Kawan GNFI, ketika kita berbicara tentang toleransi, seringkali istilah tersebut terdengar abstrak dan teori. Namun, di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Sumba Timur, konsep itu telah menjadi realitas yang hidup dan dijalani setiap hari oleh murid-muridnya.
Madrasah yang terletak di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini menjadi contoh bagaimana pendidikan inklusif dan multikultural dapat tumbuh dalam ruang sekolah dasar.
Berdasarkan data tahun 2025 dari Kemenag NTT Kabupaten Sumba Timur, dari total sekitar 217 peserta didik, sebanyak 57 siswa beragama Kristen Protestan dan Katolik belajar dan tumbuh bersama siswa Muslim di lingkungan yang sama.
Rinciannya adalah 34 siswa Kristen dan 23 siswa Katolik. Keberagaman agama ini bukan sekadar angka, tetapi menjadi bagian alami dari proses pembelajaran yang memupuk rasa saling menghormati dan kebersamaan sejak dini.
Bahasa yang Menguatkan: “Anak-Anak Multikultural”
Salah satu pendekatan yang unik dan menjadi sorotan dari praktik toleransi di MIN 3 Sumba Timur adalah cara mereka menyebut murid yang beragama Kristen dan Katolik.
Kepala Madrasah, Siti Aminah, menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah menyebut murid tersebut sebagai “non-Muslim”. Istilah itu dianggap kurang tepat karena berfokus pada perbedaan, bukan kesetaraan.
“Kami tidak pernah menyebut mereka sebagai non-Muslim. Kami memilih menyebut mereka sebagai anak-anak multikultural. Karena sejak awal, mereka adalah bagian utuh dari keluarga besar madrasah ini,” ujar Siti Aminah dikutip dari sajada.id.
Pilihan istilah “anak-anak multikultural” ini mencerminkan bahwa sekolah secara sadar menghargai identitas setiap murid tanpa melabeli mereka berdasarkan agama tertentu.
Dengan cara ini, MIN 3 Sumba Timur berupaya menciptakan ruang belajar yang nyaman, setara, dan bebas dari distingsi sosial yang bisa membatasi hubungan sosial murid-muridnya.
Menjamin Hak Pendidikan Agama Setiap Murid
Penerimaan murid dari berbagai latar belakang agama di madrasah ini tidak sekadar memberi ruang belajar bersama di kelas umum. MIN 3 Sumba Timur juga menghadirkan pendampingan agama yang sesuai dengan keyakinan setiap murid.
Untuk itu, madrasah bermitra dengan penyuluh agama Kristen dan Katolik agar murid yang beragama non-Islam tetap menerima pembelajaran agama yang sesuai dengan keyakinannya.
Pendampingan ini bukan hanya formalitas administratif. Kegiatan ini dilakukan melalui sesi bimbingan rohani, diskusi agama, serta internalisasi nilai-nilai moderasi beragama yang mencakup komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi lokal.
Menurut salah satu pendamping, Febe Apriani Dubu, pendidikan toleransi harus dimulai sejak dini. Sebab, generasi muda yang terbiasa hidup berdampingan sejak kecil akan tumbuh menjadi individu yang menghargai perbedaan dan menjaga persatuan di masa depan.
Kegiatan Bersama yang Memperkuat Nilai Kebersamaan
Selain pembelajaran akademis, MIN 3 Sumba Timur juga menanamkan nilai toleransi lewat berbagai aktivitas bersama seperti Gerakan Pramuka, kegiatan seni, serta kerja kelompok lintas kelas.
Kegiatan seperti ini tidak melihat jenis agama apa yang dianut murid, tetapi mengajak semua murid bekerja bersama, saling mendukung, dan menghargai proses belajar kolektif.
Nilai-nilai seperti kerja sama, empati, saling menghormati, dan gotong royong diperkuat melalui program-program tersebut. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk bersatu, tetapi menjadi landasan kuat untuk tumbuh bersama secara harmonis — suatu pengalaman yang jarang terlihat di lingkungan sekolah dasar lainnya.
Respon Positif dari Pihak Berwenang
Praktik toleransi yang terimplementasi di MIN 3 Sumba Timur mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, termasuk dari Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kariyanto. Ia menyatakan bahwa apa yang dilakukan sekolah ini merupakan “praktik nyata moderasi beragama, bukan sekadar konsep teori”.
Menurutnya, pengalaman di madrasah ini menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan positif dalam membangun karakter peserta didik yang saling menghormati dan memahami perbedaan, bukan menjadi sumber konflik atau perpecahan sosial.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Walaupun praktik toleransi telah tumbuh kuat di MIN 3 Sumba Timur, tantangan tentu tetap ada. Kebutuhan untuk terus memupuk dialog antaragama yang sehat, memperkaya kegiatan lintas budaya, dan memfasilitasi ruang diskusi yang lebih luas menjadi hal-hal yang perlu terus diperhatikan.
Kawan GNFI perlu memahami bahwa prinsip toleransi tidak berhenti pada penerimaan saja, tetapi harus terus dipupuk lewat proses pendidikan formal dan non-formal.
Lebih jauh lagi, pengalaman MIN 3 Sumba Timur bisa menjadi model pembelajaran penting bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia.
Di tengah masyarakat yang semakin majemuk, pengalaman nyata seperti ini memberikan bukti bahwa pendidikan dapat menjadi wadah kuat untuk membentuk generasi yang menghormati perbedaan, bangga akan identitas sendiri, dan tetap terbuka terhadap keragaman orang lain.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


