tio tek hong toserba pertama di hindia belanda yang mendahului era sarinah - News | Good News From Indonesia 2026

Tio Tek Hong: Toserba Pertama di Hindia Belanda yang Mendahului Era Sarinah

Tio Tek Hong: Toserba Pertama di Hindia Belanda yang Mendahului Era Sarinah
images info

Tio Tek Hong: Toserba Pertama di Hindia Belanda yang Mendahului Era Sarinah


Ternyata sebelum Sarinah, Toko Tio Tek Hong adalah toserba pertama yang berdiri di Hindia Belanda. Toko yang berlokasi di Pasar Baru, Jakarta Pusat ini berdiri pada tahun 1902.

Pusat perbelanjaan ini dibangun oleh anak dari seorang pengusaha sukses Tionghoa di Batavia yang bernama Tio Tek Hong. Dirinya mewarisi darah pengusaha dari sang ayah.

Karena berasal dari keluarga kaya, Tio Tek Hong bisa bersekolah di Europese Lagere School di Schoolweg (ELS). Padahal, sekolah ini jadi tempat pendidikan ekslusif kalangan Eropa karena biayanya yang sangat mahal kala itu.

Dari sana, ia hanya menjalankan sekolah selama dua tahun setelah kemudian memilih untuk menikah dengan seorang gadis asal Sukabumi, Jawa Barat. Sejak itu, dirinya mulai dikenalkan dengan pengusaha senapan dan memulai usahanya dengan mendirikan toko.

Toko Tio Tek Hong terus berkembang pesat. Pada dekade 1910-an, Tio Tek Hong membeli lahan di samping toko ini yang kemudian ulang toko ini.

Pada tahun 1927, toko ini merayakan hari jadinya yang ke-25. Koran Nieuws van den Dag Voor Nederlandsch-Indie pun menyatakan kekagumannya atas pusat perbelanjaan tersebut.

“Toko ini adalah yang pertama untuk memiliki ruang ritel yang modern dan besar, berbeda dengan kedai dan kios pasar; pembukaan toko ini pun menjadi bagian dari sejarah ibu kota. Apa yang Tio Tek Hong sediakan untuk masyarakat Batavia tempo doeloe dapat dilihat dari fakta bahwa mereka biasa mengatakan: 'Jika tidak tersedia di Tio Tek Hong, maka tidak perlu mencarinya di toko lain. Anda tidak akan dapat menemukannya di toko lain."

Menjual beraneka barang

Toko ini adalah salah satu toserba modern pertama di Indonesia. Toko ini menjual berbagai macam barang dengan label harga, sehingga harganya tidak dapat ditawar, sebuah praktik yang tidak biasa pada saat itu.

Dahulu ada banyak barang yang dijual di sini, mulai dari bahan makanan, kebutuhan sehari-hari sampai perkakas dan senjata. Banyak kalangan elit yang berbelanja di sini, karena isinya cukup lengkap dan penataannya yang disesuaikan.

Bangunannya juga terbilang megah, dengan struktur dua lantai dan ornamen khas zaman klasik di masa silam. Hal ini agar memudahkan barang-barang yang dijual dalam bentuk banyak.

Tio Tek Hong mencoba menjawab kebutuhan warga di kawasan Pasar Baru yang saat itu masuk daerah bisnis golongan Eropa. Sehingga orang Eropa tertarik untuk berbelanja ke tempat ini.

Tio Tek Hong juga dikenal sebagai penjual plaatgramofoon yang saat itu masih menggunakan rol lilin. Kecintaannya pada lagu-lagu melayu dan keroncong, menyebabkan dirinya menjadi penjual alat-alatmusik dan plaatgramofoon yang sangat terkenal di Hindia Belanda.

Hal ini senada dengan tulisan dari H. C. C. Clockener Brousson yang mengatakan bahwa toko Tio Tek Hong memiliki banyak pelanggan. Bahkan di toko ini tempat pertama kali lagu Indonesia Raya direkam.

Pada masa Perang Dunia I (1914-1918) yang banyak memakan korban baik secara moril maupun materil, Tio Tek Hong justru memasuki masa keemasan sebagai seorang pengusaha. Apalagi bisnis senjata api yang banyak dicari orang.

Mengalami kemunduran

Tetapi, pasca Perang Dunia I tepatnya pada masa malaise membuat usahanya mengalami kemunduran. Puncak dari kemunduran ini adalah ketika kekuasaan Hindia Belanda berakhir.

Seluruh senjata yang diperdagangkan oleh Tio Tek Hong disita secara paksa oleh pemerintah Hindia Belanda tanpa alasan yang jelas. keluarga Tio juga meminjam uang untuk melakukan investasi properti dan terdampak parah oleh depresi besar pada awal dekade 1930-an.

Walaupun begitu, toko ini berhasil bertahan kemungkinan hingga dekade 1950-an, tetapi dengan skala yang lebih kecil. Memasuki usia senja, Tio Tek Hong menghabiskan waktunya sebagai pengurus Tionghoa Hwee Koan, dan aktif menyalurkan hobinya, yaitu bersepeda.

Sampai sekarang, sisa kejayaannya masih bisa disaksikan melalui bangunan tua berkonsep art deco yang saat ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.