah di Era Modern


Kawan GNFI, pernahkah membayangkan sebuah skenario buruk tentang cagar budaya yang dibanggakan? Bayangkan suatu pagi saat terbangun dan mendengar kabar bahwa salah satu museum kebanggaan nasional hangus terbakar.

Koleksi arca yang berusia ratusan tahun hancur, naskah kuno menjadi abu, dan jejak peradaban leluhur lenyap tak berbekas dalam semalam. Sayangnya, mimpi buruk itu pernah menjadi kenyataan. Kebakaran yang melanda Museum Nasional Indonesia (MNI) pada September 2023 menjadi tamparan keras bagi dunia pelestarian budaya zaman sekarang. Peristiwa tersebut menyadarkan banyak pihak bahwa artefak fisik, sekuat apa pun materialnya, tetap memiliki kerentanan terhadap bencana.

Di tengah situasi sekarang, muncul sebuah gagasan yang tampak terdengar futuristik namun mendesak yang bernama Museum Metaverse. Bagi sebagian orang, istilah Metaverse tampak terdengar seperti mainan mahal para spekulan aset digital atau sekadar tren gaya-gayaan.

Ada anggapan bahwa digitalisasi budaya hanyalah ilusi kepemilikan dengan menjual gambar piksel di layar tanpa bisa menyentuh fisiknya. Namun, mari saatnya ubah perspektifnya. Di tangan pelestari budaya, teknologi tersebut bukan soal komersialisasi, melainkan soal misi penyelamatan.

Metaverse sejatinya merupakan Bahtera Nuh versi digital. Jika bahtera Nabi Nuh dibuat untuk menyelamatkan makhluk hidup dari banjir bandang, maka Museum Metaverse diciptakan untuk menyelamatkan data peradaban dari ancaman kepunahan fisik.

Digitalisasi sebagai Asuransi Peradaban

Ilustrasi makna digitalisasi sebagai asuransi peradaban
info gambar

Ilustrasi makna digitalisasi sebagai asuransi peradaban


Konsep Digital Twin atau kembaran digital kini menjadi standar baru dalam konservasi modern. Kawan GNFI bisa membayangkan, jika Candi Borobudur memiliki kembaran digital yang presisi sampai ke pori-pori batunya, maka negara Indonesia memiliki cadangan data yang abadi.

Langkah progresif tersebut sudah mulai terlihat di Indonesia. BINUS University misalnya, berkolaborasi dengan industri teknologi untuk menghadirkan Metaverse Borobudur. Inovasi yang digagas oleh Siti Elda Hierera tersebut bukan sekadar gim virtual untuk bersenang-senang. Hal tersebut menjadi upaya memindahkan pengalaman spasial dan data visual candi ke dalam ruang digital yang imersif.

Dengan teknologi Virtual Reality (VR), generasi muda khususnya Gen Z yang sudah mulai berjarak dengan sejarah bisa masuk dan menyusuri lorong-lorong candi tanpa harus terbang ke Magelang. Namun lebih dari itu, fungsi utamanya yaitu untuk pengarsipan.

Jika amit-amit terjadi bencana alam yang merusak struktur fisik candi, maka data digital yang tersimpan di Metaverse bisa menjadi rujukan utama untuk restorasi atau rekonstruksi di masa depan.

Hal tersebut bukan tentang menggantikan pengalaman fisik berkunjung ke museum. Sensasi menyentuh dinding batu candi tentu tak tergantikan. Namun, Metaverse hadir sebagai jaring pengaman. Dari situlah bisa dipastikan bahwa cerita dan wujud artefak tersebut tidak akan pernah benar-benar hilang dari muka bumi, apa pun yang terjadi pada fisiknya.

Tantangan Museum Daerah di Era Layar Sentuh

Ilustrasi Museum Digital di Era Modern
info gambar

Ilustrasi Museum Digital di Era Modern


Transformasi tersebut juga menjadi angin segar bagi museum-museum daerah yang sampai sekarang masih sepi pengunjung. Mengutip tulisan Atthoriq Chairul Hakim tentang Museum Adityawarman di Sumatera Barat, tantangan terbesar museum zaman sekarang yaitu relevansi. Bagaimana membuat koleksi etnografi Minangkabau yang statis di dalam vitrin kaca menjadi menarik bagi anak muda yang hidup di era TikTok?

Jawabannya yaitu untuk memperluas ruang pamer dari fisik ke virtual. Museum tidak lagi dibatasi oleh tembok gedung. Dengan digitalisasi, koleksi senjata tradisional atau naskah kuno bisa diakses oleh siapa saja dan dari mana saja. Seorang mahasiswa di Papua bisa mempelajari detail Rumah Gadang secara 3D tanpa harus menyeberangi pulau.

Konsep Living Heritage menjadi kunci. Warisan budaya itu hidup jika terus dibicarakan dan dimaknai ulang. Di ruang digital, artefak tak hanya diam. Hal tersebut bisa diberi narasi, suara, bahkan dihidupkan kembali konteks penggunaannya lewat animasi.

Sebuah keris di dalam etalase museum hanya terlihat sebagai benda tajam berkarat. Namun di dalam Metaverse, keris itu bisa ditampilkan lengkap dengan simulasi upacara adatnya, menjelaskan makna pamornya, sampai filosofi pembuatannya.

Mengubah Ilusi Menjadi Edukasi

Tentu saja, perjalanan menuju ekosistem museum digital tersebut tidak mulus. Ada tantangan soal hak cipta, etika representasi budaya, sampai biaya infrastruktur yang mahal. Ada kekhawatiran bahwa budaya akan kehilangan nilai sakralnya jika didigitalkan secara sembarangan.

Dengan demikian, prinsip Digital Humanities harus dipegang teguh. Digitalisasi bukan sekadar scan benda lalu unggah ke internet. Harus ada riset mendalam, kurasi yang melibatkan tetua adat atau komunitas pemilik budaya, serta narasi yang akuntabel. Tujuannya agar artefak digital tersebut tidak menjadi objek eksotis semata, melainkan tetap membawa jiwa dan nilai aslinya.

Kawan GNFI, mari sambut era modern dengan optimisme. Museum Metaverse bukanlah pengganti museum fisik, melainkan pelengkap yang menyempurnakan. Hal tersebut merupakan benteng pertahanan terakhir dalam melawan lupa dan bencana.

Mulai sekarang, mari dukung setiap inisiatif digitalisasi budaya. Kunjungi pameran virtual, apresiasi karya anak bangsa yang menggabungkan koding dengan budaya sehingga bisa menyebarkan semangat bahwa teknologi merupakan sahabat sejarah.

Dikarenakan di masa depan, cara terbaik untuk merawat masa lalu yaitu dengan mengamankannya di dalam kode-kode digital yang abadi. Mari jadikan teknologi sebagai bahtera penyelamat identitas bangsa Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.