the dancingaze - News | Good News From Indonesia 2026

The Dancin’Gaze, Upaya Pertemukan Koreografer dan Fotografer dalam Ruang yang Setara

The Dancin’Gaze, Upaya Pertemukan Koreografer dan Fotografer dalam Ruang yang Setara
images info

The Dancin’Gaze, Upaya Pertemukan Koreografer dan Fotografer dalam Ruang yang Setara


Upaya-upaya kolaborasi dalam ranah seni, dalam merespon dan ruang gerak para kreator hingga kini masih terus menjadi gaung. Peran yang saling sahut dari seniman, manajemen seni, ruang kreatif publik menjadi suatu sinergi yang belum padam. 

Dalam ekosistem seni, kolaborasi seringkali menempatkan satu disiplin sebagai pendukung disiplin lainnya.

Namun, sebuah inisiatif baru bertajuk The Dancin’Gaze mencoba mendobrak batasan tersebut. Diselenggarakan pada 30 Januari 2026 di Bolo Space, Yogyakarta, program ini menjadi wahana perjumpaan yang setara antara tubuh yang bergerak dan mata yang mengamati.

Diinisiasi oleh Studio Lanjut, The Dancin’Gaze adalah sebuah wahana perjumpaan antara tubuh yang bergerak dan mata yang mengamati. Di sini, gerakan tidak dikejar, tetapi dihadirkan dengan waktu, perhatian, dan kondisi yang memungkinkan tubuh berbicara apa adanya.

The Dancin’Gaze bukan sekadar sesi pemotretan biasa. Ini adalah ruang di mana gerak tidak "dikejar" oleh lensa, melainkan dihadirkan melalui waktu, perhatian, dan kondisi yang memungkinkan tubuh berbicara apa adanya. Acara ini didukung oleh Surakartans Lighting Club dan Dance Photography.

baca juga

Sesi ini menghadirkan penari, koreografer dan seniman yang multidisiplin, yakni Sekar Tri Kusuma, berkolaborasi dengan Lighting Designer dari Surakartans Lighting Kleb, serta Sound Scape Musik dari Gardika Gigih.

Sinergi Multidisiplin di "Kamar Dengar" Bolo Space

Di dalam ruangan dengan ukuran 5x3m di Bolo Space yang dinamakan “Kamar Dengar”, tempat yang digunakan untuk mendengar musik dan cerita ini direspon oleh semua yang terlibat.

Dalam sesi selama 30 menit tersebut, Sekar Tri Kusuma menawarkan eksplorasi yang tidak biasa. Ia mengajak fotografer tidak hanya memotret bagian depan tubuh, tetapi juga mengeksplorasi bagian belakang sebagai bentuk pemaknaan terhadap proses berpikir dan kerentanan manusia.

Bagian yang seringkali ia tutup-tutupi kini menjadi medium untuk mencoba dibuatkan panggung. Gerak-gerak kecil, yang berjalan pelan, dinamis, responsif, menyatu dalam cahaya, alunan musik, dan ditangkap oleh mata para fotografer. Para fotografer merekam momentum seumur hidup tersebut dalam beberapa detik. 

Lebih dari sekadar memproduksi citra visual, praktik The Dancin’Gaze menjadi praktik penting dalam menciptakan dialog antardisiplin. Di dalam ruang yang terbatas tersebut, terjadi percakapan non-verbal yang intens antara:

• Koreografer yang menawarkan narasi melalui gestur.

• Penata cahaya yang memberi aksentuasi pada emosi gerak.

• Fotografer yang menentukan sudut pandang dan menangkap esensi waktu.

baca juga

Ketiganya tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Penata cahaya tidak hanya menerangi panggung, tetapi merespons bagaimana lensa fotografer menangkap bayangan.

Begitu pula fotografer, mereka tidak sekadar memotret objek, melainkan menginterpretasikan ide koreografer melalui komposisi.

Sinergi ini membuktikan bahwa ketika ego sektoral dilepaskan, ruang seni menjadi laboratorium eksperimen yang jauh lebih kaya dan bermakna.

Sesi Dialog dan Berbagi Pengalaman

Setelah sesi 30 menit di dalam Kamar Dengar, peserta yang terlibat berpindah ke area Belakang Bolo Space sembari bercengkrama tentang Menghapus Hierarki dalam Karya. fotografer seringkali hanya dilibatkan di tahap akhir sebuah pertunjukan untuk mendokumentasikan hasil yang sudah matang. The Dancin’Gaze merespons pola tersebut dengan melibatkan fotografer sejak awal proses kreatif.

Salah satu peserta, aku.io, mengaku ini adalah pengalaman pertamanya memotret subjek manusia setelah biasanya hanya memotret objek lain yang tidak bergerak. Baginya, memotret tarian dalam jarak dekat di ruang terbatas adalah sebuah pertunjukan performatif tersendiri.

Senada dengan itu, Inas, seorang fotografer dengan pengalaman 8 tahun di ranah tari, mengakui bahwa terminologi Dance Photography masih terasa awam di Indonesia dibandingkan dengan fotografi panggung umum.

Praktik ini sebenarnya sedang membangun sebuah ekosistem, bukan sekadar event yang terselenggara sehari lalu selesai.

Dalam agenda pertama acara ini, dihadiri pula oleh seniman maestro tari Sardono W. Kusumo, yang menyempatkan hadir di Bolo Space, Kotabaru, Yogyakarta untuk turut mengapresiasi The Dancin’Gaze.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.